
Diperjalanan Bu Siti menanyakan kondisi adik iparnya itu ke Dimas, mereka sangat khawatir. Namun Dimas melarang mereka menjenguk bapaknya di rumah sakit, Dimas meminta mereka untuk istirahat terlebih dahulu setelah perjalanan yang lumayan panjang dari desa ke Jakarta. Di depan rumah Dimas juga sudah ada Wulan dan Lily yang tengah menunggu kedatangan mereka dari terminal. Wulan juga membawakan makan malam untuk orang tua Larasati, dia ingin membuat kesan baik dihadapan orang tua calon kakak iparnya itu.
Suara klakson mobil..
Din...Din...Din...
Pak supir sengaja membunyikan klakson mobil untuk memberitahu kepada Wulan dan yang lain bahwa mereka sudah sampai depan rumah. Dimas heran plus kaget melihat Wulan dan Lily yang sudah berdiri di depan rumahnya.
"Ngapain mbak Lily sama si genit disini" batinnya penasaran.
Dimas dan yang lain turun dari mobil dibantu pak supir yang membawa semua barang-barang mereka. Wulan menghampiri Dimas.
"Assallamuallaikum." Sapa Wulan dan Lily serentak.
"Waallaikumsallam." Ucap Bu Siti.
"Waallaikumsallam." Timpal pak Parman.
"Mbak Wulan sama mbak Lily ngapain disini??" Tanya Dimas mengerutkan keningnya.
"Tadi mbak denger dari Wulan kalo orang tua mbak Laras mau ke sini, jadi mbak ikut aja buat nyambut kedatangannya." Tutur Lily menjelaskan.
"Maaf ya..., Mbak Lily lancang." Imbuhnya.
"Ooo....!!!! Trus mbak Wulan ngapain hayo....???" Timpalnya
"Mbak ya mau ikutan nyambut juga lah, kan calon ponakan." Ungkapnya membuat Dimas mengangkat sudut bibirnya merasa geram.
"Ihhhhhhhh....., Calon ponakan apaan!!! Ih..ih..ih...!!! Jangan ngadi-ngadi deh mbak, enak aja! Emang mbak fikir Dimas mau! Ejek Dimas tanpa dia tau apa maksud Wulan bukan ditujukan padanya melainkan Larasati.
"Ihh.....!!!!! Pede banget sih jadi orang, maksudnya itu mbak Laras kan bakalan jadi kakak ipar gwe Bambang!!!" Ucap Wulan dengan kesal.
"Eh.. sejak kapan mbak Laras punya pacar." Tegas Dimas.
"Sejak..em...sejak..em...sejak.." ucapan Wulan terbata-bata karena bingung harus mencari jawaban apa.
"Ehh....!!! Udah-udah, ini kok malah pada berantem sendiri. Ini bantuin, kita masuk dulu!!" Celetuk Lily memotong pembicaraan mereka yang kekanak-kanakan.
"Dasar anak kunyuk satu ini, awas aja ya entar." Batinnya memanyunkan bibirnya.
"Ishh..." Desis Dimas meledek Wulan semberi menaikan sudut bibirnya.
"Ayo Tante, Om." Lily mengajak orang tua Larasati untuk masuk.
"Biarin aja Om, Tante. Mereka kalo ketemu mang kayak gitu, kayak kucing ketemu anjing. Udah tuh cakar-cakaran." Imbuhnya meledek kelakuan dua anak bocah.
"Ish...apaan sih!!!"desis Wulan .
"Dasar bocah!!" Ledek kembali Dimas
"Ehh...elu yang bocah!!!!" Saut Wulan dengan nada tinggi.
"Udah-udah ndhok jangan berantem, udah malem. Gak enak nanti kalo ganggu tetangga." Bu Siti mencoba menenangkan mereka, dia tau kalo keponakannya itu memang suka usil bahkan juga kadang seperti itu tingkahnya terhadap Larasati membuat Bu Siti sudah terbiasa.
"Dimas ini Tante!" Sambil berkata Wulan menunjuk-nunjuk Dimas.
"ilihh....bisanya ngadu!" Cibirnya.
"Udah-udah to le." Pungkas Pak Parman menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"kalian ini kok kayak anak kecil aja." celetuk pak Parman.
"Dimas tuh yang masih bocah." gerutunya.
Setelah masuk kedalam rumah Dimas, Wulan lupa memperkenalkan dirinya pada orang tua Larasati. Lily pun sama lupa, mereka membantu Dimas membereskan barang-barang bawaan Bu Siti. Tak lupa Wulan dan Lily segera menata makanan yang sudah mereka bawa sebelumnya untuk mereka makan bersama, Wulan memang anak yang perhatian bahkan sedetail apapun dia persiapkan.
"Makan dulu semuanya, yuk...!!!" Teriak Wulan yang baru masuk ke ruang tamu dari dapur belakang.
Melihat Wulan, Dimas tanpa sengaja tersenyum tipis dengan perhatian Wulan kepada pak lek dan Bu leknya. Wulan didepan Dimas kadang memang menyebalkan tapi kadang juga bisa membuat Dimas merasa dekat. Tak tau entah apa yang dia pikirkan tentang Wulan karena usia mereka terpaut hampir lima tahun.
"Oh iya, ibu tadi lupa nanya. Nak Wulan ini siapanya Dimas, dan siapa tadi yang satu lagi???" Tanya Bu Siti yang sedari tadi belum tau mereka siapanya keponakannya.
"Mbak Lily Bu lek." Jawab Dimas.
"Lily Tante." Ucap Lily lirih sembari memakan makanannya.
"Kalian ini temen-temenmu to le?" Tanya pak Parman.
"Bukan pak lek, tepatnya mbak Lily ini ponakan ketua RT disini." Ucap Dimas menjelaskan ke pak leknya.
"Ooo...., Pak lek kira pacar kamu le!!" Ucapan pak Parman membuat mereka semua tersenyum.
"Iya Om, saya ponakan ketua RT disini. Karena Om sama Tante saya udah istirahat sudah malam, jadi saya yang mewakili ke sini." Imbuh Lily.
"Kalo yang ini siapa??" Tanya Bu Siti lirih sambil melirik ke arah Wulan.
"ihhhhhhhh....dia bukan siapa-siapa, gak usah dipikirin Bu lek!" Sindir Dimas meledek Wulan.
"Ihhhhhhhh...jahat banget, ati-ati ntar naksir lho!!" Ledek Wulan membuat senyum Dimas pudar tergantikan wajah datar mulai kesal.
"Saya temennya Lily Tante, sekaligus Calon adik iparnya mbak Laras. Hehehehe...!!!" Kekehnya.
"Ish!!!" Tegur Lily menyenggol lengan Wulan dengan sikunya.
"Bercanda kok Tante." Ucapnya sedikit ragu-ragu.
Selepas makan malam bersama, Wulan dan Lily berpamitan. Wulan pulang dengan supirnya yang sedari tadi menunggu diluar rumah, sedangkan Lily berjalan kaki diantar Dimas karena Wulan harus buru-buru pulang. Sedangkan dirumah sakit Bu Sumi menyuruh Larasati untuk pulang karena sudah dari kemarin dia menemani Bu Sumi. Larasati nampak kelelahan, raut wajahnya sedikit memucat. Maka dari itu Bu Sumi memintanya untuk pulang beristirahat bersama keluarganya di rumah. Kebetulan Arman datang untuk menengok pak Kasman, dia sengaja datang bukan hanya untuk menengok pak Kasman melainkan dia masih ingin melihat Larasati.
"Assallamuallaikum." Arman melangkah masuk membawa dua kotak makan untuk Larasati dan Bu Sumi.
"Waallaikumsallam." Jawab Larasati dan Sumi menoleh ke arah pintu masuk.
"Mas Arman ngapain malam-malam ke sini." Tanya Larasati sepontan.
"Eh...nak Arman, masuk sini!" Sapa Bu Sumi menyuruh Arman masuk.
"Makasih Tante." Jawabnya datar.
"Mas Arman ngapain malam-malam kesini." Timpalnya lagi.
"Aku sengaja ke sini bawa makanan, aku tau kalian pasti belum makan." Ucapnya.
"Ini Tante." Arman menjulurkan makanan yang ada di tangannya.
"Gak usah repot-repot nak, makasih lho sebelumnya ya." Ucapnya lembut.
"Sama-sama Tante." Ucapnya ramah.
Arman menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu, setelah makan Arman berbincang dengan Larasati di bangku luar ruangan pak Kasman.
__ADS_1
"Gimana kondisi Om Kasman sekarang?" Tanya Arman yang duduk disebelah Larasati.
"Alhamdulillah kondisi pak lek sekarang semakin membaik, kata dokter mungkin dua hari lagi sudah boleh dibawa pulang." Larasati menjelaskan ke Arman, hanya saja ucapan Larasati terdengar seperti orang yang kelelahan. Terlihat jelas kantuk diwajahnya.
"Sebaiknya kamu pulang istirahat." Arman berdiri dan masuk kedalam ruangan menemui Bu Sumi.
"Gak apa-apa kok mas." Ucapnya lirih.
Arman memberi saran ke Bu Sumi untuk mengizinkan dia mengantarkan Larasati untuk pulang beristirahat. Melihat itu Bu Sumi tentu saja menyetujui permintaan Arman mengantarkan Larasati pulang untuk istirahat.
"Ya udah kalo gitu kita pulang dulu Tante." Ucapnya.
"Iya nak Arman, hati-hati dijalan ya nak. Gak usah ngebut!" Pintanya untuk menjaga Larasati.
"Bu lek, Laras pulang dulu ya. Besok pasti Larasati kesini lagi sama bapak sama ibu." Larasati berpamitan dengan Bu Sumi dan mencium punggung tangannya, di ikuti Arman yang juga melakukannya.
"Kalo begitu kami pergi dulu Tante, assallamuallaikum." Ucapnya melangkah keluar.
"Assallamuallaikum Bu lek." Disusul Larasati dari belakang.
"Waallaikumsallam." Bu Sumi pun ikut berbaring di sofa samping ranjang suaminya.
Diperjalanan karena Larasati memang sejak awal terlihat kelelahan, dia pun tertidur sepanjang jalan pulang. Arman yang melihat itu membiarkan Larasati tertidur lelap dan menutupi badannya dengan jaket yang dia bawa, terlihat sangat romantis seperti cuplikan adegan-adegan di drama-drama percintaan yang unyu-unyu.
Sesampainya didepan rumah Dimas, Arman berhenti sejenak dan dia memang sengaja tidak membangunkan Larasati. Dia ingin melihat sedikit lebih lama lagi.
Tiba-tiba dibalik kaca spion mobilnya ada sosok pria yang mengetuk jendelanya, saat Arman membuka pintu ternyata itu pak Epi supir pribadi Oma Astuti. Pak Epi tadinya sudah pulang ke kediaman Raka, hanya saja Oma Astuti memerintahkan beliau untuk kembali ke rumah Dimas supaya memudahkan Larasati dan keluarganya pergi ke rumah sakit. Tidak perlu lagi memanggil taksi, tentu saja pak Epi mau karena Oma Astuti tidak akan merugikannya dengan menawarkan gaji dua kali lipat. Walaupun harus tidur di mobil. Arman pun membangunkan Larasati dan dia segera pulang, pak supir hanya takut jika terjadi sesuatu pada Larasati. Karena semenjak tadi dia melihat mobil Arman diam, wajar saja jika pak supir berfikir negatif.
Pak Epi memang ditugaskan juga mengawasi gerak-gerik Arman. Oma Astuti takut jika Larasati dan Arman memiliki hubungan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ