
Selesai juga Larasati dan yang lain menyiapkan sarapan pagi, yang lain juga sudah berkumpul semua dimeja makan. Hanya Raka yang belum datang. Ibu Siti meminta putrinya memanggil Raka untuk sarapan bersama.
"Ndhok." Ucapnya
"Iya Bu, kenapa?" Jawab Larasati.
"Tolong panggil nak Raka, ajak sarapan bareng sini. Masak udah punya suami masih aja harus ibu yang ngingetin. Kamu tuh harusnya merhatiin suami kamu buat sarapan."
"Iya Bu, ini Laras juga mau panggil kok."
"Ya udah sana ndhok."
"Iya!" Ucap Larasati
Larasati berjalan menuju kamar pengantin yang masih berhiaskan bunga dan beberapa renda dari dekorasi pernikahan mereka. Saat Larasati masuki kamar, dia melihat Raka yang masih berbaring di atas ranjang dengan santainya.
"Mas Raka."
"Hem."
"Ayo sarapan." Pintanya
"Apa?" Raka mencoba menggoda Larasati.
"Tadi ibu minta aku buat manggil mas buat sarapan bareng." Tuturnya
"Trus." Ucap Raka
"Ya udah ayok keluar." Suruhnya
"Begini cara kamu menyuruh suami kamu sarapan, memang kamu gak bisa apa sedikit lebih lembut."
Larasati melangkah mendekati Raka dan seketika dia menarik tangan Raka dengan paksa membangunkannya.
"Bangun mas, yang lain udah pada nungguin." Ucapnya
Raka pun sengaja menarik tangan Larasati yang memegangi lengannya hingga Larasati terjatuh di pelukannya. Seketika mata mereka saling menatap satu sama lain. Larasati pun terdiam seketika, saat dia sadar. Dia mendorong Raka dan mencoba berdiri.
"Mas Raka apa-apaan sih!"
"Mas Raka sengaja kan!"
"Saya tidak akan meminta hak saya sebagai suami kamu."
"Hak suami."
"Iya, untuk saat ini mas akan ngasih kamu waktu hingga kamu sudah siap."
"Maksud mas Raka apa? Bukannya kita sudah menandatangani kontrak perjanjian itu sebelumnya! Kenapa masih ada hak suami." Ucap Larasati kaget.
Padahal sebenarnya tidak ada yang namanya kontrak pernikahan, itu hanya bualan Raka semata untuk mendapatkan Larasati dan membuat Omanya bahagia. Raka memang sedari awal sudah menyiapkan kontrak palsu untuk membuat Larasati tidak punya pilihan lain selain setuju menerima lamarannya.
"Apa kamu tidak membacanya dengan benar."
"Maksud mas apa?"
"Kamu gak usah pura-pura gak tau/polos." Larasati hanya terdiam menundukkan kepalanya.
"Udah ayo keluar!" Ucapnya kesal.
Raka hanya tersenyum diujung ranjang. Menatap punggung Larasati yang melangkah menuju ruang makan, Raka pun berdiri dan mengikutinya dari belakang.
Sesampainya dimeja makan, Larasati duduk berhadapan dengan Raka. Dia malas duduk disebelahnya, namun Bu Siti menegurnya dan meminta Larasati pindah disampai Raka. Raka hanya tersenyum melihat Larasati saat marah, menurutnya saat Larasati marah terlihat imut menggemaskan. Raka tidak menyadari bahwa dia sekarang terus memperhatikan tingkah Larasati, mungkin saja hatinya sudah mulai tergerak.
"Bagaimana tidur kalian tadi malam, apakah nak Raka nyaman tidur ditempat tidur Laras. Maaf ya nak Raka, bapak belum sempat mengganti kasurnya dengan yang baru."
"Gak apa-apa pak, lagian nanti juga kalo sudah direnovasi kan semua perabotan bisa diganti yang baru."
__ADS_1
"Nak Raka gak perlu repot-repot renovasi rumah Bapak. Lagian bapak sama ibu kan sudah tua, gak perlu rumah bagus-bagus." tuturnya
"ya sudah ayo makan dulu."
"Gimana tidur kalian semalam?" Oma sengaja bertanya karena penasaran dengan malam pertama mereka.
"Gimana apanya ya Oma." ucap Larasati sedikit menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
"Bukannya semalam kamu ngusir saya dan nyuruh saya tidur dilantai."
"Ih...mana ada."
"Lho kok sekarang ngelak gak mau tanggung jawab sam.." Ucapannya dipotong Larasati.
"Mana ada, mas jangan suka ngadu-ngadu."
"Laras, apa bener kamu nyuruh Raka tidur dilantai ndhok!"
"Kamu gak boleh gitu ndhok, dia kan sudah jadi suami kamu."
"Bohong kok Buk!!!!" Teriak Larasati kesal.
"Mas Raka jangan suka fitnah ya." Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedari tadi cemberut.
"Saya kan gak fitnah kamu." Pungkasnya singkat.
"Mas sendiri tadi pagi waktu Laras bangunin buat sholat subuh marah."
" Ya kan dada saya banjir iler, mana bau ikan asin."
"Trus mas sendiri kenapa cium-cium kening Laras, heh!!!!"
"Eh... bukannya kamu sendiri yang tadi malam peluk-peluk mas." Ucap Raka.
"Apa kamu lupa!" Timpalnya.
Selesai sarapan Oma menanyakan rencana Raka dan Larasati kedepannya, apa mereka ingin liburan bulan madu atau menundanya dulu.
Mereka semua berkumpul diruang tengah karena cukup luas, beralaskan tikar mereka duduk dan ngobrol bersama.
Dimas berencana berangkat ke Jakarta bersama Oma dan Wulan karena dia harus melanjutkan kuliahnya, sedangkan Raka mengambil cuti libur selama 1 minggu.
Rombongan Arman dan Dewi beda jalur, karena keluarga Arman beralih naik pesawat terbang sekitar 1jam 10 menit saja. Supaya perjalanan mereka tidak memakan banyak waktu. Sedangkan rombongan karyawan mereka tetep menaiki Bus pariwisata yang mereka sewa membutuhkan jarak tempuh sekitar 12jam tergantung pilihan rute dan kepadatan lalu lintas yang mereka lewati.
Dewi menatap jendela melihat jalanan yang mereka lewati, dia masih memikirkan keluarganya. Dia sudah meminta izin ke Bu Melati jika sesampainya mereka di Jakarta, dia minta izin cuti 1minggu untuk pulang kampung.
Ditempat lain Larasati tengah membantu Wulan merapikan barang-barang yang hendak dia bawa pulang, sedangkan Dimas tidak membawa apa-apa. Dari awal Dimas membawa barang khusus buat dia tinggal di sana.
"Ndhok?" panggil Bu Siti.
"iya Bu."
"Ibu panggil Laras ada apa ya Bu?"
"Tolong kamu bawain makanan buat bapak sama suami kamu ya."
"Lho! emang mereka kemana Bu?"
"Katanya tadi nak Raka mau bantuin Bakan di kebun buat ngecek pohon pisang sama singkong." pinta Bu Siti.
"Oh..! ya udah mana makanannya Bu." ucapnya lembut.
Larasati berjalan menuju kebunnya membawa rantang makanan yang sudah ibunya siapkan tadi. Saat Larasati melihat suaminya yang kebingungan menebang pohon pisang dari kejauhan, dia menahan tawanya dan hanya tersenyum.
"Dasar orang kota, nebang pohon pisang aja gak bisa." batin Larasati
Larasati menghampiri Raka dan mengajarinya cara menebang yang benar. Sedangkan pak Parman tengah mencabut rumput dan semak belukar yang tumbuh menimbun pohon singkong dipinggiran.
__ADS_1
"Pak!!" Teriak laray dari kejauhan memanggil pak Parman.
"Eh kamu ndhok." ucapnya
"Lho!! Masak pengantin baru sudah diajak ke kebun pak." ucap salah satu warga yang hendak mencari rumpun untuk pakan ternak lewat dipinggiran ladang mereka.
"Kebetulan ini Kang, mau panen pisang. lumayan ada 1 pohon yang sudah masak." Ucap pak Parman.
"Kalo gitu permisi ya kang, numpang lewat." ucapnya sambil melambaikan tangan menyapanya.
"Iya-iya mangga silahkan." saut pak Parman membalas lambaian tangan tetangganya itu.
"Mas Raka ngapain?" tanya Larasati.
"Kamu gak lihat sala ngapain?"
"Lagi mandang pohon pisang." cletuknya
"Emang mas gak tau apa cara nebang pohon pisangnya." timpalnya.
"Memang kamu bisa apa? Nebang pohon pisang tanpa buahnya rusak??"
"Gampang lah!"
"Caranya tuh ya, tebang dibagian tengah pohon pisangnya. Jangan langsung dari pangkal akarnya. Nah, kalo udah kan pohonnya nanti bakal rubuh pelan-pelan. Terus tarik ujung buahnya perlahan hingga tanah, trus potong deh. Gampang kan!!" Tuturnya menjelaskan.
"Kalo ngomong memang gampang! Coba kamu praktekin?"
"Sini!! Bilang aja gak mau!!" jawabnya mencibir Raka.
Raka hanya tersenyum melihat Larasati yang ambekan. Akhirnya mereka saling membantu memegangi pohon pisangnya supaya tidak rusak saat dipotong. Selesai menebang pohon pisang, Raka dan pak Parman makan bekal yang Larasati bawa tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ
__ADS_1