
Sesampainya di kediaman Raka, Larasati disambut Wulan dan mbok Ijah. Sedangkan Oma masih terbaring di tempat tidur berpura-pura belum siuman. Raka yang melihat Larasati datang hanya diam menatapnya dengan tatapan dingin dan cuek. Larasati pun sama hanya diam melihat Raka tapi dia tidak tega mengabaikan Oma Astuti yang sudah tua.
"Mbak Laras sudah sampai." Sapa Wulan menyambutnya.
"Hem...gimana ke adaan Oma?" Tanya Larasati tanpa basa-basi.
"Masuk dulu non!" Mbok Ijah mempersilahkan Larasati untuk masuk terlebih dahulu.
"Ya gitu mbak, kata dokter Oma terkena serangan jantung ringan." Jawab Wulan memperlihatkan wajah sendu.
"Sekarang Oma dimana?" Tanya Larasati.
"Oma ada di kamar mbak, mbak Laras mau nengok Oma?" Timpal Wulan membelalakkan matanya.
"Kalo boleh." Ucap Larasati singkat.
"Boleh mbak boleh!!" Wulan menunjukkan kamar Omanya ke Larasati.
Oma pun mulai siuman dan meminta Raka untuk masuk kedalam bersama yang lain, di depan semua orang yang ada diruang Oma meminta untuk kesekian kalinya ke Larasati. Apakah dia bersedia menjadi cucu mantunya. Seketika Larasati menoleh ke arah Raka yang tak bereaksi apa-apa, bukan tak bereaksi hanya saja Raka takut membuat Omanya pingsan lagi.
Larasati juga takut menolak, jika dia menolak dia takut jika Oma mawar kaget dan jantungnya kambuh. Membuat dua orang itu hanya terdiam, langsung saja Oma Astuti jika mereka diam saja itu tandanya mereka setuju. Walaupun di hati Larasati masih sedikit belum bisa menerimanya karena disana ada Arman.
Tiba-tiba suara handphone Larasati berbunyi.
"Kring...kring...kring..."
Panggil masuk: Dimas
"Assallamuallaikum, kenapa dek!" Ucapnya lirih .
"Waallaikumsallam mbak,hiks...hiks... mbak! Mbak Laras ada dimana? Ucapannya sampai terbata-bata saking takutnya.
"Kenapa Dim, kok kamu kelihatan panik gitu??" Membuat Larasati ikut panik
"Mbak, hiks...hiks...hiks.... bapak mbak!! Ucap Dimas yang tengah kalut panik.
"Pak lek kenapa???" Larasati semakin panik.
"Bapak kecelakaan mbak, sekarang dibawah ke rumah sakit sama ibu juga sudah disini. Mbak cepet dateng ya!!!!" Pinta Dimas sembari menghapus air matanya yang menetes.
"Assallamuallaikum!" Ucap Dimas mengakhiri panggilan teleponnya.
Larasati yang masih syok bengong seketika menjatuhkan handphone tanpa sadar.
"Hiks...hiks...hiks...." Dia menangis sangat khawatir.
Larasati dapat telfon dari Dimas, ada kabar buruk yang menimpa pak leknya ditempat kerja. Pak leknya mengalami kecelakaan kerja dan sedang berada dirumah sakit, pak leknya tertimpa bahan bangunan dari lantai 2 ditempat konstruksi tempatnya bekerja. Dan pak lek Larasati mengalami pendarahan yang cukup serius, mendengar itu Larasati sangat panik dan menangis.
Raka pun diminta mengantarkan Larasati ke rumah sakit, sedangkan Oma dan Wulan mengikuti mereka dari belakang. Di sepanjang perjalanan Larasati terus menangis karena khawatir dengan kondisi pak leknya. Raka yang melihat Larasati menangis sempat tersentuh, hanya saja dia tidak bisa memperlihatkannya didepan Larasati.
Sesampainya dirumah sakit, Dimas segera menghampiri Larasati. Sedari tadi Dimas sudah menunggu di depan rumah sakit.
"Dim hiks...hiks... Gimana ke adanya pak lek??" Tanya Larasati yang sangat panik.
"Mbak kita kedalam dulu ya." Ucap Dimas yang mengandeng Larasati masuk ke ruang bapaknya.
__ADS_1
"Ibu udah didalam mbak." Timpalnya
Larasati pun berlari menuju Bu leknya yang tengah duduk lemas menunggu didepan ruangan pak Kasman suaminya.
"Bu lek!" Teriak Larasati sembari terisak tangis melihat kondisi pak leknya yang sedang mendapat banyak pertolongan medis.
"Tenang dulu ya ndhok!" Ucap Bu leknya yang juga terisak tangis menahan ketakutan dan ke khawatirannya.
"Gimana Bu lek!!??" Tanya Larasati tentang kondisi pak leknya.
"Kata dokter pak lekmu harus melakukan operasi ndhok, pak lekmu sekarang sangat membutuhkan banyak darah karena benturan benda pak lekmu mengalami pendarahan. Dan kata dokter harus secepatnya." Ujarnya menjelaskan.
"Terus sekarang gimana Bu lek???" tanya Larasati yang masih teriak.
"Bu lek juga bingung, tabungan Bu lek sama pak lekmu nggak cukup. Kita berdoa aja dulu ya, Dimas juga lagi usaha buat minjem ke temen-temennya." Tutur Bu Sumi.
Oma dan Wulan yang sudah dari tadi dibelakang mereka dan mendengarkan semua membicarakan itu, tentu saja itu kesempatan emas untuk Oma membantu Larasati. Larasati akan semakin susah untuk membalas budi mereka.
Oma langsung mengatakan bahwa dia akan membayar semua biaya operasi dan rumah sakit pak leknya " Biar semua biaya operasi dan rumah sakit saya yang tanggung." Ucap Oma Astuti.
"Oma gak perlu." Ucap Larasati.
"Mbak Laras, gak ada pilihan lain. Jika mbak Laras dan Tante semakin menunda operasi om, mungkin keadaannya akan lebih buruk lagi." Rayu Wulan membujuk Larasati dan Bu leknya setuju akan bantuan Omanya.
Raka pun pergi ke administrasi untuk mengurus semua biaya pendaftaran, operasi dan rumah sakit.
Di depan rumah sakit Dimas yang belum tau jika semua biaya bapaknya sudah ditanggung oleh Raka, dia menghubungi Susan dan menjelaskan kondisi yang tengah dia alami. Mendengar itu Susan langusng memberitahu kakak dan maminya, bapak Susan tengah berada di luar kota mengurus pekerjaannya yang lain.
Sedangkan didalam pak Kasman sudah dipindahkan ke ruang operasi setelah Raka menyelesaikan semua biayanya. Larasati dan Bu leknya menunggu dengan penuh cemas, Oma dan Wulan menenangkan mereka.
"Semoga pak lekmu gak kenapa-kenapa ndhok!" ucap Bu Sumi yang masih gemetaran.
"Semoga pak lek baik-baik saja dan operasinya lancar, Amin." batin Larasati.
"Kalian tenang saja, saya sudah meminta dokter yang paling ahli untuk menanganinya." ucap Oma Astuti menenangkan mereka berdua.
"Dimas dimana ndhok." tanya Bu Sumi yang sedari tadi tidak melihat anaknya setelah menjemput Larasati di depan rumah satik.
"Laras juga gak lihat Bu lek." jawab Larasati menengok mencari ke penjuru arah tapi tidak melihatnya.
"Biar saya saja yang cari Dimas Tante, kalian tunggu saja disini. Mas Raka tolong temenin mereka ya." pinta Wulan ke kakak sepupunya itu, Wulan pun keluar mencari Dimas.
"Hem." gumamnya.
Susan dan keluarganya pun datang ke rumah sakit melihat kondisi pak Kasman. Arman menawarkan bantuannya ke Dimas dan mereka segera ke ruang administrasi untuk mengajukan tindakan operasi ke pak Kasman. Sesampainya di sana.
"Sus saya mau membayar biaya operasi atas nama pak Kasman yang baru saja mengalami kecelakaan." ucap Arman yang ditemani Dimas. Sedangkan Susan dan maminya tengah menuju ruangan pak Kasman.
"Oh..biaya untuk bapak Kasman sudah dilunasi semua pak." jawab perawat yang bertugas di administrasi.
"Siapa ya sus yang sudah membayar biaya pengobatan bapak saya??" tanya Dimas.
"Sebentar ya pak saya cek dulu." kata perawat itu sembari mengecek nama di komputer.
"Sudah dilunasi atas nama pak Raka Dinata." ucap perawat itu ke Dimas membuat Arman sedikit kesal.
__ADS_1
"laki-laki itu lagi!" batinnya kesal mendengar nama Raka Dinata.
Sedangkan didepan ruang pak Kasman.
Lho kok gak ada San." tanya Bu Melati ke putrinya.
Iya ya mi, kan tadi kata Dimas ada di ruangan ini. Eh...mi coba tanya sama suster itu." ucap Susan sambil menunjuk ke arah suster yang sedang mengganti sarung bantal.
"Sus, bapak yang tadi habis kecelakaan dan dirawat di ruangan ini
dipindahkan kemana ya, kok gak ada?" tanya Bu Melati ke suster yang merapikan tempat tidur.
"Oo... bapak yang barusan di rawat di ruangan ini, baru saja menjalani operasi. yang ada di lantai 1 paling ujung." ucap suster itu.
Susan dan maminya pun menuju ke ruang operasi pak Kasman, disusul Arman dan Dimas.
Di ujung rumah sakit Wulan sudah menunggu Dimas, dia tidak menyangka jika Arman akan ikut ke rumah sakit.
"Lho kok dia juga datang ke sini." batin Wulan yang sudah melihat mereka dari kejauhan.
Arman yang melihat Wulan yang ada di ujung koridor pun masih sedikit kesal, mengingat dia adalah adik sepupu dari Raka Dinata.
"Perempuan gila itu lagi." gerutunya dalam hati.
Mereka semua pun kembali ke menunggu di depan ruang operasi cukup lama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ