
"Hai Arman." Godanya.
Sontak saja Arman kaget dan menengok kebelakang, tidak lain Wulan sudah berdiri disampingnya "Dasar perempuan gila, apa maunya" batinnya
"Sedangkan apa kamu disini, bukannya Laras tidak ada disini." Ucapnya ketus.
"Ih..., Galak banget sih. Aku kan kesini sengaja nungguin kamu."
"Ngapain kamu nungguin saya, ada urusan apa?" Tatapan Arman seperti amarah yang sudah lama dia tahan-tahan.
"Jangan galak-galak dong, aku cuman mau minta maaf atas tingkah lakuku selama ini. Aku tau aku salah sudah bersikap egois dan suka semaunya. Kamu mau kan maafin aku." Pintanya dengan wajah memelas.
Arman pun menarik nafas panjang dan hanya berbicara beberapa patah kata. "Sudah, itu saja. Jika tidak ada yang lain, mending kamu pergi dari sini."
"Terus permintaan maaf aku tadi gimana?"
"Saya tidak perduli dengan semua drama perempuan seperti kamu."
"Ih siapa yang lagi drama, aku tau kok. Kamu kesini pasti juga mau cari mbak Laras kan? Ngaku aja deh gak usah pura-pura udah ikhlas gitu. Sok tegar!" Ejeknya menyilangkan kedua tangannya.
Arman pun mencoba mencari alasan "Itu bukan urusan kamu, lagian saya kesini bukan untuk Laras."
"Lantas untuk siapa?" Tantangnya menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Saya kesini em... Untuk...." Sambil menoleh sekitar mencari sesuatu untu dijadikan bahan peralihan.
Tiba-tiba saat Dewi tengah lewat disebelah mereka dengan membawa beberapa kertan dan pita tanpa berpikir panjang Arman menarik lengannya dengan kencang.
"Ah..!!!" Sontak saja Dewi kaget dengan sikap anak bosnya itu.
"Saya kesini untuk dia." Ucapnya sambil merangkul bahu Dewi.
"Hah!! Perempuan ini. Gak mungkin, pasti Arman cuman mau membohongi saya." Batin Wulan tersenyum sinis tidak percaya.
"Mana mungkin kamu kesini untuk perempuan ini. Itu cuman pengalihan kamu aja kak. Jangan harap aku akan gitu aja percaya sama omongan kamu." Sangkalan Wulan membuat Arman sedikit bingung harus berkata apa lagi untuk perempuan yang susah untuk di singkirkannya itu.
"Ohhh, dia mau cari aman. Jadi mau jadiin gwe tameng nih ceritanya. Heh...lihat aja nanti." Batinnya melirik Arman yang menariknya.
"Saya buk.." perkataan Dewi langsung dipotong Arman.
__ADS_1
"Dia pacar saya selama ini. Kenapa?" Pungkasnya tegas.
"Hah." Dewi hanya bisa bengong mendengar ucapan Arman, nampak tak percaya dengan apa yang akan anak bosnya itu ucapkan.
"Saya tetap gak percaya sama semua yang kamu ucapin, kalo dia memang benar pacar kamu. Lalu selama ini yang kamu lakuin buat Laras itu apa?" Melotot ke arah Arman dengan rasa tak percaya.
Tanpa pikir panjang, Arman mencium kening Dewi dan membuat kedua perempuan itu diam membatu sesaat. "Sekarang kamu sudah percaya. Kalo sudah, silahkan pergi." Sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan jalan pergi.
"Heh." Wulan pun pergi meninggalkan mereka. Dewi pun masih diam membatu.
"Saya minta maaf untuk kejadian tadi." Ucap Arman.
"Hah, semudah itu mas minta maaf." Ucapnya kesal karena Arman mencium keningnya tanpa izin ataupun bertanya padanya.
"Lalu kamu mau minta ganti rugi berapa?" Ucapnya membuat Dewi tersinggung dengan pertanyaannya.
"Hem." Dewi pun langsung pergi meninggalkannya.
"Emang ya kalo orang kaya, apa-apa dipikir tinggal diganti pake uang. Seenaknya aja dia ngelakuin hal kayak gitu, dipikirnya aku gak tau apa kalo dia sukanya sama mbak Laras."gerutunya sepanjang jalan.
Arman sedikit merasa bersalah terhadap Dewi dengan apa yang sudah dia lakukan barusan tanpa berpikir panjang hanya untuk menyingkirkan Wulan dari hadapannya.
"Mbak." Panggil Wulan
"Mau cari mbak Laras ya." Ucap Dewi datar.
"Enggak, saya cari mbak. Perkenalkan saya Wulan." Menjulurkan tangannya.
"Saya tau." Ucapnya singkat
"Ih, judes banget sih nih cewek. Mana sombong banget gini lagi kelihatannya." Batinnya melihat Dewi dari atas sampai bawah.
"Ada urusan apa ya mbak." Tanya Dewi.
"Ada hal penting yang mau saya tanyakan sama mbak Dewi." Jawab Wulan berusaha tetap ramah untuk mencari informasi dia mencoba bersikap tenang.
"Ini pasti masalah mas Arman lagi." Batinnya menatap Wulan.
"Saya bisanya nanti kalo jam makan siang, saya gak suka buang waktu kerja."
__ADS_1
"Iya mbak gak apa-apa, saya bisa nunggu kok."
Wulan mencoba mengancam Dewi jika dia akan merebut Arman darinya. Tapi apa yang dia pikirkan ternyata salah tentang Dewi.
"Tadi kamu mau nanya apa sama saya?" Ucap Dewi datar.
"Mbak beneran pacaran sama Arman?" Tanya Wulan
"Kalo iya kenapa kalo enggak kenapa." Ucapnya mencoba melihat reaksi apa yang akan ditunjukan Wulan terhadapnya.
"Jika iya, saya peringatan ya mbak. Saya akan merebut Arman dari tangan mbak. Ngerti!!" Ucapnya tegas pas ditelinga Dewi, membuat Dewi tersenyum tipis sesaat.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Arman, dan kita hanya sebatas karyawan dan bos. Lagian saya malah ikut campur urusan drama percintaan kalian, gak ada untungnya juga buat saya." Pungkasnya
Dewiengelak jika dia ada hubungan dengan Arman. Dia sedang ada di keadaan susah dan tidak mau tambah pusing dengan masalah percintaan. Menurutnya itu tidaklah penting untuk sekarang.
"Jadi mbak gak ada apa-apa sama Arman." Wulan mencoba memastikan.
"Iya." Singkatnya
Wulan pun tersenyum mendengarnya.
Dewi pun pergi meninggalkan Wulan. Waktunya makan siang terbuang sia-sia hanya karena membahas tentang Arman.
"Ngapain aku harus ikut-ikutan masalah percintaan kalian, urus aja urusan kalian sendiri jangan melibatkan orang lain. Gak tau apa kalo aku sendiri lagi banyak masalah, ini malah nambah-nambahin beban pikiran orang aja." Gerutunya menyumpahi Arman.
Tak selang beberapa menit kemudian, telfon masuk dari kakaknya.
βοΈ"Kring...kring...kring..."
"Halo, assallamuallaikum. Kenapa kak?" Tanyanya lembut
"Waallaikumsallam, gimana dek? Kamu udah punya uang 19 juta belum. Sisanya dari tabungan kakak kamu udah kakak pake buat bayar gak sampai setengahnya. Kata dokter harus sesegera mungkin dilunasi, kalo sampai biaya administrasi nya gak dibayar. Kakak harus bawa mas kamu pulang." Ucap kakak Dewi dari telfon.
"Dewi usahain ya kak, nanti Dewi coba minjem ke bosnya Dewi. Siapa tau Bu Melati mau minjemin uang buat Dewi." Ucapnya menenangkan kakaknya supaya tidak terlalu khawatir.
Dewi hanya punya 1 orang kakak perempuan yang sudah menikah. Orang tua mereka sudah meninggal dunia saat dia berusia 13tahun. Sekarang kakaknya (Ami) sudah menikah dan memiliki 2 orang anak laki-laki (Yusuf) dan perempuan (Aisya). Purnomo nama kakak iparnya. Keponakannya masih kelas 5 dan 3 SD, masih kecil-kecil. Mereka saat kecil diasuh oleh neneknya yang sekarang juga sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Keluarga sederhana yang hidup dengan menjadi buruh tani didesanya untuk menyambung hidup mereka. Sedangkan Dewi memiliki merantau jauh dari mereka untuk mencari hasil yang lebih dibandingkan harus bekerja menjadi buruh tani yang tidak seberapa.
Apa lagi sekarang kakak iparnya mengalamin kecelakaan kerja di pabrik Kuningan tempat kakak iparnya bekerja dan membutuhkan banyak biaya operasi. Mata kakak iparnya tertancap serpihan kecil besi Kuningan pas mengenai bola matanya. Jika tidak segera di operasi, bisa menyebabkan kebutaan total seumur hidup. Jika itu benar-benar terjadi, maka kehidupan keluarga kecil itu kedepannya akan semakin sulit.
__ADS_1