Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Resepsi Sederhana


__ADS_3

Dimas menjemput Larasati di toko bunga untuk menghadiri acara pernikahan Lily dan Anggara. Sedangkan Dimas sekarang sudah tinggal dirumah Oma Astuti, Oma Astuti melarang Dimas untuk tinggal di kontrakan atau ngekos sendiri.


Disamping toko bunga ada lorong kecil jalan menuju rumah belakang, nah disitulah para karyawan tinggal. Di rumah belakang yang ada di toko bunga juga ada taman bunganya sendiri, ada rumah kaca untuk merawat beberapa tanaman bunga yang dijual di toko Pak Maulana suami Bu Melati pemilik toko bunga.


Di toko bunga.


"Wah.....!!! Mbak Laras cantik banget, habis dandan dari mana mbak." Puji Gandari kagum melihat penampilan Larasati yang terlihat anggun bak putri.


"Tadi dari salon, soalnya kan kalian tau sendiri kalo aku gak bisa dandan." Larasati memang habis dari salon bersama Wulan. Hanya saja Wulan harus datang lebih dulu ke acara sahabatnya itu.


"Mbak Laras mau ke sana bareng naik apa?" Tanya Tati.


"Nanti mau dijemput sama Dimas sepupu saya." Ucapnya.


"Itu mobil siapa berhenti didepan." Gandari menengadahkan kepalanya ke arah mobil mewah yang berhenti didepan toko bunga .


"Itu sepertinya adik sepupu saya sudah datang." Ucap Larasati menyelempangkan tas kecil yang kemarin dia beli dan membawa bingkisan kado.


"Dia bukannya temen Susan ya." Gandari menunjuk ke arah Dimas.


"Iya mbak, mereka memang teman sebaya dan kuliah di kampus yang sama cuman beda jurusan."


"OOO....pantesan!!" Ujarnya.


"Ya udah kalo gitu saya pergi dulu ya semuanya." Larasati berpamitan dengan yang lain.


"Iya mbak, hati-hati ya." Ucap mereka bersamaan.


Larasati pun melangkah pergi menuju Dimas yang turun dari mobil menjemputnya, Dimas mengendarai salah satu mobil Oma Astuti dengan supir tentunya Pak Epi.


"Ihhhhhh, ganteng ya." Celoteh Gandari.


"Ssttttt!!!! Dia masih kuliah, lebih muda dari kita." Ucap Dewi datar.


"Kan aku cuman muji doang kalo dia ganteng." Ucap Gandari.


"Hem." Dewi pun melangkah pergi ke kamarnya.


Sedangkan Tati dan Gandari masih duduk didepan rumah sambil memakan cemilan dan asyik memainkan ponsel mereka masing-masing.


Keluarga besar Lily dan Anggara melanggar acara pernikahan dan resepsi sekaligus yang sederhana dikediaman paman Lily , hanya kerabat dan tetangga sekitar yang diundang. Larasati dan Dimas mewakili pak lek dan Bu leknya menghadiri acara resepsi itu. Wulan didampingi Raka dan Omanya juga juga datang.


Larasati mengenakan gaun bermodel sederhana tapi tetap anggun. Sedangkan Wulan menggunakan gaun yang dipersiapkan oleh Lily untuk sahabat-sahabatnya kenakan supaya senada dan seragam walaupun beda desain.


Acaranya sangat tenang namun suasananya cukup meriah.


Raka yang berdiri disebelah Oma sedari tadi pandangannya terus menuju Larasati. Sedangkan Wulan tengah sibuk membantu menyambut tamu yang datang.


Dua sepupu Lily juga terlihat gagah mengenakan stelan jas yang senada dengan pager ayu.


Dimas dan Larasati berjalan ke arah pelaminan menuju pengantin (Lily dan Anggara). Larasati memberi ucapan selamat ke Lily dan menaruh kado di Meja samping yang sudah disediakan untuk meletakkan hadiah-hadiah yang dibawa para undangan yang datang.


"Hati-hati mbak!" Dimas menuntun Larasati menaiki tangga panggung resepsi.

__ADS_1


"Iya." Larasati melangkah pelan memegangi tangan Dimas.


"Selamat ya mbak." Ucap Larasati cipika-cipiki ke pipi Lily, terpancar kebahagiaan dari senyum Lily membuat Larasati terharu. Membuat hatinya sedikit nyeri jika membayangkan pernikahannya nanti dengan Raka.


"Makasih ya mbak sudah datang." Ucap Lily.


"Selamat ya mas." Larasati hanya menjabat tangan Anggara.


"Iya mbak Laras terimakasih." Ucapnya.


"Wah, pengantin baru nih. Selamat ya mbak Lily." Goda Dimas.


"Kamu bisa aja Dim, bukannya mbak Laras juga bakalan nyusul." Lily juga menggodanya balik.


"Maaf ya mbak, ibu sama bapak gak bisa hadir. Kemarin saya sudah antar pulang kampung." Dimas mengucapkan permintaan maaf karena ibu bapaknya tidak bisa hadir.


"Gak apa-apa, yang penting kan kamu udah disini." Ujarnya.


"Selamat ya mas, jangan lupa bulan madunya." Dimas memeluk Anggara dan menggodanya membuat kedua pipi Lily seketika memerah karena malu, Anggara pun menepuk pundak Dimas.


"Kamu ini, masih kecil. Kuliah yang bener dulu." Tegur Anggara.


"Ish...." Desisnya. "Gitu aja kok malu." Timpalnya lagi.


"Dimas-Dimas!!!!" Larasati menggelengkan kepalanya melihat keusilan adiknya itu.


Sebelum turun dari panggung Dimas juga sengaja membisikkan kalimat "jangan lupa mas, belah durennya pelan-pelan." Ditelinga Anggara terdengar oleh Lily.


"Heh!!!!! Udah sana turun!" Teriak Lily kesal dan mengusir Dimas.


"Mbak Laras, Dimas ke sana sebentar ya." Menunjuk ke arah Wulan dan dua sepupu Lily (Firman dan Zaki)


"Iya."


"Mbak kalo mau makan ambil aja di sebelah sana." Tunjuknya ke arah meja prasmanan.


"Hem." Larasati hanya menganggukkan kepalanya.


"Ternyata dia kalo dandan sedikit kelihatan lumayan cantik juga." Batin Raka tersenyum melihat Larasati.


"Kamu dari tadi ngelihatin apa?" Terciduk Oma, Oma tau dari tadi cucunya itu memerhatikan Larasati.


"Tumben senyum-senyum gitu, Oma baru tau kalo kamu ternyata bisa senyum juga." Timpalnya menggoda cucu laki-laki itu.


"Sepertinya cucuku ini mulai ada perasaan sama Laras, syukurlah kalo begitu." Batin Oma Astuti mengelus dadanya.


"Hem. Gak lihat apa-apa Oma...."Langsung saja Raka mengubah raut wajahnya yang tadi tersenyum melihat Larasati langsung memasang wajah datar.


"Ya sudah Oma ke sana dulu, Oma belum ngucapin selamat untuk Lily sama Anggara." Oma pun pergi meninggalkan Raka sendirian.


Beberapa menit setelah Oma pergi, Raka pun menghampiri Larasati yang tengah memilih makanan di meja prasmanan. Disediakan banyak makanan beraneka ragam rendang, Kentucky, mie goreng Jawa, bakso, soto dan lain-lainnya.


"Seperti anak kecil." Raka yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya membuat Larasati kaget. Sekilas Larasati memalingkan kepalanya ke arah Raka berdiri tapi Larasati bertingkat cuek acuh tak acuh. Tetap fokus memilih makanan, karena dia tau jika dia meladeni ucapan Raka. Tidak ada habisnya.

__ADS_1


Raka merasa sedikit jengkel melihat Larasati yang tidak mempedulikannya. "Perempuan ini!!!!" Batinnya melirik tajam Larasati.


"ih ganggu aja, gak bisa apa pergi aja sana. Orang lagi mau makan juga gak bisa tenang." gumamnya melirik kearah Raka sekilas, Larasati takut jika Raka tau dia sedang menggunjingnya dalam hati.


Sedangkan Dimas sendiri tengah memberi perhatian ke Wulan tanpa Wulan sadari, dia berfikir bahwa Dimas mungkin menganggapnya seperti Larasati seperti kakaknya sendiri.


"Mbak Wulan pasti capek kan berdiri, ini duduk dulu. Minum dulu." Ucap Dimas membawa kursi dan air untuk Wulan.


"Ihhhhhh perhatian banget sih gantengku yang satu ini." Godanya seperti biasa sambil mencubit pipi Dimas pelan.


"Hem." Dimas hanya tersenyum mendengar ucapan Wulan.


Setelah acara selesai digelar, Oma Astuti dan Wulan mulai beraksi. Oma Astuti mengajak Dimas dan Wulan pulang dengan supir mereka pak Epi. Sedangkan Raka sengaja dipaksa mengantarkan Larasati dengan alasan jika Dimas kan belum punya SIM jadi dia tidak diperbolehkan mengendarai mobil sendiri, dan Dimas juga tinggal dirumah Oma. Jadi lebih baik jika Raka yang mengantarkan Larasati pulang. Mau apa lagi kalo tidak bisa pasrah menerima permintaan Omanya itu, Raka pun mengantarkan Larasati pulang.


"Makasih ya mas sudah nganterin saya pulang." Ucap Larasati.


"Kalo bukan karena Oma yang..!" Ucapan Raka langsung dipotong Larasati.


"Iya saya tau!" Bentaknya langsung pergi meninggalkan Raka.


"Dasar wanita memang aneh." Gumamnya


Raka pun mengendarai mobil menuju kediamannya. Larasati sangat kesal jika mendengar Raka mengatakan sesuatu karena expresi mukanya terlihat dingin dan datar membuatnya jengkel. "Gak ada manis-manisnya jadi orang!! Hem." Gumamnya


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2