
Setelah Raka pergi ke Bali, Oma menghubungi Wulan untuk memintanya mengajak Laras liburan ke Bali dan memberi tau Wulan jika mantan Raka yang dulu (Melan) mencoba mendekati sepupunya itu lagi. Wulan yang tau akan tingkah laku perempuan genit yang suka memanfaatkan kekuasaan dan kekayaan sepupunya itu tidak terima jika sampai Raka jatuh ke tangan Melan lagi.
"Assalamualaikum, Omaku yang paling cantik!" Teriaknya berlari menuju ruang keluarga. Disana Oma tengah menonton drama kesukaannya.
"Waallaikumsallam." Ucap Oma
"Oma. Apa bener perempuan itu muncul lagi?" Tanyanya sambil memeluk manja Omanya dari belakang.
"Makanya Oma manggil kamu. Gimana? Kamu setuju kan kalo Oma minta tolong kamu buat ajak Laras ke Bali?" Pinta Oma
"Siap Oma!" Sambil memperagakan sikap hormat
"Tapi kamu jangan bilang ke Laras kalo Oma minta kamu ajak dia buntuti Raka?" Ucapnya
"Lho! Kenapa emangnya?" Wulan bingung
"Soalnya kemarin Oma minta dia supaya ikut sama Raka, Laras gak mau. Raka juga gak mau ajak Laras. Oma gak suka kalo Raka cuman berdua dengan perempuan itu!" Tuturnya mengelus tangan cucu perempuannya itu dengan lembut.
"Oh itu! Oma tenaga aja, serahin aja semua sama Wulan. Oma tau kan?" Sambil menaik-turunkan alisnya beberapa kali.
"Kamu memang cucu Oma yang paling pinter." Ucapnya mengelus kepala cucunya
"Sekarang mbak Laras di mana Oma?" Wulan menengok sekeliling
"Biasa, mana bisa anak itu diem aja dirumah. Dimana lagi kalo bukan di toko bunga! Hem.." Oma menarik nafasnya
"Ya udah, nanti aja deh Wulan samperin mbak Laras." Ucapnya melangkah menuju dapur.
"Kenapa gak sekarang aja?" Ucap Oma
"Mau cari mbak Tuti dulu." Teriaknya, biasa dia kalo datang kerumah Oma pasti nyari cemilan.
"Dasar, kebiasaan." Ucap Oma menggelengkan kepalanya dan meneruskan kembali nonton drama Korea favoritnya.
Saat jam kan siang, Wulan sengaja menunggu jam makan siang untuk mengajak Laras makan siang bersama sekalian memintanya untuk ikut liburan ke Bali.
Pucuk dicinta ulampun tiba, tadinya mau jemput Laras malah ketemu Arman. Siapa yang tidak bahagia melihatnya walaupun dia kemarin sempet nangis karena Arman mencium Dewi di depannya, dia masih optimis karena belum ada janur kuning melengkung.
Arman memang sering ke toko bunga untuk mengajak Aria sepupunya itu makan siang sekaligus mengajak Laras juga biar kesannya dia tidak terlalu menonjol untuk tetep bisa berada didekat Laras. Arman menggunakan alasan menjadi teman baik tidak ada salahnya makan siang bersama, supaya Laras tidak menolak ajakannya dia juga memanfaatkan Aria.
"Wah, si ganteng." Gumamnya menuruni mobil. Wulan berlari menuju Arman.
"Hai ganteng!" Ucapnya
"Kamu lagi. Hem.....!" Geramnya melihat perempuan yang masih tidak menyerah itu.
"Ngapain lagi kamu ngikutin saya?" Ucapnya dingin
__ADS_1
"Ih.. PD banget! Lagian siapa yang ngikutin kamu. Aku kan sengaja ke sini buat ajak mbak Laras makan siang. Nah, kamu sendiri ngapain coba? Masih gak nyerah buat deketin mbak Laras. Inget ya? Mbak Laras itu udah jadi istri mas Raka,." Ucapnya memperingatkan Arman.
Dengan panik Arman asal menjawab "Tentu saja saya kesini buat ke temu pacar saya." Ucapnya mencari-cari keberadaan Dewi.
"Ah, masak." Ledeknya.
"Hem." Arman pergi mendekati Dewi yang tengah membereskan daun-daun dari tangkai bunga mawar, Arman langsung menarik tangannya membuat Dewi kaget sekaligus bingung.
"Ikut saya." Ucapnya dingin menarik Dewi sampai ke mobilnya
"Mas Arman kenapa? Ada apa ini?" Dewi mereka kebingungan.
"Udah, kamu diam saja. Ikut saya, naik!" Perintahnya membukakan pintu mobilnya. Langsung saja dia naik ke dalam mobil Arman tanpa tau situasi sebenarnya.
Wulan merasa sedikit kesal, terlihat cemberut dari wajahnya. Laras mendatanginya dan menekan kedua pipinya dengan satu tangan.
"Hei." Ucapnya
"Kamu kenapa sih dek, kok cemberut gitu dari tadi mbak perhatiin?" Tanya Laras
"Enggak apa-apa mbak. Eh mbak, mbak Laras tau gak. Itu si Arman beneran pacaran sama temen mbak Laras?" Balik tanya
"Hem, mbak juga kurang tau dek." Jawab Laras
"Hem." Wulan makin cemburu
Seketika Wulan tersadar "Oh iya mbak, hadeh! Sampai lupa aku." Sambil menepuk dahinya
"Ya udah, ayo mbak. Sekalian kita bahasnya sambil makan siang aja yuk." Pintanya
Di tempat makan
"Gini mbak!" Sambil mengunyah makanannya
"Di telan dulu makanannya baru ngomong." Ucap Laras
"Hati-hati nanti tersedak." Timpalnya
"Iya mbak, hehehe! Gini mbak, mbak mau gak nemenin Wulan liburan ke Bali. Soalnya Wulan kelebihan tiket. Kemarin sih rencananya mau sama temen Wulan, tapi dia ada acara lain. Gimana mbak Laras mau kan? Mau ya? Mau dong?? Yah? Ya?" Ucapnya
"Gimana ya." Jawab Laras
"Ayo lah mbak? Masak mbak gak mau nemenin aku liburan." Pintanya manja
"Terus gimana kerjaan mbak. Mbak itu udah kebanyakan ambil cuti." Tuturnya
"Nanti Wulan yang mintain izin ke bos-nya mbak Laras. Gimana?"
__ADS_1
"Ya udah. Kali ini aja tapi."
Akhirnya Laras pun setuju dengan bujukan ajakan Wulan ambil liburan ke Bali.
Di tempat lain
"Turun" Ucapnya dingin
"Nih orang kenapa sih dari tadi." Batin Dewi
"Masuk." Perintahnya
Dewi masuk ke restoran di ikuti Arman dari belakang, sesekali Dewi menengok kebelakang. Namun Arman masih saja cuek.
"Nih anak ke sambet apa sih, mentang-mentang anak bos bisa aja nyuruh orang seenaknya." Batinnya.
"Kamu mau pesen apa." Tanya Arman datar.
"Terserah." Ucap Dewi
"Dasar perempuan." Sambil membaca menu makanan.
"Ih, nyebelin banget sih nih orang dari tadi. Coba aja kalo bukan anak bos, udah aku tonjok mukanya yang belagu itu. Sabar-sabar." Timpalnya dalam hati sambil menahan emosi sambil mengelus dadanya.
"Hem." Dewi menarik nafasnya.
"Mas Arman ada urusan apa dengan saya? Atau mau minta tolong apa?" Ucap Dewi
"Sudah, kamu makan saja." Arman tersenyum tipis dengan sudut bibir yang terangkat melihat perempuan yang tengah malam didepannya itu, dia mencuri pandang saat Dewi makan dengan lahap.
Dewi malam dengan santai dan cuek, tidak peduli Arman memperhatikan caranya makan.
"Lucu juga." Batinnya menaikkan alisnya.
Sehabis makan mereka kembali ke toko bunga, Laras dan Wulan pun sama. Tapi disini Laras meminta cuti kerja selama 1 minggu kedepan untuk menani Wulan liburan ke Bali. Di Bali sudah banyak kejutan yang menunggunya.
Di rumah Laras merapikan barang-barangnya dibantu Oma dan Wulan, Oma sengaja membantu Laras karena Oma menyiapkan hadiah khusus didalam koper cucu mantunya itu. Wulan pun tau apa yang direncanakan Omanya dan membantunya, sambil tertawa Wulan melihat Omanya terlihat begitu bahagia.
"Oma masukin apaan didalam koper mbak Laras." Bisik Wulan.
"Sstttt..!! Kamu diem aja, Oma cuman kasih hadiah kecil buat Laras. Biar nanti kalo kalian ketemu sama Raka, Oma biar bisa cepet punya cicit." Ucapan Oma semakin membuat Wulan penasaran.
"Emangnya apaan sih Oma?"
"Udah, kamu diem aja." Pinta Oma
Setelah mengemasi barang-barang Laras, Oma meminta supir menaruhnya di mobil supaya besok pagi tinggal berangkat ke Bali. Tadinya Wulan ingin mengajak Dimas sekalian tapi Dimas sudah sibuk magang di perusahaan milik Raka, disana dia juga masih karyawan baru. Jadi dia tidak berani mengambil cuti seenaknya karena ada hubungan dengan bosnya, Dimas takut banyak omongan dia semena-mena atau seenaknya memanfaatkan kesempatan itu.
__ADS_1