
Dua Minggu setelah pernikahan mereka, Larasati kembali bekerja di toko bunga. Walaupun dia berjanji kepada Raka jika dia tidak akan menyebutkan namanya tapi dia tidak berjanji untuk tidak berhubungan baik dengannya. Jadi tentu saja Laras masih berteman baik dengan Arman dan tidak lebih, dia takut jika Raka mencari gara-gara dengan Arman.
Wulan juga sama, setiap jam makan siang dia selalu datang menjemput Larasati untuk makan siang bersama. Tidak lain juga untuk melihat Arman siapa tau Arman berkunjung ke toko bunga setelah tau Larasati masih bekerja di tempat maminya.
Dan memang benar, beberapa saat kemudian terlihat dari kejauhan mobil Arman.
"Wah, pucuk dicinta ulampun tiba." Batin Wulan. Dia tidak sabar untuk menggodanya, Wulan merasa tertantang dengan penolakan Arman dan sikap dingin cueknya. Arman melihat sosok Wulan tapi dia mengabaikannya. Dia ingin mencoba bersikap seperti biasa didepan Larasati untuk menyembunyikan sakit hatinya. Walaupun dia masih belum ikhlas.
"Laras." Panggilnya melangkah menuju Larasati.
"Mas Arman."
"Gimana kabar kamu?" Tegurnya
"Alhamdulillah baik mas, mas Arman sendiri gimana?" Jawab Larasati.
"Emang aku gak kelihatan ya Segede ini gak di anggep." Gerutunya menatap Arman.
"Aku juga. Kamu sudah makan siang."
"Belum mas. Ini, Wulan lagi nungguin aku buat makan siang bareng katanya."
"Perempuan sialan ini pasti sengaja datang kesini setiap hari." Batinnya.
"Mas Arman mau ikut makan siang bareng kita?" Tanya Larasati tersenyum padanya.
"Oh, enggak. Saya kesini ada urusan disekat sini."
"Kirain masih mau ngajak mbak Laras makan siang." Celotehnya.
"Wulan." Tegur Larasati lembut.
"Maaf ya mas, Wulan memang suka bercanda."
"Gak apa-apa, saya tau kok kalo sifatnya masih kayak anak-anak."
"Apa kamu bilang." Ucapnya kesal sambil menatap tajam Arman
"Ya sudah, kalo gitu saya duluan."
"Iya mas, silahkan."
Arman pun pergi menuju mobilnya, sedangkan Larasati menegur Wulan supaya tidak memancing amarah Arman dan membuat ke salahfahaman.
"Wulan, kamu kalo suka sama mas Arman itu jangan suka mancing emosinya. Kamu kan bisa bicara yang lembut sedikit jadi perempuan." Tuturnya
"Habis dia nyebelin mbak, gak pernah nganggep keberadaan aku di manapun. Bahkan disini!" Ucapnya kesal.
__ADS_1
"Tapi kan seenggaknya kamu jangan terpancing dengan sikapnya, mas Arman itu aslinya baik dan ramah banget orangnya."
"Masak sih mbak, kok sama Wulan dingin banget kayak es batu."
"Mungkin perasaan kamu aja kali."
"Ya mungkin dia ramah sama baik cuman sama mbak Laras kalo."
"Ih kamu ini, mana ada." Ucap Larasati
"Ya sudah, kamu tunggu di sana aja dulu. Mbak mau lanjut kerja lagi." Pinta Larasati menepuk ****** bahunya
"Iya mbak."
Wulan pun duduk di kursi sambil membaca buku tentang nama-nama bunga dan jenisnya yang ditaruh dimeja karyawan. Dia melihat teman Larasati dan mencoba mengajaknya ngobrol.
"Permisi mbak." Sapa Wulan tersenyum ramah.
"Oh iya mbak, ada yang bisa saya bantu." Ucap salah satu karyawan disana.
"Boleh tanya gak mbak, mas Arman itu pernah punya pacar gak ya kira-kira?"
"Saya kurang tau mbak, mungkin mbak Aria tau. Dia kan sepupunya mas Arman, coba mbak tanya aja sama orangnya. Itu disebelah sana, mungkin mbak belum pernah lihat soalnya dia karyawan baru disini." Ucap Lia menunjuk ke arah Gandaria.
"Oh ya udah, makasih ya mbak."
"Sama-sama Mbak." Wulan pun pergi menuju Aria dengan rasa penasarannya.
Wulan pun menepuk bahu Aria pelan "mbak permisi."
"Oh iya mbak, ada apa ya." Ucap Aria
"Saya mau tanya sedikit boleh gak mbak, tapi bukan soal pekerjaan."
"Iya mbak silahkan."
Setelahnya Wulan mengintrogasi Aria tentang Arman, tapi dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Karena Aria orang yang lebih mementingkan privasi saudaranya dibanding memberikan informasi yang bisa disalah gunakan oleh orang lain, dia adalah orang yang selalu waspada dalam situasi apapun walaupun dia juga tau jika sepupunya itu dulunya menyukai Larasati "Maaf ya mbak, saya kurang tau juga, soalnya saya kurang deket sama mas Arman dan mbak Susan. Saya kan lebih sering tinggal dikampung dibandingkan dijakarta."
"Oh gitu ya mbak."
"Iya mbak, maaf ya mbak sekali lagi." Ucapnya dengan muka lesu dibuat-buat supaya Wulan percaya.
"Iya mbak gak apa-apa. Kalo gitu saya permisi ya mbak."
"Iya mbak silahkan."
"Itu cewek perasaan ngebet banget sama mas Arman, bukannya dia itu udah jadi adik iparnya mbak Laras. Harusnya kan dia tau kalo mas Arman pernah suka sama mbak Laras." Batin Aria.
__ADS_1
Wulan pun pergi menuju Larasati yang tengah merangkai bunga pesanan pelanggan sebelum jam makan siang tiba, tinggal beberapa menit lagi jam makan siang.
"Udah selesai mbak." Tanyanya
"Belum, sebentar lagi." Jawab Larasati
"Kamu tadi ngobrol apaan sama mereka, kayaknya seru banget." Timpalnya
"Cuman nanya-nanya soal bunga aja kok mbak, bunganya cantik-cantik. Ambil stoknya dimana itu aja kok. Hehe!!" Ucapnya ngeles sambil tersenyum kilat.
"Tunggu bentar ya."
"Iya mbak."
Sehabis makan siang dengan Larasati, Wulan ingin mengunjungi kediaman baru Lily. Sehabis menikah Lily ikut tinggal dirumah Anggara, walaupun kecil dan sederhana. Di jalan Wulan nampak dari kejauhan selintas mirip Dimas, dibawah terik matahari yang panas. Dia turun dari mobilnya dan menghampiri laki-laki yang tengah menunggu makanan dipinggir jalan.
"Itu kayak Dimas, bener gak sih." Batinnya
"Lho itu beneran Dimas, ngapain dia disana panas-panasan." Gumamnya lirih.
"Dimas!"
"Eh...mbak Wulan."
"Kamu ngapain disini?"
"Ini mbak, nganterin pesenan online.'
"Lho, kamu masih kerja. Bukannya mas Raka udah ngasih kamu kartu kredit, kan kamu tinggal pake kalo butuh atau perlu sesuatu." Ucap Wulan.
"Mbak. Saya itu laki-laki, dan saya di didik orang tua saya untuk menjadi mandiri. Supaya saya bisa bertanggung jawab atas diri saya sendiri bukan tergantung terus-menerus pada orang tua saya atau manfaatkan orang lain. Mbak, sebagai laki-laki itu wajib mandiri, walaupun saya tinggal dirumah Oma Astuti. Dan beliau sudah memfasilitasi semua kebutuhan saya dan orang tua saya, tapi tidak seharusnya saya terlalu tergantung dengan semua itu." Tutur Dimas menjelaskan.
"Tapi kan Oma sama mas Raka udah pesen sama kamu buat fokus kuliah, terus kalo mereka tau emang gak bakalan marah apa. Mas Raka itu tega, kalo sekali marah kamu bakalan kena lho. Mbak cuman takut aja kamu dimarahin sama mas Raka."
"Iya mbak, Dimas ngerti. Nanti Dimas aja yang jelasin ke mas Raka, makasih perhatiannya mbak. Tapi untuk saat ini Dimas mohon sama mbak wulan jangan bilang-bilang dulu ke mas Raka ya." Pinta Dimas memohon.
"Ya udah, tapi untuk kalo ini aja. Kalo sampai kamu ketahuan, mbak gak mau ikut-ikutan kena."
"Iya, mbak tenang aja."
"Ya udah, kamu hati-hati dijalan."
"Iya mbak, Dimas duluan ya. Kasian yang pesen makanannya nunggu kelamaan."
"Iya."
Dimas pun melanjutkan atar pesanan online. Sedangkan Wulan kembali ke mobilnya. "Itu anak kok masih nekat aja, padahal udah di peringatin sama mas Raka. Kalo sampai ketahuan dia pasti bakalan kena marah.
__ADS_1
Sambil menyetir mobil Wulan mencari toko perabot untuk membeli beberapa barang untuk dia bawa ke rumah Lily sebagai hadiah untuk rumah barunya dengan Anggara.
"Kira-kira beli apa ya yang bagus buat mereka, beli oven aja kali ya. Kan Lily suka banget bikin kue. Hehehehe..." Batinnya sambil mencari toko perabot.