
Perjalanan menuju kampung Larasati, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu akan datang juga. Seluruh keluarga besar toko bunga milik Bu Melati melakukan perjalanan mengendarai mobil bus mini yang mereka sewa tempo hari.
"Mas ngapain bengong terus." Tanya Susan.
"Aku cuman lagi menikmati rinai hujan!" Jawabnya singkat.
"Kakak masih belum ikhlasin mbak Laras ya."
"Untuk apa mas, apa karena mas menyesal belum sempat memilikinya."
"Masih ada banyak perempuan diluar sama, mas aku itu ganteng kok. Pasti banyak yang mau." Susan mencoba menghibur kakaknya.
Arman pun hanya tersenyum mengelus lembut kepala adiknya. Mereka naik mobil pribadi.
"Mas tau kok. Kamu tenang saja. Mas bisa atasi perasaan mas, kamu gak perlu khawatir lagi. Mas hanya belum rela saja." Ucapnya sembari tersenyum tipis beberapa detik, walaupun beberapa detik berikutnya raut wajahnya berubah lagi dingin.
Dewi yang masih kepikiran tentang pernikahan Larasati masih sedikit khawatir, dia sempat berfikir memberi tahu Arman tapi batinnya melarangnya untuk ikut campur urusan orang lain. Tak hanya itu, dia juga sedang memikirkan ke adaan kakaknya yang tengah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan tempo hari. Walaupun ibunya memberikan kabar jika kakaknya sudah bisa pulang ke rumah, tetap saja dia masih khawatir. Apa lagi dia tidak bis mengambil cuti kerja, karena tokonya semakin sibuk menyambut perayaan tahun baru.
Beberapa dari yang lain tengah tertidur lelap, ada juga yang membuat video untuk story sosial media mereka.
Larasati yang tengah menjalani sesi Midodareni, selama satu minggu tidak keluar rumah sama sekali. Sedangkan Raka dan keluarganya berada di kediaman pak Ari dan Bu Puput (pak Dhe dan Bu Dhe'nya Larasati).
Jika mereka tinggal satu rumah, takutnya menjadi cemoohan tetangga sekitar karena belum sah suami istri.
Sesampainya dikediaman Larasati, semua keluarga besar dari toko bunga milik Bu Melati juga sudah berkumpul dirumah Larasati. Larasati keluar dari kamar terlihat bak bidadari dari riasannya yang anggun dan pakaian kebaya putih sederhana namun kelihatan mewah. Dia berjalan menuju pelaminan yang sudah ada Raka dan kedua keluarga besar mereka yang menjadi saksi di pernikahan mereka. Bahkan tetangganya juga sudah hadir dari tadi menunggu mereka.
Arman hanya bisa melihat dari kejauhan Larasati menjadi Istri orang.
"Bisa dimulai sekarang." Tanya pak penghulu.
"Oh iya pak silahkan." Ucap pak kasman pak lek Larasati yang duduk di kursi roda.
"Bisa pak!" Ucap pak Parman selaku bapak kandung Larasati dan akan menjadi walinya.
Dan pak Parman menjabat tangan Raka dengan sedikit tegang karena sebentar lagi dia akan kehilangan putri semata wayangnya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Raka Dinata bin Hadi Dinata dengan anak saya yang bernama Larasati dengan mas kawinnya berupa cincin berlian 2,5gr Adan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap pak Parman menggunakan teks yang sudah ditulis oleh pak penghulu.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Larasati binti Parman dengan mas kawinnya tersebut tunai." Sedangkan Raka lancar membaca kalimatnya tanpa gugup.
"Sah." Ucap pak penghulu.
"Sah." Serentak mereka semua yang menyaksikan pernikahan Larasati berteriak sah.
"Alhamdulillah, alfatihah." Timpalnya lagi.
"Alhamdulillah, akhirnya cucu mantu Oma." Oma Astuti merasa sangat bersyukur, akhirnya Larasati dan Raka sudah sah menjadi suami istri. Oma sudah tidak sabar untuk memiliki cucu dari mereka.
Setelah acara ijab Kabul selesai, semua undangan termasuk teman-teman Larasati menghampirinya untuk mengucapkan selamat padanya. Mereka pun makan-makan, menyerbu makanan yang sudah disediakan disana.
Dewi menghampiri Larasati
"Mbak Laras, selamat ya. Hem." Ucapnya
__ADS_1
"Iya, makasih ya." Jawab Larasati yang masih tidak percaya jika sekarang dia sudah menjadi istri Raka Dinata.
"Ya udah mbak kalo gitu, saya ke sana dulu ya ikut yang lain makan." Timpalnya menunjuk arah kerumunan yang masih antri di prasmanan.
"Iya Wi, yang kenyang ya makannya! Gak perlu sungkan-sungkan." Ucap Larasati sembari tersenyum tipis padahal masih berat rasanya. Apa lagi dengan tumpukan make up tebal diwajahnya membuatnya susah tersenyum.
"Pasti mbak." Dewi hanya tersenyum dan melangkah pergi menuju meja prasmanan menghampiri yang lain.
Raka yang masih sibuk menyambut tamu, membiarkan Larasati duduk ditemani teman-temannya semasa dikampung. Sedangkan Wulan juga tengah asik menyantap hidangannya, Oma Astuti dan yang lain tengah berbincang-bincang dengan kerabat Larasati.
Acaranya memang sederhana karena keluarga besar Larasati yang memintanya, soalnya dikampung tidak begitu terlalu suka kemewahan bak orang-orang kaya pada umumnya. Yang penting kesederhanaan dan suasananya nyaman, meriah dengan penuh suka cita didalamnya itu sudah lebih dari cukup.
"Laras." Arman pun menghampiri Larasati dan mengucapkan selamat padanya walaupun berat memasang senyum tipis di wajahnya.
"Mas Arman."Larasati pun hanya bisa memperlihatkan senyum diwajahnya seperti ada rasa canggung diantaranya, padahal dulu biasa-biasa saja.
"Selamat ya."
"Iya mas, makasih."
"Semoga kamu bahagia." Ucapnya menjabat tangan Larasati.
Raka yang melihat itu langsung berjalan kearah mereka berdua, dengan sedikit rasa cemburunya muncul.
"Kalian sedang apa?" Tanyanya ketus.
"Mas Arman cuman ngucapin selamat aja kok mas." Larasati mencoba mencairkan suasana diantara mereka, seperti ada percikan api di tatapan mereka yang saling menatap satu sama lain.
"Saya cuman mau bilang, jangan pernah mengecewakan Larasati. Jika itu sampai terjadi! Jangan salahkan saya jika nanti saya akan merebut dia dari tangan kamu." Arman menepuk bahu Raka dengan tatapan tajam, pergi meninggalkan mereka.
"Saya melarang kamu untuk berhubungan dengan laki-laki itu mulai kedepannya. Saya tidak mau mendengar kamu menyebut namanya!" Ancamnya menatap wajah Larasati, seperti sedang cemburu tapi dia juga tidak tahu kenapa dia bisa semarah ini.
Tanpa sengaja Wulan menabrak Dewi yang sedang memegangi piring penuh makanan, sedangkan Wulan membawa piring kotor yang mau dia taruh dimeja. Alhasil baju mereka berdua kotor semua penuh dengan makanan dan minyak.
Bruk..Gedebuk...prang...
"Aduh!!!!" Teriak Dewi.
"Aaah!!!!!!" Teriak Wulan terjatuh.
Piringnya pun jatuh dilantai dan makanannya berserakan.
Banyak orang melihat kearah mereka, Larasati yang melihat itu segera mendatangi mereka dan menawarkan pakaiannya.
"Kalian gak apa-apa!" Terlihat jelas diwajahnya sedikit khawatir.
"Enggak apa-apa mbak!" Ucap Dewi dengan datar.
"Enggak apa-apa kok mbak, cuman kaget aja." Ucapnya
"Ya sudah kalian ganti baju aja dulu dikamar saya." Larasati menunjukkan kamarnya ke Wulan dan meninggalkan mereka berdua saja dikamar.
Wulan mencoba mencairkan suasana diantara mereka, soalnya dari tadi Dewi hanya diam. Tidak mengajaknya berbicara sama sekali walaupun mereka dikamar hanya berdua saja.
__ADS_1
"Mbak ini temennya mbak Laras kan." Wulan mencoba bertanya membuka pembicaraan.
"Hem." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Bukannya sudah jelas! Kenapa masih tanya." Fikirnya menengok sekilas kearah Wulan sedikit menggelengkan kepalanya, dan berpaling kembali melanjutkan membersihkan bekas makanan yang masih menempel di lengannya.
Walaupun Dewi hanya diam tapi Wulan bukan orang yang gampang menyerah, dia mencoba bertanya lagi walaupun tidak direspon olehnya.
"Wah.... Berarti mbak kenal Arman juga kan pastinya." Wulan mulai mencoba mencari tahu tentang Arman, karena kemarin dia gagal mengorek-ngorek Dimas.
"He'em." Dewi hanya menjawab sekedarnya.
"Nih orang dingin banget ditanya cuman ha hem ha hem doang dari tadi." Batinnya.
"Mbak tau gak apa kesukaan Arman, makanan, hobinya atau kebiasaannya?" Ucapnya memasang wajah penasaran.
"Oh ternyata dia cuman mau cari tau tentang mas Arman dari saya to, heh. jangan harap." batinnya sembari tersenyum seringai.
"Maaf mbak sebelumnya, saya kurang tau soal mas Arman. Saya keluar duluan ya mbak, saya sudah selesai ganti bajunya." Dewi pun meninggalkan Wulan sendirian dikamar Larasati. Dia malas meladeninya.
"Ih jutek banget jadi cewek, heh!!! Gwe sumpahin gak laku ntar baru tau, mana ada cowok yang nanti mau deketin cewek judes kayak gitu." Gerutunya.
Setelah selesai Wulan pun keluar mengikuti acaranya kembali, masih sangat ramai. Dewi yang tadi belum sempat memakan makanannya karena tabrakan dengan Wulan. Dia pun kembali mengambil makanannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ