
Laras berlari menuruni tangga menuju ruang makan, dia segera membantu mbok Ijah menyiapkan beberapa gelas yang belum di taruh mbak Ijah. Tuti juga sedang sibuk membersihkan dapur dan cucian kotor di wastafel.
"Udah beres semua mbok?" Tanya Laras menghampiri mbok Ijah.
Dengan senyum ramah mbok Ijah menjawab "Belum non, tinggal gelas sama airnya belum mbok siapin."
"Biar Laras aja mbok yang siapin. Mbok tolong panggilin Oma ya?" Pintanya
"Iya non." Simbol berjalan menuju ruang keluarga dimana Oma tengah menonton drama Korea.
"Permisi Nyonya, makan malamnya sudah siap. Non Laras juga sudah di meja makan." Ucapnya
"Oh iya mbok, sebentar. Saya matiin tv-nya dulu." Ucap Oma berdiri dari duduknya yang sedikit tertatih karena kelamaan duduk.
Raka juga sudah terlihat mendekati Laras dimeja makan. Dimeja makan Oma membujuk Raka untuk mengambil cuti bulan madu ke Bali. Supaya Laras bisa cepat hamil, Oma sudah tidak sabar untuk memiliki cicit dari cucu dan cucu mantunya. Sebab jika Oma ikut teman-teman arisannya, teman-teman sosialitanya selalu memamerkan cicit mereka yang menggemaskan. Oma juga ingin pamer le mereka kalo dia juga akan segera punya cicit, tapi sayangnya Raka dan Laras sepertinya belum memikirkan untuk memiliki keturunan. Itu yang Oma fikirkan.
"Ka, Oma mau tanya sama kalian." Di sela-sela mengunyah makanan.
"Oma mau ngomong apa?" Ucap Raka
"Kapan kalian mau pergi bulan madu?" Oma berhenti sejenak meletakkan sendok nya di meja.
"Uhuk..uhuk..uhuk..." Larasati tersedak dan batuk. Raka pun mengambilkan minum untuknya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya suaminya nampak khawatir.
"Enggak apa-apa kok mas." Jawabnya
"Oma, Raka kan masih sibuk sama bisnis yang sedang Raka tangani dikanton. Oma juga kan tau kalo Raka lagi ada banyak proyek yang harus ditangani." Tuturnya mencari alasan .
"Memang kalian gak pengen liburan kemana gitu?" Tanya Oma yang masih berharap mereka bisa pergi bulan madu.
Laras hanya diam, dia tidak bisa mengatakan apa-apa tentang hubungan pernikahannya yang sebenarnya.
Padahal dikontrak itu sudah jelas kontrak palsu, Raka pernah berjanji pada dirinya sendiri saat belum mengenal Laras. Dia hanya akan menikahi satu perempuan untuk semasa hidupnya dan tidak berfikir untuk bercerai. Dia berjanji apapun yang terjadi kelak, atau jodohnya yang akan datang seperti apa. Dia menerima apa adanya. Raka bersyukur karena kini yang jadi istrinya adalah perempuan seperti Larasati.
Sesekali Laras menengok suaminya yang tengah berbaring di sofa, dia merasa kasian melihat suaminya yang sudah capek bekerja setiap hari di kantor pulang sore dan masih diharuskan tidur di sofa. Laras merasa bersalah karna ke egoisannya melarang Raka menyentuh dan tidur disebelahnya.
"Mas malam ini yakin mau tidur di sofa lagi." Laras mencoba memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Memang kenapa?" Ucapnya datar.
"Mas gak mau tidur di kasur." Ucapnya malu-malu.
"Memangnya kamu yakin?"
"Yaaaa....." Sambil berfikir
"Kamu yakin." Sambil menatap Laras dengan muka dinginnya.
"Iya, tapi mas jangan macem-macem." Jawabnya
"Yakin." Goda Raka seolah ingin menerkam.
"Ya udah kalo mas gak mau, kalo mas betah tidur di sofa silahkan!" Ucapnya ketus
"Percuma aku berbaik hati nawarin mas Raka, ngeselin banget sih dia. Godain orang terus." Batinnya membaringkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Raka melangkah mendekati ranjang, langkah kakinya terdengar oleh Laras membuat dia sedikit gugup hingga jantungnya berdetak kencang seperti meluap-luap saat dia membayangkan bidangnya tubuh Raka yang sixpack saat dikamar mandi. Laras semakin kencang memegangi selimutnya, dia mencengkeram selimut itu hingga membuat Raka tersenyum lebar melihat tingkah laku istrinya yang malu-malu.
"Kamu sendiri yang meminta saya untuk tidur di ranjang. Sekarang, ini sikap kamu menghadapi suami kamu sendiri Laras!!" Batinnya
"Hah, mas Raka."
"Mas Raka ngapain." Laras mencoba memberontak, semakin kuat Raka memeluknya dari belakang.
"Mas lepasin, mas Raka udah janji kan gak bakal ngapa-ngapain." Pintanya memelas.
"Tetaplah seperti ini, jangan banyak bergerak atau kamu akan membangunkan sesuatu." Ucapnya menggoda Laras.
"Tapi."
"Diam dan tidur." Perintahnya.
"Jika dia terbangun, jangan salahkan saya." Timpalnya, mencoba menakut-nakuti Laras.
"Aku tidak akan pernah melakukan apa-apa ke kamu Laras, sebelum hati kamu sendiri yang tergerak." Batin Raka
Membuat Laras seketika tersipu, berfikir tentang benda yang tengah tertidur yang dimiliki Raka. "Fikiran kotor apa ini. Gimana aku bisa tidur kalo posisi mas Raka kayak gini, aku mana bisa gerak." Batinnya. Mereka pun tertidur lelap hingga tak sadar posisi tidur mereka sudah berhadap-hadapan dan berpelukan.
__ADS_1
Saat Oma penasaran dengan kedua pengantin baru itu, Oma mencoba memberikan minuman penguat stamina dan mengetuk pintu kamar mereka. Sayangnya tidak ada yang banget, sehingga Oma mencoba mengingat kedalam dan melihat pemandangan yang membahagiakan menurutnya. Oma pikir bahwa Raka dan Laras sudah melakukan hubungan suami istri sewajarnya jadi dia merasa senang.
"Sebentar lagi saya bakal nimang cicit." Ucapnya lirih.
Di kediaman Arman.
Hiruk pikuk pedagang kaki lima yang lewat depan rumahnya sudah biasa mereka lihat.
Di kompleks perumahan mereka mang diberi kelonggaran jika ada pedagang kaki lima yang ingin berjualan keliling disana, karena juga memudahkan penghuni kompleks perumahan disana mencari makanan jika malam hari ini beli jajanan.
"Mas kamu mana dek." Ucap maminya
"Em.. gak lihat ma."
"Kakak kamu itu kalo suka sama sesuatu selalu saja introver, gimana orang bisa tau kalo dia tertutup gitu." Ucapnya
"Udah lah ma, kasian mas Arman kalo di ledekin terus kayak gitu." Ucapnya
"Ya udah sana cari kakak kamu. Nasehatin sekalian, jangan suka ngelamun terus."
"Iya mi." Susan beranjak dari tempat duduk mencari keberadaan kakaknya yang tengah patah hati itu.
"Mas." Ucap Susan pada kakaknya yang duduk di teras depan rumah.
"Mas masih mikirin mbak Laras ya? Ikhlaskan dia mas, biarin mbak Laras bahagia dengan masa depannya. Mungkin ini udah jalannya, mas pasti bakalan dapet perempuan yang lebih baik lagi." Timpalnya sambil menguatkan hati kakaknya.
"Enggak kok. Mas udah ikhlas Laras sama orang lain. Mas cuman kepikiran masalah kecil aja." Arman berdiri dan menepuk bahu adiknya.
"Makasih ya, udah selalu khawatir sama mas." Timpalnya
"Mas minta maaf ya dek. Gak semudah itu buat ngelupain masa lalu, semakin mas coba buat ngelupain Laras. Malas makin inget." Batinnya
"Iya mas. Udah sewajarnya adik khawatir sama kondisi kakaknya."
"Ya udah. Ayo masuk." Pinta Arman ke Susan
"Iya."
Arman hanya berdalih didepan adiknya jika dia sudah ikhlas, padahal hatinya masih tidak rela. Bagaimana bisa dia rela begitu saja, dia saja belum sempat menyatakan perasaannya pada Larasati. Tapi apa daya, sekarang Laras sudah nampak bahagia dengan pernikahannya menurut pandangan Arman. Sudah terlalu malam untuk mereka membahas masalah yang sudah berlalu. Pekerjaannya juga sempat tertunda beberapa saat karena sibuk mengurusi hal pribadi.
__ADS_1