
Larasati pun meminta izin keluar untuk membeli makanan untuk Bu leknya, Oma langsung saja memanggil Raka untuk menemani Larasati membeli makanan. Di lorong koridor rumah sakit Larasati berpapasan dengan Arman yang juga datang ke rumah sakit bersama Susan dan pacarnya untuk menjenguk pak lek Larasati. Melihat itu Arman mulai terlihat cemburu dengan kedekatan Larasati dan Raka, Susan yang melihat itu pun langsung mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Bu lek, Laras keluar sebentar ya. Mau beli makan siang dulu buat Bu lek, bu lek belum makan kan dari tadi?" Celetuk Larasati yang baru saja ingat jika Bu leknya lupa belum makan siang.
"Iya sudah, hati-hati. Kamu juga kan belum makan!" Ucap Bu Sumi.
"Kamu mau beli makanan??" Tanya Oma Astuti yang mulai muncul ide jailnya untuk membuat Raka dan Larasati semakin dekat.
"Iya Oma, dari tadi Laras belum makan sama Bu lek. Kelupaan soalnya terlalu fokus nungguin pak lek."
'Ooo...!!! Tunggu sebentar Oma suruh Raka nemenin kamu." Pinta Oma.
"Gak apa-apa Oma gak perlu, Laras bisa beli sendiri. Deket kok, orang cuman di kantin rumah sakit ada di ujung koridor." Tutur Larasati mencoba menolak tawaran Oma Astuti.
"Gak apa-apa, biar Raka nanti bantuin kamu bawa makanannya." Oma mencoba merayu Larasati.
"Ya sudah, biarin aja nak Raka nemenin kamu." Bujuk Bu Sumi.
"Tapi Bu lek!" Keluh Larasati.
"Gak apa-apa to ndhok!" Rayunya.
Oma Astuti pun keluar dan memanggil cucunya yang tengah melihat berkas-berkas dari ponselnya. Meminta dia menemani Larasati membeli makan siang.
"Raka!!!" Panggil Oma.
"Iya Oma, kenapa??" Jawab Raka mendekat ke Oma yang berdiri didepan pintu.
"Kamu temenin Laras beli makan siang ya, kasian kalo dia pergi sendirian nenteng-nenteng makanan." Pinta Oma ke Raka, seolah Raka tau jika Omanya itu sengaja.
"Hem!!" Gumam Raka seperti biasa.
"Ya sudah kalian pergi sana!!" Seolah Oma sedang mengusir mereka dengan lembut.
"Iya Oma, Laras pergi dulu ya. Assallamuallaikum." Larasati berpamitan ke Oma.
"Waallaikumsallam." Ucap Oma dan kembali masuk menemani Bu Sumi.
Raka dan Larasati pun pergi menuju kantin rumah sakit.
"Hem." Raka hanya mengguman, melihat reaksi Raka. Larasati sontak saja berucap.
"Kalo gak ikhlas nemenin mendingan gak perlu, aku bisa pergi sendiri kok." Celetuknya.
"Hem." Raka masih cuek dan dingin.
"Ih...nyebelin banget sih nih orang, diajak ngomong dari tadi cuman ha..Hem..ha..hemm..!!!" Batin Larasati.
Sedangkan didepan rumah sakit Arman, Susan dan Rizky sudah sampai. Arman tadinya ingin menjenguk pak Kasman seorang diri, hanya saja adiknya juga ingin ikut bersama pacarnya. Mereka juga ingin tau kondisi tentang Dimas, mereka takut jika Dimas down dengan kondisi bapaknya.
"Susan, mas Arman!!" Ucap Larasati melihat mereka berjalan kearahnya.
"Mbak Laras mau kemana?" Tanya Susan tersenyum tipis melihat Larasati.
__ADS_1
"Oh..ini mau beli makan siang buat Bu lek." Jawab Larasati.
"Kalian mau jenguk pak lek?" Larasati bertanya balik.
"Iya mbak, aku sama Rizky mau nengok Dimas juga. Dia beberapa hari ini gak masuk kuliah tanpa surat izin, jadi aku sama Rizky mau ngasih tau dia kalo dia dapet surat peringatan dari kampus." Tutur Susan menjelaskan masalah kuliah Dimas kepada Larasati, sayangnya Larasati sudah tau dari Bu leknya.
"Oh..masalah itu, Dimas udah ke kampus kok. Lagi minta izin cuti kuliah dulu, dia udah ngomong kok sama kami." Ucap Larasati.
"Ohh... syukur deh kalo gitu mbak." Ucap Susan merasa lega.
"Kalo gitu kita ke ruangan bapaknya Dimas dulu ya mbak." Timpalnya.
"Iya." Ucap Larasati tersenyum.
Susan dan Rizky pun melangkah pergi, saat menengok ke belakang Susan melihat kakaknya masih berdiri didepan Larasati.
"Kamu mau beli makanan ke mana??" Tanya Arman yang sedari tadi sudah memasang tampang kesan ke arah Raka.
"Deket kok mas cuman di kantin rumah sakit ujung koridor." Ucap Larasati tersenyum mencoba mencarikan suasana yang terlihat sudah agak memanas dengan Raka dan Arman yang saling menatap satu sama lain.
"Ya udah biar saya aja yang nganterin!" Kata Arman mencoba mengusir Raka.
"Gak perlu, saya juga bisa." Ucap Raka singkat.
"Ini mereka berdua ngapain sih." Batin Larasati melihat ke duanya bertingkah aneh seperti anak kecil yang merebutkan mainan.
"Ihh...mas ini ngapain sih malu-maluin, kelihatan banget tau kalo mas cemburu. Kayak anak kecil aja di depan mbak Laras." Batin Susan.
"Mas....!!!!!" Teriak Susan
Arman masih terdiam ditempat, langsung saja Susan menghampirinya dan menarik tangannya.
"Kamu pergi aja duluan dek!!" Perintahnya.
"Ihh....mas itu apa-apaan sih, udah ayok. Kayak anak kecil aja, cepetan." Tarik Susan membujuk kakaknya mengikutinya.
"Kamu tuh apa-apaan sih dek." Ucap Arman kesal.
"Udah ayok!!!" Perintah Susan jengkel sembari menyebikkan bibirnya.
"Mbak kita masuk dulu ya." Teriak Susan ke Larasati melambaikan tangan.
"Iya." Timpal Larasati yang menyambut lambaian tangan Susan.
Melihat itu Larasati menoleh sekilas ke arah Raka yang terlihat sekilas tersenyum seringai menatap Arman, begitu juga Arman yang menatapnya tajam. Arman dengan kesal terpaksa mengikuti adiknya dari belakang.
"Mas tau gak sih, cemburu boleh. Tapi jangan kek mau gelud gitu kenapa, kelihatan banget tau." Ledek Susan yang jengkel merasa malu melihat kakaknya dengan tampang dingin seolah ingin mengajak lawannya berkelahi, sedangkan di sampingnya.
"Perrfffff..!!!" Rizky menahan tawanya melihat Susan memarahi kakaknya, Rizky merasa pacarnya itu terlihat imut saat marah.
"Kamu kenapa!" Sindir Arman.
"Gak pa-pa kok mas!" Ucap Rizky menahan senyumnya.
__ADS_1
Larasati dan Raka kemudian pergi menuju kantin rumah sakit, awalnya dia ingin meledek Larasati tapi malah dia sendiri yang dibuat kesal olehnya.
"Ternyata banyak ya yang suka sama kamu." Cibir Raka tersenyum sinis.
"Termasuk kamu." Celetuk Larasati merasa jengkel.
"Jangan gr, ini kalo bukan karena Oma juga aku gak bakalan mau." Jawabnya menoleh Larasati.
"Kalo gak mau terus ngapain masih disini, bukannya tadi udah aku suruh pergi." Ucap Larasati memutar bola matanya.
"Hem." Raka tak bisa berkata-kata.
"Terus tadi ngapain coba, kan mas Arman mau nganterin aku. Ngapain di larang segala hayo.... Cemburu kan!!!!" Ledeknya menunjuk ke arah Raka. Larasati yang melihat Expresi Raka yang seolah kebingungan tidak bisa menjawab ucapan merasa jika sekilas Raka terlihat lucu.
"Hem!!! Udah cepetan sana, mau beli apa biar saya yang bayar." Sontak saja Raka mengalihkan pembicaraannya.
Larasati sengaja membeli banyak makanan supaya Raka kewalahan membawa semua makanan dan botol minum, Larasati membeli 3 botol air mineral yang ukurannya 240ml. Dan beberapa nasi bungkus untuk mereka, biscuit, roti, dan beberapa cemilan lainnya. Sambil menahan tawa dan senyuman, Larasati sekilas menoleh untuk melihat expresi Raka yang kesal merasa di kerjai oleh Larasati.
"hehehehe!!!" kekeh Larasati dalam hati.
"Emang enak aku kerjain." timpalnya.
Raka merasa berat membawa semuanya sendiri, Larasati sengaja tidak menawarkan bantuan untuk membawa makanan yang mereka beli. Larasati tersenyum disepanjang koridor menuju ruangan pak leknya tanpa sadar dia lupa jika Arman sedari tadi menunggu mereka kembali. Saat Larasati melihat Arman dari kejauhan, senyumnya sirna seketika. Dia merasa canggung dengan ke adaan tadi padahal dulu dia sempat menaruh perasaan ke Arman sebelum kemunculan Raka dan Oma Astuti. Walaupun sekarang dia juga belum tau perasaannya terhadap Raka, Larasati masih bingung menentukan pilihannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ