Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
dunia memang sempit


__ADS_3

Sudah satu minggu Lily pulang dari rumah, dia beranjak dari ranjangnya keluar kamar dan menemui paman dan bibinya. Dia meminta untuk di izinkan jalan-jalan berkeliling kompleks untuk menghirup udara pagi yang masih segar. Lily berjalan ditemani Wulan, Karena paman dan bibinya khawatir jika Lily terjatuh atau kelelahan mereka menelfon Wulan untuk menemani keponakannya itu. Tadinya mereka menghubungi Anggara namun dikarenakan pekerjaan yang sibuk, Anggara meminta Wulan yang datang.


Mereka berkeliling kompleks, tanpa sengaja mereka bertemu Larasati yang tengah berolahraga lari dengan Dimas.


Dari kejauhan derap kaki Dimas dan Larasati terdengar mengalihkan pandangan Lily dan Wulan menuju ke arahnya.


"Plak...plak...plak..."


"Dim-dim..." Teriak Larasati kelelahan mengejar adiknya


"Apa sih mbak."jawab Dimas dengan nada rendah


" Hurth.... bentar-bentar, mbak capek banget. Istirahat bentar ya." Pinta Larasati ke Dimas, Larasati pun membungkukkan karena pinggangnya terasa linu.


"Ya udah Dimas tunggu di pertigaan ya. Hehehehe...." Teriak Dimas terkekeh berlari meninggalkan Larasati yang tengah lemas kelelahan.


"Dasar Dim-dim... awas aja ya nanti." Ujarnya duduk beristirahat sejenak.


Wulan dan Lily pun melanjutkan berkeliling meninggalkan Larasati, Larasati menoleh ke arah mereka berdua.


"Siapa dua perempuan itu." batin Larasati menengok sepintas.


Sepintas dari belakang Larasati berfikir seperti pernah bertemu mereka tapi dimana, Larasati lupa. Setelah meneguk air yang dia bawa Larasati berdiri dan mulai kembali berlari mencari Dimas.


"Kenapa kamu melihat perempuan itu terus, kamu kenal??" Tanya Wulan penasaran


"Enggak juga, cuman kayak pernah lihat tapi dimana, aku lupa." Tutur Lily sambil berjalan


"Pastinya orang sini kan, kan kamu dah lama dirumah sakit jadi lupa sama beberapa orang yang tinggal disini." Jelas Wulan


"Enggak kok, kayak baru lihat aja gitu disini. Tapi kayak pernah lihat sebelumnya tapi bukan disini." Masih berfikir dimana dia pernah bertemu dengan Larasati


"Ih dasar pelupa." Ejeknya


"Udah yuk jalan lagi, kata om sama Tante gak boleh jalan lama-lama." Imbuh Wulan menggandeng lengan Lily.


"Siapa ya perempuan tadi, aku kayak pernah ketemu tapi dimana??"Batin Lily.


Mereka berdua berkeliling bertemu beberapa tetangga dan menyapanya, tak disangka di persimpagan jalan mereka bertemu kembali. Sedangkan Dimas mengenali Lily karena mereka sering bertemu sebelum Lily masuk rumah sakit.


Lily melihat Dimas dari kejauhan dan berjalan menghampirinya, sedangkan Larasati tengah duduk dipinggiran jalan lesehan karena kecapekan dikerjain Dimas keliling kompleks sampai semuanya. gerutu Larasati tak henti-hentinya memarahi Dimas kesal. Dimas hanya terkekeh senang membuat Larasati kelelahan.


"hehehehe." kekeh Dimas


" Seneng kan kamu lihat mbak kayak gini, dosa kamu ngerjain mbak Dim." ujar Larasati mencibir Dimas.


"hehehehe....seneng mbak, biasanya kan mbak Laras yang ngerjain Dimas sama ibu. Heleh." ejek Dimas memutar kedua bola matanya ke atas.


Lily mendekati Dimas dan menyapanya, Wulan juga mengenal Dimas karena dia kemarin sempat mengantar bapaknya ke rumah pak RT untuk renovasi rumahnya. Dari situlah Wulan mengenal Dimas.


"Dimas apa kabar?" sapa Lily melangkah mendekati mereka yang tengah istirahat.


Dimas pun menoleh "Eh... mbak Lily, Alhamdulillah baik mbak. Mbak Lily gimana kabarnya, udah baikan?" tanya Dimas.


"Alhamdulillah udah." Lirih Lily menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mbak Lily ini yang waktu itu Laras kirimin bunga ke rumah sakit bukan?" celetuk Larasati mendongak ke atas.


"Oh... pantesan saya tadi kayak pernah lihat tapi dimana saya lupa. Iya mbak itu saya." ucap Lily ramah.


"Dimas sayang gak inget sama aku." goda Wulan gerik tubuhnya manja.


"Mbak inget umur, geli ah!" celetuk Dimas ketus.


"ih..dingin banget jawabnya." desis Wulan menyebikkan bibirnya.


"hahaha..." mereka pun tertawa semua melihat tingkah Wulan, Wulan memang seperti itu ke setiap orang yang sudah dia kenal.


"Mbak Lily udah kenal sama mbak Larasati?" tanya Dimas


"Belum, cuman pernah ketemu sekali pas di rumah sakit." Timpal Larasati


"Belum." ucap Lily tersenyum.


"Aku gak dikenalin nih." dengan percaya diri menyodorkan tubuhnya bergaya


"Enggak perlu."ucap Dimas singkat.


"Sumpah jahat banget nih anak. Boleh gak sih gwe cekek. heh!!!!!" kesal Wulan memalingkan wajahnya


"Hus!" tegur Lily


Mereka pun berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.


"Oh ya, kenalin mbak Lily. Ini mbak Laras kakak Dimas dari desa baru beberapa bulan pindah ke rumah Dimas." Dimas memperkenalkan Larasati itu kakaknya.


"Lily." tersenyum


"Saya Wulan, sahabat baik Lily sayang." sambil memeluk sahabatnya dengan erat membuat Larasati tersenyum.


"Ngomong-ngomong mbak Lily tinggal dimana?"tanya Larasati disaut Dimas


"Mbak Lily ini keponakan Pak RT mbak, yang kemarin direnovasi bapak. Yang minta dibuatin kolam ikan tempo hari itu lho."jelas Dimas secara detail.


"Oh.."ujar Larasati membuka mulutnya dan menganggukkan kepalaku menaik-turunkan dagunya


"Dunia itu sempit ya, ternyata mbak Lily tinggal disini juga." batin Larasati menatap Lily yang tengah berbicara dengan Dimas.


Hari mulai siang mereka pun berpisah di persimpangan kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Larasati sedari tadi penasaran dengan Wulan dan Lily bertanya tentang mereka ke Dimas, sayangnya Dimas juga tidak tau banyak tentang mereka. Yang Dimas tua hanya Lily yang dari kecil tinggal bersama pak Husen dan Bu Olivia yang memiliki 2 orang putra bernama firman (20tahun) dan Zaki (16tahun).


Dimas mengajak Larasati pulang, sesampai dirumah Larasati segera mandi dan membantu bu lek nya memasak untuk makan siang. Di hari minggu semua orang libur berada dirumah.


"Bu lek mau masak apa?" tanya Larasati dari belakang dan menyenderkan dagunya di bahu Bu Sumi.


"Bu lek mau bikin sayur asem kesukaan pak lek mu, sama ikan asin, sambal terasi." jawabnya


"Laras bantu apa ini Bu lek?" ucap Laras manja.


"Bantuin ini aja, goreng kerupuk tempe sama itu ayam kesukaan adekmu." kata Bu Sumi sambil menunjuk ayam yang sudah direbus terlebih dahulu dengan bumbu kuning.


"Wah....enak ini pasti ayamnya, Laras jadi kangen sama ibu sama bapak." ucap Larasati memikirkan kedua orang tuanya

__ADS_1


"Bukannya kemarin kamu sudah telfon ibumu to ndhok." tanya ibu Sumi.


"Iya sih Bu lek, cuman makanan kesukaan pak lek itu lho. Sama banget sama makanan kesukaan bapak yang sering Laras buat, kan Laras jadi kangen bantuin ibu masakin buat bapak." kalimat Larasati membuat Bu Sumi tersenyum melihat keponakannya yang sangat sayang kepada kedua orang tuanya.


Larasati dan Bu Sumi melanjutkan masakan-masak, sedangkan dipekarangan Dimas sedang membantu bapaknya memperbaiki genteng yang jatuh karena ulah kucing-kucing yang kejar-kejaran di atap rumah mereka tiap malam.


"Pak kasih jebakan aja tuh kucingnya biar pada jera." ucap Dimas kesal karena setiap malam kucing-kucing itu mengganggu tidurnya


"kamu ini, kucing itu kesayangan nabi Muhammad. Dosa kamu Dim!" tegur pak Kasman ke putranya yang tengah memegangi anak tangga.


Sedangkan pak Kasman tengah memanjat tangga memperbaiki beberapa genteng yang patah. Takut jika nanti siapa tau hujan turun kamar Dimas atapnya bocor.


"Udah belum pak, capek nih Dimas megangin terus." ucap Dimas


"hemm..." pak Kasman hanya menggelengkan kepalanya


selesai memasak Larasati memanggil pak Kasman dan Dimas untuk makan siang bersama karena masakannya sudah selesai dibuat.


Dimas pun pergi mandi terlebih dahulu sebelum menyusul yang lain di dapur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


tinggalkan masukan dan kritiknya


__ADS_2