Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Keusilan Larasati


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Larasati membantu ibunya membuat sarapan. mereka semua sarapan bersama. setelah selesai sarapan ia berjanji kepada Dimas untuk mengajaknya melihat kebun mereka. Kebun Larasati tidak jauh dari rumahnya, hanya cukup berjalan 10 menit sampai.


Disana Dimas diminta pak Parman untuk membantunya memupuk tanaman, akan banyak kejadian lucu yang menanti mereka.


Larasati tau kalo Dimas penakut terhadap binatang melata dan merayap seperti kadal dan cicak. Dia sudah menyiapkan ide untuk mengerjai adeknya tersayang itu. Setelah sampai di kebun Larasati dan Pak Parman meminta Dimas untuk membantunya memetik beberapa sayuran. Sedangkan ibu Siti tengah memilih cabe yang sudah memerah disudut kebun.


"Wahhh....banyak banget sayurannya mbak, macam-macam lagi." takjub Dimas melihat kebun milik Larasati tak sadar Dimas membuka mata dan mulutnya melihat sekeliling kebun


"Hehehehe..." Larasati hanya tertawa kecil


"Dim-Dim sini bantuin mbak cabutin itu sawi sama kangkungnya, tapi dikit aja jangan banyak-banyak."perintah Larasati


"iya mbak."jawab Dimas kemudian jongkok mencabuti beberapa sayuran tadi


"Ini taruh dimana mbak." tanya Dimas berdiri menghampiri Larasati


"Taruh aja dikeranjang, nanti biar ibu yang bawa pulang. Nanti mbak mau ajak kamu keladang buat bantuin pak Dhe Ari sama Bu Dhe Puput." jelas Larasati sambil menunjuk keranjang sayuran yang ada disebelah ibunya


"Iya mbak." jawab Dimas melangkah meletakkan semua sayuran kedalam keranjang


Selesai membantu ibu dan bapaknya Larasati mengajak Dimas menuju ladangnya mengendarai sepeda motor karena jarangnya lumayan jauh dari desa. Di ladang sudah ada pak Ari dan Bu Puput mereka ikut membantu mengurusi ladang Larasati, karena mereka membagi hasil panennya bersama.


Menurut nenek mereka lebih nikmat kalo saling membantu gotong royong sama-sama menikmati hasil bersama itu lebih nikmat dibandingkan berbagi ladang tapi hasil panen dinikmati sendiri-sendiri.


"Mbak Laras disawah nanam apa?" tanya Dimas


"Ditanami jagung trus pinggirannya dikasih tanaman kacang panjang aja sih kemarin udah panen padinya. Giliran ganti nanam jagung soalnya udah jarang hujan." tutur Larasati menjelaskan


merekapun sampai diladang, pak Ari dan Bu Puput sedang menyiram jagung dengan pupuk organik. Biasanya para petani membuat 2 kubangan galian, yang pertama berbentuk persegi untuk menaruh pupuk organik (kotoran ayam, kambing dan sapi) , sedangkan yang satu lagi biasanya mereka membuat sumur air.


"Laras."teriak Bu Puput melambaikan tangannya


"Sini ndhok." timpal lagi


"Iya Bu Dhe bentar." jawab Larasati turun dari motor bebek kesayangannya itu


"turun Dim-Dim." perintah Larasati


"Iya mbak." jawab Dimas

__ADS_1


"Besok kalo dijakarta jangan panggil gitu ya mbak Mali Dimas, nanti kalo didenger ma temen-temen."pinta Dimas memelas


"Bodo amat, suka-suka mbak dong." ucap Larasati iseng


"ish....." desis Dimas kesal turun dari motor


"Udah sana bantuin Bu Dhe." perintah Larasati memarkirkan motornya dipinggiran jalan tidak lupa dua mengunci standar motornya


mereka melangkah menuju ke ladangnya, banyak orang dipersawahan sekitar. Ada yang sedang panen semangka, melon dan juga ada yang sedang membajak sawah menggunakan mesin traktor ataupun menggunakan tenaga manual yaitu menggunakan hewan (sapi/kerbau). Larasati melihat hewan melata lewat dikakinya, dia segera buru-buru menangkapnya dan memasukkannya kedalam pot air (yang digunakan untuk menyiram tanaman). Larasati memberikan satu pot air yang sudah diisi hewan melata (kadal) itu tadi kepada Dimas untuk mengisinya dengan air yang sudah diberi pupuk organik (kotoran ayam, kambing atau sapi), saat Dimas membuka tutup pot air itu sontak Dimas pun kaget.


"Dim-Dim sayang, ini bantuin mbak ambil air pupuknya." pinta Larasati menjulurkan pot air pada Dimas


"mana." ucap Dimas mengambil pot air dari tangan Larasati


"hehehehe...." terkekeh pekan menahan tawanya agar Dimas tidak curiga


"ini isi penuh?" tanya Dimas bingung


"Iya penuh." teriak Larasati dari kejauhan karna dia sudah berjalan menuju pak Ari dan Bu Puput dipojok timur agak jauh dari jalanan, jalanan ada disebelah barat


"hemm..."gumam Dimas sambil menarik nafas dia tidak tau ada yang akan mengejutkannya


"wahahahahahhahaha....."Larasati tertawa terbahak-bahak


"Astaghfirullah Dim, kok ya bisa sampai jatuh itu kenapa? teriak pak Ari menghampirinya


"Kok bisa jatuh tadi kenapa to le? tanya Bu Puput menghampiri


"Kok bisa Dim kamu mandi pake sabun shampo alami, wahahahahaha...."Larasati menahan tawanya sambil memegang perutnya yang sakit karena terlalu bersemangat


"Ini pasti ulah mbak Laras." kesal Dimas mengerutkan alis matanya menatap tajam Larasati


"hahahaha..."Larasati tertawa kecil


"Enak aja nuduh mbak, dosa tau fitnah orang yang lebih tua. Mungkin aja itu kadal udah ada didalam dari tadi."jelas Larasati mencari alasan yang tepat


"udah-udah jangan berantem lagi, udah pada gede masih aja kayak anak kecil." Bu Puput menenangkan Dimas


"udah kalian pulang aja." suruh pak Ari

__ADS_1


"sana pulang mandi, bau kotoran mbak gak tahan."ledek Larasati


"ya udah mbak, ayo anterin." minta Dimas pasrah


"iiihhh....Ogah! ntar kalo si bebek kesayangannya mbak kotor bau kotoran ayam lagi." Larasati sengaja memalingkan mukanya ingin membuat Dimas kesal


"mbak Laras tega ya sama Dimas pulang jalan kaki, kan Dimas malu mbak kalo nanti ditanya sepanjang jalan dilihatin orang. kalo cuman dilihat atau diketawain doang sih enggak apa-apa mbak, tapi nanti kalo ditanya kenapa bisa jatuh kan Dimas malu mbak." jelas Dimas sambil memanyunkan bibirnya.


"Hilih, Sono pulang jalan kaki biar sehat. Itung-itung olahraga biar sehat, mbak mau bantuin Pak Dhe sama. Bu Dhe siram jagung." ejek Larasati memerintah Dimas pulang sendiri


"ya Allah, tega banget mbak Laras sama Dimas."gumam Dimas


Hehehe.... emang enak aku kerjain


Batin Larasati


Larasati lanjut membantu pak Ari dan Bu Puput menyiram jagung, disaat yang lain Dimas pulang kerumah jalan kaki menuruni tanjakan


"Untung jalannya turun jadi gak begitu capek, coba aja naik aku pasti dah kehabisa nafas. Mbak Laras juga kok tega amat sama aku." gumam Dimas disepanjang jalan mengelap rambutnya yang penuh pupuk kandang. Setelah sampai didesa banyak orang yang menatap kearahnya, Dimas mencoba untuk tenang menahan rasa malunya dilihatin banyak warga. Ada yang duduk didepan rumah, ada yang lalu-lalang.


"ini perasaanku aja apa mereka emang pada ngelihat aku, ya Allah malunya aku."


Batin Dimas


ada yang bertanya padanya saat berpapasan


"Kenapa nak Dimas." tanya seseorang yang lewat


"Enggak apa-apa Bu Dhe, cuman jatuh kepeleset tadi." jawab Dimas mencari alasan


"Hati-hati to nang kalo mergawe." ucap seseorang yang lewat tadi


Sesampainya dirumah dia segera bergegas mandi karena pak Parman dan ibu Siti belum pulang dari kebun. Dimas merasa lega karena pak Dhe dan Bu Dhenya belum ada dirumah, jika ada dirumah dia pasti akan sangat malu menjawab pertanyaan mereka.


terimakasih sebelumnya 😘😚😘😍😍


selamat membaca yaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


jangan lupa like coment and share

__ADS_1


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»jangan lupa dukungannya


__ADS_2