
Entah kenapa Arman selalu terbayang saat dia mencium bibir Dewi beberapa hari yang lalu. Bahkan saat dia meeting dengan klien dia hampir saja gagal fokus. Sesekali dia memejamkan matanya untuk menghilangkannya.
Saat pulang kantor, Arman menyempatkan mampir ke toko bunga. Pas disaat semua karyawan pulang, sedangkan Dewi dan yang lain tinggal di rumah belakang. Jadi mereka tidak perlu pergi kemana-mana.
Hanya saja Arman ingin meminta maaf masalah tempo hari. Tapi Dewi sengaja bersembunyi darinya. Arman melihat Laras yang sedang menunggu supir untuk menjemputnya berinisiatif menawarkan tumpangan untuknya. Padahal sebenarnya Raka sengaja tidak memperbolehkan Laras pergi dengan laki-laki lain sehingga dia menyuruh supirnya secara pribadi menjemput nyonya-nya pulang kerja. Tapi Arman akan menimbulkan masalah untuk Laras.
"Laras." Sapa Arman
"Eh, mas Arman. Kenapa?" Ucapnya dengan lembut.
"Kamu mau pulang kan?"
"Iya." Lirihnya
"Gimana kalo bareng saya saja, lagipula kita satu arah." Ucapnya, padahal setau Laras rumah mas Arman dan Raka beda arah.
"Searah!" Ucapnya
"Iya." Sambil tersenyum menatap Laras
Laras yang masih bingung langsung saja bertanya "Bukannya rumah mas Arman sama mas Raka itu beda jalur ya."
"Oh, maksudnya. Saya kebetulan ada urusan disekitar sana. Jadi kan searah." Seketika mencari-cari alasan supaya Laras tidak curiga.
Aria yang melihat dari kejauhan hanya menatap mereka dengan datar, seolah memikirkan kenapa bisa sepupunya seperti itu. Cinta bertepuk sebelah tangan, kasihan sekali. Sedangkan dia sendiri juga masih jomblo.
Saat pak supir tiba di toko bunga dan mendapati bahwa Laras sudah diantar pulang oleh Arman, segera pak Epi memberi laporan ke Raka.
Kring....kring....kring
Telfon Raka berdering beberapa kali.
"Halo."
"Halo tuan."
"Ada apa?" Tanyanya
"Begini tuan. Tadi saya kan ditugaskan untuk menjemput non Laras. Tapi non Laras-nya sudah pulang diantar oleh pak Arman kata beberapa karyawan disini." Ucapnya
"Ya sudah, kamu kembali ke rumah." Dengan tatapan tajamnya dia merasa geram mengetahui jika Arman masih mencoba mendekati Laras.
"Sialan!!" Umpatnya. "Beraninya kamu masih mendekati Laras Arman." Raka pun kembali ke rumah sesegera mungkin.
Sesampainya dirumah, Raka berdiri di depan teras jendela lantai 2 untuk menunggu mereka. Beberapa saat kemudian Wulan sampai dirumah Raka saat dia tau kalo Dimas dirumah, Wulan ingin curhat dengan Dimas seperti biasa karena hanya Lily yang biasanya menjadi teman curhatnya. Sekarang ada Dimas.
Melihat sosok Raka berdiri dengan muka yang penuh emosi dan dingin Wulan yang tadinya ingin mengagetkannya mengurungkan niatnya dan pergi ke kamar Dimas.
__ADS_1
"Dimas." Panggilnya dengan keras menarik selimut yang masih dikenakan Dimas.
"Apa sih mbakkkk!" Keluhnya karena masih ngantuk, merebut selimutnya kembali.
"Dim."
"Apa mbak?"
"Mbak mau cerita sama kamu."
"Iya cerita apa? Tumben sama Dimas!" Dengan mata yang masih sayup-sayup karena ngantuk. "Hoahhh...."
"Habis sama Lily dia lagi pergi liburan sama Angga." Cibirnya.
"Ya udah mbak mau ngomong apa?"
Beberapa saat kemudian setelah Wulan menceritakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, terdengar suara mobil Arman didepan rumah Raka.
"Mobil siapa itu, kayak pernah lihat!" Ucap Wulan dari jendela di dalam kamar Dimas.
"Kayak mobil mas Arman."celetuk Dimas menyipitkan matanya memperjelas pandangannya.
"Eh, beneran mobil mas Arman." Timpalnya
"Ngapain mas Arman datang kesini." Batinnya merasa khawatir segera bangun dari ranjang menuju pintu keluar ruang utama di ikutin Wulan dari belakang.
"Makasih ya mas, mas Arman udah baik banget nganterin Laras pulang." Ucapnya
"Iya gak apa-apa, lakukan kan juga aku ada sedikit kerjaan di deker sini."
"Ngapain kamu nganterin istri saya!" Ucap Raka kesal membuat suasana menjadi agak tegang.
"Aku cuman gak sengaja aja, kebetulan aku juga ada kerjaan didekat sini. Lagian saya lebih kenal Laras sebelum kamu!" Ucapnya dengan muka datar acuh tak acuh seperti tidak bersalah membuat Raka semakin panas.
"Istri saya tidak perlu perhatian dari kamu!! Lagian saya sudah mengutus supir saya sendiri untuk menjemputnya." Saling memandang dengan tatapan tajam satu sama lain.
Segera Dimas yang melihat hal itu merangkul Arman dan membawanya kembali ke mobilnya "Eh mas Arman, gimana kabarnya mas. Ngomong-ngomong Susan udah sampai rumah belum." Ucapnya mencairkan suasana sesekali dia memberi isyarat mata ke Wulan supaya memenangkan kakak sepupunya itu. "Pst...pst." mengedipkan matanya beberapa kali.
"Oh." Ucap Wulan pelan melihat isyarat dari Dimas.
"Mas Raka masuk yuk? mbak Laras pasti capek kan habis pulang dari toko? Mbak Laras mandi dulu gih, nanti Wulan masakin makanan kesukaan mbak Laras masa mbok Ijah." Sambil mendorong kedua pasangan suami-istri itu masuk kedalam rumah.
Sedangkan Dimas masih ngobrol dengan Arman di sebelah mobilnya.
"Mas Arman ngapai ke sini?" Tanya Dimas
"Mas cuman kebetulan aja." Jawabnya
__ADS_1
"Mas!" Panggilannya
"Dimas tau kok kalo mas Arman masih suka sama mbak Laras, Dimas juga tau mas gak ada kan kerjaan didekat sini. Dimas itu tau agendanya mas dari Susan, mas lupa kan hari ini jemput Susan. Dia bilang mas gak ada kerjaan hari ini dan janji bakalan jemput dia." Tuturnya.
"Maaf ya Dim. Memang mas masih suka sama Laras, tapi..... Entahlah!!!" Ucapnya
"Ya udah mendingan mas pulang aja dulu." Dimas menyuruhnya pergi
"Iya, mas pamit ya Dim." Ucap Arman dari jendela mobil.
"Iya mas. Hati-hati dijalan!" Sambil melambaikan tangannya.
"Untung aja gak ada yang berantem, serem banget ngelihat mereka layak mau keroyokan." Umpatnya pelan.
Sedangkan dikamar Laras dan Raka sedang berselisih masalah dia diantar pulang oleh Arman.
"Kamu ngapain pergi sama laki-laki itu!"
"Maksud mas, mas Arman!"
"Jangan sebut namanya di depan saya Larassss!!!" Tegasnya.
"Nah terus aku harus panggil nama apa?? Mas ada-ada aja deh, masak sebut nama aja gak boleh!"
"Pokoknya mas gak suka." Ungkapnya.
"Lagian apa susahnya sih nunggu supir datang jemput kamu? Bukannya mas udah bilang ke kamu kalo setiap kamu pulang bakalan ada supir yang jemput?" Sambil mendudukkan Laras ke tempat tidur
"Mas! Mas Arman itu cuman nganterin doang, kita juga gak ngapa-ngapain kok. Mas aneh banget!"
"Saya tetep gak suka Laras!!! Kamu harus tau saya, siapapun laki-laki yang mencoba mendekati kamu. Saya akan patahkan semua kakinya!!" Ancamnya
"Saya kenal sama mas Arman, dia itu laki-laki yang baik."
"Itu menurut kamu!"
"Selama ini saya kenal sama mas Arman, dia gak pernah ngapa-ngapain. Dia itu baik kesemua."
"Apa kamu pernah bertanya keteman-teman kamu yang lain kalo dia sebaik itu? Hah? Tidak kan?"
"Mas itu jangan salah faham kayak gitu."
"Siapa yang tidak salah faham jika istrinya diantar pulang oleh laki-laki yang pernah menyukai istrinya."
"Mas tau dari mana? Mas itu jangan ada-ada! Udah ah, Laras capek mau mandi." Seketika Raka menarik tangan Laras melemparkannya ke tempat tidur "kamu perlu dihukum Laras, supaya kamu tau batasan untuk tidak dekat dengan laki-laki itu lagi." Ucapnya
"Mas mau apa." Suasana hati Laras mulai tegang, jantungnya pun berdegup kencang saat melihat suaminya melepas bajunya.
__ADS_1