
Setelah acaranya selesai, mereka semua beristirahat dirumah pak Dhe'nya Larasati walaupun tidak kebagian tempat tidur dan harus tidur dilantai menggunakan karpet dan kasur lantai. Mereka harus menerimanya karena cuman itu yang ada dirumah pak Dhe'nya Larasati. Sebagian yang laki-laki tidur di mushola terdekat.
Oma dan Wulan tidur satu kamar dikamar Dimas untuk sementara, sedangkan besoknya mereka harus segera kembali ke Jakarta bersama Dimas yang harus lanjut kuliah. Sedangkan Raka akan kembali ke Jakarta bersama Larasati minggu depan, orang tuanya meminta mereka untuk tinggal setidaknya satu minggu dikampung.
Malam pertama Larasati merasa canggung walaupun berada didalam kamarnya sendiri, pasalnya ada laki-laki yang yang saat ini berstatus sebagai suaminya di ruangan yang sama dengannya. Apa lagi dia belum mengenal dengan baik sifat asli Raka seperti apa, dia hanya tau sifatnya yang dingin dan cepals-ceplos jika berbicara dengan lawan bicaranya. Kadang membuatnya sakit hati karena perkataannya terlalu terus terang. Tapi saat Larasati menatapnya lagi, memang Raka terlihat tampan, gagah bertubuh kekar.
"Apa disini hanya ada satu tempat tidur?" Ucapan Raka membuat Larasati tersindir.
"Kenapa tidak ada sofa dikamar kamu?" Timpalnya lagi mencibir Larasati.
"Kamar ini terlalu kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan kamar mandi dirumah saya." Imbuhnya.
Larasati yang saat ini sedang membersihkan make up-nya didepan meja kaca di kamarnya merasa kesal mendengan ucapan Raka, seolah-olah menghina dan merendahkannya. "Kalo gak mau tidur di kasur silahkan mas tidur dilantai? Nanti biar Laras siapin karpetnya." membalikkan badannya menatap Raka yang sedang duduk dipinggir ranjang.
"Perempuan ini, beraninya menyuruh saya tidur dilantai." Batinnya.
"Maksud kamu apa menyuruh saya tidur dilantai!!" Raka pun balik menatap Larasati dengan tatapan dinginnya.
"Ya kan kalo kamu gak mau tidur di kasur, lagian disini juga gak ada kamar lain lagi." Batin Larasati.
Larasati berbalik kembali menghadap cermin melanjutkan membersihkan semua berkas-berkas make up yang masih menempel di wajahnya."Bukan apa-apa kok." Ucapnya singkat.
Setelah selesai Larasati duduk di ranjang terdiam menatap Raka, dia merasa sangat canggung. Setelahnya dia memalingkan pandangannya lalu membaringkan tubuhnya di samping Raka membelakanginya. Raka pun meletakkan handphonenya diatas meja samping tempat tidur dan mematikan lampu kamar Larasati. "Mas Raka" ucapnya memelas.
"Apa?" Ucapnya datar.
"Aku gak bisa tidur kalo lampunya dimatiin!!" Gumamnya.
"Saya tidak bisa tidur kalo lampunya menyala!" Ucap Raka.
"Tapi kan aku takut!! Aku dari kecil kalo tidur itu selalu lampu menyala." Ungkapnya.
"Kamu harus membiasakan diri mulai sekarang." Raka tetap tidak mau menyalakan lampunya kembali.
"Kan aku tadi udah bilang kalo aku gak bisa tidur lampu mati." Gerutunya menyebikkan bibirnya.
"Apa kamu gak bisa kalo gak terlalu manja seperti ini!" Jelas Raka.
"Mas." Rengeknya memelas.
"Apa lagi...." Raka terlihat kesal.
"Hidupin lampunya!" Ucap Larasati.
"Enggak, memangnya apa yang kamu takutkan?? Disini kan ada saya." Tanya Raka.
"Aku takut hantu... Dikampung ini tuh ya sering ada kejadian penampakan gitu. Dan itu nyata! Mas gak tau ya kalo hantu itu beneran ada." Ungkapnya.
__ADS_1
"Seperti anak kecil saja masih takut hal seperti itu!" Ejeknya tersenyum tipis.
"Heh." Larasati membuang muka.
"Sudah-sudah, sekarang kamu tidur saja."
"Mas Raka."
"Apa lagi....... Masyaallah."
"Tapi mas janji ya kalo keluar lampunya nyalain, kalo enggak bangunin aja Laras." pintanya.
"Iya. Lagian sekarang kan saya yang tidur di samping kamu." Ucap Raka.
"Kalo mas nanti berubah jadi hantu gimana?" Laras memang suka berfikir yang aneh-aneh.
"Kamu mau tidur sama hantu?" Tanya Raka
"Enggak." Celetuknya.
"Ih galak banget sih jadi orang, kalo aku nanti tiba-tiba ngigo gimana ya??? Aku kan suka peluk-peluk guling sembarangan." Batin Larasati.
Akhirnya malam pertama Larasati dan Raka dihabiskan tidur bersama saling berpelukan tanpa mereka sadari, tapi tidak terjadi apa-apa seperti yang Oma Astuti harapan. Padahal Oma Astuti ingin segera menimang cicit mantu dari Larasati dan Raka. Sedangkan orang tua Larasati tidak memaksa putrinya untuk cepat-cepat memiliki cucu karena mereka tau jika Larasati butuh proses mengenakan dan pendekatan dengan Raka. Mereka masih butuh banyak waktu, jadi keluarga Larasati tidak memaksa mereka untuk terlalu terburu-buru seperti oma Astuti.
Suara adzan subuh di mushola dekat rumah Larasati terbangun dengan posisi memeluk Raka, sedangkan posisi bibirnya berada dibawah kepala Raka. Tepatnya ada di bawah leher Raka, sedangkan bibir Raka menempel di dahinya membuatnya panas dingin. Larasati hampir tidak berani menggerakkan badannya saat tangannya menyentuh tubuh Raka yang tidak mengenakan pakaiannya. Sontak saja Larasati menyingkap selimutnya perlahan. "Alhamdulillah." Ucapnya dalam hati saat melihat pakaiannya masih lengkap dan juga Raka ternyata masih mengenakan celana sambil mengelus dadanya.
"Untung aja mas Raka masih tidur, coba aja udah bangun pasti aku malu banget. Mana di dadanya ada liur aku lagi, ihhhh bisa gawat kalo mas Raka kebangun." Batinnya.
Larasati menuju kamar mandi, dia mandi dan setelahnya shalat subuh. Setelah selesai salah Larasati membangunkan Raka untuk beribadah shalat subuh.
"Mas bangun."
"Mas Raka bangun, shalat subuh dulu."
"Mas bangun!!!!" Teriaknya karena raja susah dibangunkan, mungkin karena terlalu kecapekan akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus sia selesaikan sebelum dia menikah dengan Larasati.
"Hem. Kamu cerewet banget sih jadi perempuan, gak bisa apa lebih halus." Memandang Larasati yang berdiri di samping tempat tidur.
"Dari tadi kan udah Laras bangunin, susah banget. Siapa suruh gak bangun-bangun." Gerutunya.
"Dia aja yang tidurnya kayak kebo, gak bisa dibangunin malah nyalahin orang." Batinnya menyebikkan bibirnya.
"Jadi gitu cara kamu bicara sama suami kamu sendiri." Ucapan Raka membuat Larasati kesal.
"Mas gak sholat subuh."
"Iya ini." Ucap Raka, saat Raka memegang dadanya ada bekas basah seperti air.
__ADS_1
"Ih..uh. Bau apa ini. Hem, dasar perempuan tukang ileran." Ucapnya menyindir Larasati.
"Ih.., mungin aja itu iler mas sendiri malah nyalahin orang." Larasati mencoba membalikkan fakta.
"Saya mana mungkin ileran kayak kamu, jelas-jelas ini letaknya jauh dari mulut saya." Tuturnya.
"Kan siapa tau dia jalan-jalan." Ucap Larasati.
"Tukang ileran!" Sindirnya tersenyum seringai melirik Larasati.
"Siapa suruh tidur di kasur." Ucapnya
Raka segera menuju kamar mandi, keburu kesiangan. Sedangkan Larasati menuju dapur untuk menyiapkan sarapan semua orang. Larasati dibantu ibu, Bu lek dan bu Dhe'nya memasak, pasalnya yang lain masih pada tidur nyenyak. Larasati tidak ingin mengganggu Oma dan Wulan tidur jadi dia tidak membangunkannya.
Sedangkan pagi-pagi sekali rombongan Susan dan Dewi sudah berangkat ke Jakarta duluan. Mereka sengaja memilih perjalanan subuh saat matahari belum terbit, karena jika siang di daerah Larasati mataharinya akan terasa sangat terik. Sebelum mereka berangkat, mereka sudah berpamitan dengan Larasati dan keluarganya. Walaupun mereka belum sempat sarapan. Arman masih berharap tapi mungkin sudah tidak ada harapan lagi, dan dia tau itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
__ADS_1
jangan lupa like dan coment yaπ