
Wulan masuk ke ruangan Lily, sayangnya dia tidak melihat keberadaan sahabatnya itu. Wulan keluar dan bertanya ke perawat dimana Lily berada, perawatan mengatakan jika Lily tengah jalan-jalan di taman belakang rumah satik. Wulan pun bergegas ke taman belakang rumah satik, di taman belakang ada sebuah kolam kecil penuh dengan ikan koi emas.
Lily memang suka ke sana sekedar memberi makan ikan-ikan kecil itu. Dari pagi Lily duduk di bangku dekat kolam menikmati udara segar dibawah pohon yang rimbun, dedaunannya membuat suhu udara di sana sejuk. Sebenarnya setiap pagi Lily selalu ke sana untuk berjemur matahari, itu juga saran dari dokter supaya dia mendapat vitamin D dari paparan sinar matahari pagi.
Wulan berjalan di lorong tapi tampak sangat sepi, memang jarang penghuni rumah satik yang pergi ke taman belakang. Tempatnya sedikit terpencil dari taman utama yang disiapkan oleh rumah satik untuk para pasien yang ingin berjalan-jalan karena bosan setiap hari diruangan mereka. Lily memang suka tempat yang sepi, dia juga suka suasana yang sunyi membuat perasaannya lebih tenang.
Nampak dari kejauhan Wulan sudah melihat punggung sahabatnya itu yang tengah duduk di bangku taman ditemani seorang perawat yang menjaganya.
"plak...plak...plak...plak..."
suara langkah kaki Wulan yang tengah berlari menghampiri Lily seketika menoleh kebelakang dan senyum di bibirnya pun terbit.
"Lily i Miss You....!!!!!(Lily aku merindukanmu....!!!!!)" teriaknya tiba-tiba memecah ketenangan yang ada di sana membuat Lily tertawa kecil.
"Kebiasaan!" celetuk Lily terhadap sahabatnya itu, Wulan langsung memeluk Lily karena sudah sekitar 1 Minggu dia tidak melihat Lily. Kesibukannya mengawasi restoran milik orang tuanya membuat Wulan terpaksa hanya bisa menengok sahabatnya itu seminggu sekali.
Wulan memanyunkan bibirnya manja "Kangen.....!!!" sembari mengencangkan pelukannya menempelkan pipinya ke pipi Lily, Lily pun mengelus kepala Wulan.
"Udah makan siang belum?" Lily menatap dengan senyuman.
"Udah tadi sebelum kesini, kan aku dari restor. Sayangnya kamu belum boleh makan yang aneh-aneh, jadi aku gak berani bawain kamu makanan. Takut sama satpammu kalo kamu kambuh!!!" menyeringai menaikan sebelah bibirnya meledek Lily.
"hemmm......." Lily hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Masuk yuk, dah panas ini. Jangan kebanyakan kena angin, nanti kamu masuk angin." ajak Wulan menggandeng tangan Lily.
"Ya udah iya." ucap Lily lembut
Saat Lily dan Wulan mau kembali ke kamar tiba-tiba.
"Seretttt...!!!!"
"Aaaaa.................!!!!!!!!!!!!!" Teriak Wulan kaget.
"Cebur...!!!"
"Sialan!!" teriaknya sambil memukul-mukul air kolam dengan tangannya, membuat airnya mengenai baju Lily dan suster
"Ah...!" teriak suster dan Lily beriringan.
"kolam kecil gak tau diri, beraninya bikin aku nyemplung." umpatnya memaki-maki kolam ikan.
"Astaghfirullah..!!" teriak Lily panik melihat temannya itu jatuh tercebur kedalam kolam ikan, badan bulan basah kuyup hingga ke rambutnya.
"Ih...rambutku rusak lagi kan, baru juga habis dari salon. ihh...!!! gerutu Wulan jengkel hingga membuat Lily dan suster yang dari tadi menemani mereka menahan tawanya karena kasian "
"Kamu ini bikin kaget aja, bisa gak sih gak bikin ulah. Tapi kamu gak apa-apa kan? gak ada yang sakit kan? Ada yang lecet gak?" tanya Lily khawatir ke Wulan
"Gak apa-apa, tapi gimana ini. Bajuku basah gini, kamu ada baju ganti gak di kamar?" Wulan bertanya balik ke Lily.
"Baju kering ada kok di laci." ucap Lily menahan senyumnya.
Wulan pun mengajak Lily masuk ke ruangannya, sesampainya mereka Wulan menumpang bersih-bersih dikamar mandi rumah satik yang ada dikamar Lily, tidak lupa dia meminta bagi ganti.
Wulan pun meminta supirnya untuk mengambil bajunya yang basah dan membawanya ke laundry langganannya. Tak hanya itu, dia meminta supirnya itu untuk membelikan beberapa keperluan Lily, padahal Lily sudah menolak. Wulan yang keras kepala dan tulang ngotot memnag tidak bisa dibantah.
Sedangkan di depan lobi rumah sakit Larasati bertanya keperawatan ruang cempaka nomor 22 atas nama Lily, salah seorang suster yang bekerja disana mengantar Larasati menuju ruangan Lily.
"Permisi sus." ucap Larasati ke resepsionis rumah sakit.
"Iya mbak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang suster.
"Numpang tanya sus, ruang cempaka nomor 22 atas nama Lily disebelah mana ya sus???" tanya Larasati sambil memegangi buket bunga.
__ADS_1
"Ohh...ruangan ibu Lily." ucap salah seorang suster yang baru saja merapikan kamar yang ditempati Lily.
"Iya sus, saya mau mengantarkan pesanan bunga ke tempat beliau." tutur Larasati prihal keperluannya.
"Sus Hana tolong antarkan mbak ini ke ruang Cempaka tempat ibu Lily." perintah resepsionis
"Baik sus." jawabnya
Larasati pun mengikuti langkah suster itu dari belakang, Larasati mencoba bertanya tentang Lily ke suster tersebut.
"Sus, boleh tanya gak?" tanya Larasati sembil berjalan menuju ruangan Lily.
"Iya mbak, mau nanya apa." ucap suster itu ragu-ragu.
"Pasien yang namanya mbak Lily itu sakit apa ya?" timpal lagi
"Maaf mbak sebelumnya, kami dilarang memberitahukan masalah pasien d kepada orang luar." Tegas suster, namun tetap saja Larasati tidak menyerah untuk bertanya
"Saya penasaran sus, boleh kan. Lagian saya gak akan bilang siapa-siapa kok sus, tenang aja sus." Tukang kepo kambuh.
"Mbak Lily itu tengah menjalani kemoterapi mbak, udah 3 kali menjalankannya. Sekarang tengah menjalani penyembuhan, hanya saja dikarenakan kondisi tubuhnya kurang begitu baik. Dokter dan pihak rumah sakit tidak mengizinkannya pulang." tutur suster itu.
"mbak Lily itu orangnya kayak gimana ya." batin Larasati.
Setelah sampai didepan pintu kamar Lily suster menunjukkan kamar Lily dan meninggalkan Larasati.
"Ini mbak kamarnya, kalo gitu saya pergi dulu. Permisi!" ucapnya pergi meninggalkan Larasati.
"Iya sus, terima kasih." Larasati menganggukkan kepalanya dan mengetuk pintu kamar Larasati.
"tok...tok...tok..."
"Permisi!"
"Tok...tok...tok...!"
"Kok gak ada jawaban ya." #batinnya
"Permisi paket!." Larasati tidak berani berteriak karena sedang dirumah sakit.
"Tok...tok...tok...!"
"Iya tunggu sebentar, siapa ya?" sapa orang dari balik pintu
"Saya dari toko bunga berkah melati, mau mengantarkan pesanan paket bunga untuk mbak Lily." ucapnya sambil menganggukkan kepalanya
"Oh iya mbak, saya Lily. Bunga pesenan dari mas Angga ya?" tanya Lily
"Wahhhhhhh...ternyata yang namanya mbak Lily tuh cantik banget ya, kayak artis." #batin Larasati, melamun bengong menatap Lily.
Lily menatap bingung Larasati, kenapa malah bengong membuka mulutnya melihat dia membuka pintu.
Lili pun memanggil-manggil Larasati tapi Larasati masih dalam lamunan.
Akhirnya Lily menepuk bahu Larasati.
"Mbak!!" panggil Lily
"Maaf mbak...!!!" timpal lagi
"Mbak kenapa!" Lily menepuk bahu Larasati, Larasati pun tersadar.
__ADS_1
"Oh, maaf mbak."ucapnya
"Ii..i.em.inii bunganya mbak." Larasati pun menjadi gagap karena gugup.
Lily hanya tersenyum dan mengambil bunga dari tangan Larasati. Setelah Lily menerima bunga dari Larasati, Larasati pun pergi meninggalkan ruangan Lily menuju keluar. Larasati menelepon ke toko bunga dan mengatakan jika dia akan telat kembali ke toko.
Larasati menunggu taksi didepan rumah satik cukup lama, sekitar 1jam lebih. Karena dia merasa capek menunggu tidak ada satu pun taksi kosong yang lewat, dia menelpon Dimas untuk menjemputnya didepan rumah satik. Larasati meminta Dimas mengantarkannya kembali ke toko bunga sekaligus Dimas juga ingin bertemu dengan susah untuk membahas masalah tugas kelompok mereka.
Dimas sangat sayang terhadap Larasati seperti kakak kandungnya, makanya setiap Larasati membutuhkan bantuannya dia siap sedia selalu ada untuk Larasati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
__ADS_1
jangan lupa like dan coment yaπ
tinggalkan masukan dan kritiknya