Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
pusing dan penolakan


__ADS_3

Selesai makan Dimas melihat Larasati yang tengah memikirkan sesuatu diteras, Dimas pun menghampirinya.


"Mbak Laras dari tadi lagi mikirin apa?" Sapa Dimas yang dari tadi melihat Larasati melamun didepan rumah sendiri dengan tatapan kosong.


"Mbak Laras." Panggilnya lagi.


"Eh, kamu Dim." Ucapnya.


"Mbak Laras ngapain disini, anginnya kencang mbak. Nanti masuk angin lagi, angin malam gak baik buat badan mbak." Bujuk Dimas mengajak Larasati masuk kerumah, sepertinya akan turuh hujan. Gerimis kecil sudah mulai terasa.


"Gak apa-apa Dim." Ucapnya menadahkan tangan merasakan butiran air yang turun dari langit jatuh ke tangannya.


"Udah mau hujan mbak, ayok masuk aja." Timpalnya.


"Kamu aja masuk dulu dek, mbak masih mau diluar sebentar lagi." Larasati pun memejamkan matanya merasakan udara malam yang dingin seperti menembus tulangnya.


"Kalo mbak Laras ada apa-apa, mbak Laras bisa cerita sama Dimas." Dimas melihat kegelisahan Larasati mencoba menenangkan fikirannya.


"Tadi siang mas Raka Dateng ke toko." Ucap Larasati.


"Trus.." ucap Dimas singkat.


"Dia tanya sama mbak tentang lamaran Oma kemarin." Larasati mulai membicarakan soal lamaran Oma Astuti.


"Terus mbak jawab apa?" Tanya Dimas yang sedikit khawatir dengan Larasati.


"Mbak gak tau mau jawab apa, jadi mbak diem aja." Ucapnya singkat.


"Astaghfirullah mbak." Dimas menepuk jidatnya melihat kegalauan mbaknya itu.


"Hem... hufffftt. Gini ya mbak, Dimas mau ngomong sama mbak. Tapi mbak Laras janji ya jangan marah sama Dimas." Dimas meminta Larasati menjawab pertanyaannya untuk Larasati sendiri.


"Iya, emang kamu mau ngomong apa?" Larasati mulai penasaran.


"Tentang mas Raka sama mas Arman." Celetuknya.


"Hem." Mendengar kata Arman, Larasati seolah terhipnotis diam saya membayangkan Arman. Dia juga bingung dengan perasaannya terhadap Arman, selama ini mas Arman memang selalu perhatian ke Larasati. Dulunya Larasati memang sempat memiliki perasaan padanya, tapi sekarang seolah-olah seperti sudah sedikit demi sedikit memudar karena kehadiran Raka yang terus-menerus mendekatinya.


"Mbak! Mbak..... Mbak Laras dengerin aku ngomong kan?" Panggil Dimas berkali-kali.


"Oh..., Iya. Kenapa? Tadi kamu ngomong apa?" Jawab Larasati tersadar dari lamunannya.


"Hem. Ini nih akibatnya banyak pikiran. Mbak Laras gak bisa ya tenang dulu." Dimas langsung menegurnya supaya menenangkan hatinya.


"Iya." Ucapnya lirih.


"Sebenarnya mbak itu suka masa siapa? Mbak suka gak sih sama mas Arman? Atau malah mas Raka?" Tanya Dimas padanya.


"Tolong mbak jawab jujur dan pertimbangkan lagi mbak, aku gak mau mbak kecewa nantinya dengan pilihan mbak karena terpaksa atau terburu-buru. Ingat ya mbak!" Kalimat yang keluar dari mulutnya Dimas membuat Larasati berfikir berulang-ulang.


"Aku gak butuh jawaban mbak Laras, tapi!!" Timpalnya tegas.


"Yang lebih membutuhkan semua jawaban itu hanya mbak sendiri, semua keputusan ada ditangan mbak Laras. Jangan lupa ya mbak, minta petunjuk sama Allah. Mbak juga butuh pendapat pak Dhe dan Bu Dhe." Setelah mengucapkan semua itu Dimas menepuk pundak Larasati dan pergi kedalam kamarnya.


Mendengar semua yang diucapkan Dimas, Larasati hanya terdiam kembali memikirkan semua. Larasati menuju kamar bapak dan ibunya, Larasati tidak mau menyusahkan pak lek dan Bu leknya. Jadi dia hanya membicarakan itu dengan kedua orang tuanya.


"Bu, pak. Ada yang mau Larasati bicarain, Laras boleh masuk kan?" Ucap Larasati didepan pintu kamar bapak dan ibunya.

__ADS_1


"Ono opo to ndhok. Yo wes sini masuk dulu." Ucap pak Parman.


"Kenapa cah ayu, sini anak ibu mau ngomong apa?" Tanya Bu Siti.


Larasati menceritakan semuanya tapi tidak tentang kontrak perjanjian itu, dia meminta pendapat kedua orang tuanya tentang lamaran Raka.


"Menurut ibu sama bapak gimana?" Tanya Larasati.


"Kalo ibu terserah kamu ndhok, yang penting kamu bahagia." Ucap Bu Siti membelai kepala putrinya dan memeluknya.


"Menurut bapak, jangan ambil keputusan yang merugikan kamu sendiri nantinya ndhok. Coba kamu pikirkan lagi secara jernih, dan juga jangan terlalu gegabah ya ndhok. Jangan sampai kamu mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri karena hutang budi. Walaupun kita tidak mampu membayar budi Oma Astuti, setidaknya kita akan menjual tanah dikampung supaya bisa membayarnya nanti." Pak Parman tau posisi Larasati seperti apa, jadi dia mencoba membuat putrinya itu tidak terlalu beban pikiran.


"Kamu jangan terlalu banyak berfikir ya ndhok." Timpalnya lagi.


"Tapi itu gak sedikit pak." Ucap Larasati mencoba menghitung semua jumlah biaya rumah sakit dan operasi pak leknya.


"Udah-udah, kamu denger aja apa kata bapak ya ndhok. Jangan terlalu banyak pikiran. Sekarang kamu tidur saja ya." Bujuk Bu Siti merayu putrinya supaya tidak stress memikirkan lamaran yang mendadak itu. Pak Parman dan Bu Siti saja juga bingung, mereka baru sampai beberapa hari dijakarta tapi sudah dikagetkan oleh Oma Astuti yang ingin melamar Larasati untuk cucunya.


"Ya udah pak, Bu. Laras masuk kamar dulu ya." Ucap Larasati melangkah pergi.


"Iya ndhok." Ucap Bu Siti lembut.


Larasati pun kembali ke kamarnya.


"Aku pusing memikirkan semuanya berkali-kali." sambil membaringkan tubuhnya diatas kasur, tanpa sadar dia sudah tertidur lelap karna kecapekan sehabis kerja dan memikirkan banyak hal.


Siangnya Raka datang menjemput Larasati dan mengajaknya makan siang. Larasati sudah semalaman memikirkan apa yang akan dia ucapkan. Tapi dia masih sangat gugup untuk berucap.


"Gimana?" Tanya Raka. Larasati hanya terdiam.


"Hem." Larasati masih ragu dengan keputusannya, tapi saat dia mengingat nasehat kedua orang tuanya dan Dimas. Larasati menguatkan pertimbangannya.


"Hemm...! Sebelumnya saya minta maaf mas, sepertinya saya harus menolak tawaran mas Raka soal semua isi didalam kontrak ini." Ucapnya dengan nada lirih.


"Kenapa?" Saut Raka menatapnya dingin.


"Apa masih belum cukup, atau masih kurang banyak keuntungan yang bakalan kamu peroleh." Timpalnya meremehkan.


"Ini bukan masalah keuntungan, uang atau materi mas! Masalahnya saya sama sekali belum siap untuk menikah, apa lagi menikah dengan mas Raka yang sama sekali belum saya kenal." Tuturnya mencoba menjelaskan.


"Saya gak butuh pengenalan Laras!! Saya hanya butuh kamu setuju. Itu saja!!!" Tegasnya.


"Mas sudah gila ya!" Ucapnya lantang.


"Apa kamu pikir saya juga mau menikah dengan kamu kalo bukan karena Oma!!" Tanpa berfikir panjang, hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.


"Hah!" Larasati seketika bengong mendengar jawaban Raka.


"Apa?" Teriaknya.


"Jadi maksudnya, mas meminta saya menerima lamaran itu karena Oma. Gitu!" Larasati meminta penjelasan Raka.


"Menurut kamu." Dengan sombongnya Raka menatap sinis Larasati.


"Oh." Hati Larasati seolah tersayat pisau tajam.


"Saya tetep menolak, kedua orang tua saya dan juga Dimas akan pulang ke kampung halaman. Dan mereka akan tinggal disana, jadi mas Raka gak perlu khawatir tentang kondisi pak lek saya. Dan juga, orang tua saya akan menjual beberapa tanah untuk membayarnya." Larasati mencoba melawan namun perlawanannya tak bisa menandingi Raka.

__ADS_1


"Kamu inget ya Laras, berapa biaya rumah sakit pak lek kamu. Semua totalnya akan saya kasih ke kamu, sekarang kamu pegang saya kontrak itu. Apa kamu yakin membiarkan kedua orang tua kamu menjual semua tanahnya." Raka terus-menerus mencoba menekan Larasati.


Seketika Larasati baru ingat jika Raka lah yang membiayai pengobatan pak leknya hingga kini.


"Saya kasih kamu waktu sampai nanti malam, saya akan jemput kamu kembali. Sekarang biar saya antar kamu pulang." Raka lantas berdiri dan beranjak pergi.


"Hem!!" Larasati hanya bisa pasrah mengikuti langkah Raka dari belakang menundukkan kepalanya sambil menghitung langkahnya.


Duk..


"Aduh!!!" Teriaknya tanpa sadar dia menabrak punggung Raka yang berhenti tiba-tiba didepannya.


"Apa kamu gak bisa jika jalan melihat kedepan." Sindirnya menatap Larasati.


"Mas sendiri kan yang berhenti tiba-tiba." Gerutunya.


"Orang juga tau yang salah itu siapa!" Ucap Raka sinis.


"Idihhhhh, dia sendiri yang berhenti mendadak malah nyalahin orang." Batinnya menatap Raka.


"Mata kamu tuh mau copot." Sindir Raka menunjuk ke tanah.


"Mana ada!" Celetuk Larasati.


"Kamu ngapain melototi saya?"ucapnya ketus.


"Siapa juga yang melototin." Gumamnya menggigit bibirnya.


Raka pun mengantar Larasati sampai rumahnya dan dia kembali kekantor. Masih banyak pekerjaan yang tertunda gara-gara mengurusi permasalahan Larasati karena Omanya ngotot ingin Larasati menjadi cucu mantunya dan tidak mau yang lain.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2