
Dua hari kemudian waktu yang dijadwalkan Larasati untuk berangkat ke Jakarta pun tiba, dia berpamitan kepada seluruh keluarganya. Tiket bus pun sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Pak Parman dan Pak Ari pun mengantarkan mereka ke terminal yang cukup jauh rumahnya, sekitar satu setengah jam perjalanan menuju terminal karena tidak ada bus jurusan Jakarta dipersimpangan jalan raya yang tempo hari Larasati menjemput Dimas, setelah sampai di terminal mereka berdua berpamitan pada pak Parman dan Pak Ari, Larasati dan Dimas masuk naik ke bus mereka.
Bus yang mereka naiki pun berjalan, perjalanan dari desa Larasati menuju Jakarta sekitar satu hari satu malam lumayan jauh. Bus kota pun beberapa kali berhenti makan dan kekamar kecil, kadang juga berhenti di mushola atau masjid terdekat jika waktu sholat tiba.
Diperjalanan Larasati dan Dimas tidur karna perjalanannya cukup melelahkan, bahkan mereka sama sekali tidak menikmati keindahan jalanannya. Yang ada difikirin Larasati hanya kapan dia sampai dijakarta, kapan dia masuk kerja, bagaimana tempatnya bekerja nanti, bagaimana rekan-rekan kerjanya nanti. Sedangkan Dimas tidur tenang tanpa memikirkan apapun karena sudah terbiasa pergi jauh menggunakan bus saat pulang kampung sendirian.
Larasati memainkan hpnya sembari menunggu sampai dijakarta, bahkan sampai baterai hpnya pun sampai habis dan dia bosan didalam bus, melamun membayangkan jika dia kerja nanti dijakarta. Malam pun berlalu, pagi tiba pukul 11.30wib siang mereka pun sampai di terminal. Dimas turun dari bus dan membawa barang-barangnya dan membantu Larasati membawakan beberapa barangnya miliknya. Mereka memilih menaiki taksi menuju rumah Dimas lebih tenang dan tidak capek, karna jika naik angkutan umum harus naik turun beberapa kali.
Setelah sampai di kediaman Dimas, Larasati turun terlebih dahulu. Saat masih diterminal Dimas sudah memberitahu orang tuanya jika mereka berdua sudah sampai dengan selamat diterminal Jakarta.
"Akhirnya sampai juga dijakarta" Batin Larasati
Beberapa saat kemudian
"Sudah sampai mbak mas." ucap supir taksi
"Oh iya Pak, berapa ya?"tanya Dimas
"Tujuh puluh lima ribu mas." jawab supir taksi
"Sini biar mbak aja yang bayar." paksa Larasati
"Ini pak, ambil aja kembaliannya. Makasih ya pak." ucap sopan Larasati sambil menjulurkan tangannya dengan senyum ramahnya
"Udah sini aja mbak barang-barangnya biar Dimas aja yang dibawah. Mbak masuk dulu aja, bapak sama ibu udah nunggu. Soalnya tadi Dimas udah telfon duluan." ucap Dimas
Larasati pun tersenyum dan melangkah menuju rumah Dimas. Supir pun membantu mereka membawakan barang-barang masuk kerumahnya.
"Gak usah repot-repot pak, biar saya bawa sendiri aja.' ucap Dimas
"Gak apa-apa mas, sudah kewajiban saya menolong pelanggan." jelas pak supir taksi itu
"Sampai sini aja pak, makasih lho pak sebelumnya." ucap Dimas membungkukkan tubuhnya dan menganggukkan kepalanya
"Iya mas sama-sama, kalo begitu saya permisi dulu. Assallamuallaikum." ucap supir taksi tersenyum dan melangkah pergi
"waallaikumsallam pak." saut Dimas
Disaat yang lain didepan pintu masuk rumah Dimas
"assallamuallaikum Bu Lek." teriak Larasati dari luar
"waallaikumsallam." jawab halus ibu Sumi (ibu Dimas)
"Bu Lek." teriak Larasati berlalu memeluk Bu Sumi
__ADS_1
"Cah ayu, sehat ndhok?" tanya Bu Sumi sambil mengelus kepala dan punggung Larasati
"Alhamdulillah Bu Lek, Oh...iya pak lek mana?" tanya Larasati
"Pak Lek mu lagi kerja jadi mandor bangunan, kalo siang begini sudah berangkat lagi ke proyek. Tadi sempet nungguin kamu, tapi kamunya belum sampai-sampai jadi Bu Lek suruh berangkat kerja. Kasian nanti anak buahnya kalo gak diawasi pada malas-malasan." ucap Bu Sumi
"Ayo masuk ndhok duduk dulu sini, biar bu lek ambilin minum." ajak ibu Sumi
"iya Bu Lek." jawab Larasati
"Gimana kabarnya bapak sama ibumu dikampung, sehat ndhok?" tanya Bu Sumi
"Alhamdulillah sehat semua bu lek. Mbah, pak Dhe sama Bu Dhe juga sehat semua, mereka titip salam buat Bu Lek." jawab Larasati
"Alhamdulillah kalo gitu." ucap lega Bu Sumi tersenyum
Disini lain Dimas yang kewalahan membawa barang sendirian masuk kedalam rumah meringis kecapekan, bercucuran keringat karna kepanasan.
"ihh....,Ahh...huh...!" teriak Dimas sambil berdesis
"Assallamuallaikum." ucap Dimas
"waallaikumsallam." ucap Bu Sumi dan Larasati beriringan menjawab salam
"hehehehe....." Larasati tertawa kecil
"Lho salah sendiri tadi mau mbak bawa sendiri katanya gak usah mau dibawain semua, ya udah mbak tinggal masuk duluan lah." ejek Larasati
"ihs...kebiasaan mbak Laras." kesal Dimas
Dua hari pun sudah dilalui Larasati dijakarta. Hari ini Dimas membawa Larasati kerumah temannya yang sudah dijanjikan. Dimas menelfon temannya untuk membahas tentang tawaran kerjaan waktu itu kepada kakak sepupunya. Setelah sampai dirumahnya temannya, Larasati dan Dimas diajak Susan (teman kuliah Dimas) dia juga memiliki kakak laki-laki yang bernama Arman, Arman bekerja disebuah perusahaan.
Susah mengajak mereka melihat toko keluarganya, ibunya membuka toko bunga sedangkan ayahnya membuka toko tanaman yang hanya sebelahan, ada beberapa karyawan juga disana.
Karyawan toko bunga Tati, Lia, Dewi, Marwa dan Larasati nantinya. Sedangkan ditoko ayahnya ada bang Widi, pak Ardi, bang Bimo, pak Lukman, dan bang Alfa. Ibu melati nama pemilik toko bunga dan pak Maulana suaminya.
Beberapa hari berikutnya Larasati sudah mulaiaauk bekerja di toko Bunga Berkah Melati (nama toko bunga) dan disampingnya Asli Segar (nama toko tanaman). Selama satu minggu Larasati diajari bagaimana cara menata bunga, merawat bunga, tanaman yang ada ditoko sebelah juga, dan dia diharuskan menghafalkan nama-nama bunga dan artinya. Dia sedikit merasa kesusahan diawal belajar untuk menghafalkan nama dan arti bunga-bunga itu. Bahkan dia mencatatnya dan mempelajarinya dirumah.
"mbak Laras malam-malam begini masih ngapain?" tanya Dimas
"Ohh... kamu Dim-Dim, ini mbak lagi hafalin nama sama arti bunga-bunganya."jawab Larasati
"mbak masih agak sedikit kebingungan, kadang salah sebutin namanya juga, hehehehe..." ucap Larasati sambil tersenyum sembari tertawa kecil
"Ini cah ayu Bu Lek bawain teh, diminum ya ndhok." ucap Bu Sumi
__ADS_1
"Dimas besok kamu anterin mbakmu itu ketempat kerjanya ya le." perintah pak Kasman (bapak Dimas)
"Iya pak, mulai besok kan Dimas udah masuk kuliah. Nanti bisa bareng mbak Laras berangkatnya." ucap Dimas
"Nggak perlu Dim, ntar mbak ngerepotin kamu lagi."ucap Larasati
"enggak apa-apa to ndhok." Bujuk ibu Sumi
"Tapi Bu Lek ...." ucapan Larasati dipotong pak Kasman
"Gak ada tapi-tapian ndhok, ini juga kewajiban pak lek buat jagain kamu. Bapakmu itu sudah menitipkan kamu ke kami disini." jelas pak Kasman dengan lembut membuat Larasati merasa aman dan tenang
"Iya pak Lek." pasrah Larasati
"Iya udah kalo gitu Dimas masuk dulu ya pak, buk, mbak Laras." ucap Dimas berdiri melangkah masuk kedalam kamar
"Jangan tidur malam-malam ndhok, pak lek masuk dulu ya." tutur pak Kasman
"Iya pak lek." ucap Larasati
"Bu Lek juga masuk dulu ya cah ayu." ucab Bu Sumi lembari mengelus kepala Larasati
Hingga larut malam Larasati masih menghafal, tapi tiba-tiba dari belakang Bu Sumi menepuk pundaknya dan menyuruhnya tidur karena sudah terlalu malam.
"Ndhok, masuk tidur yuk udah malam. Besok bukannya kamu kerja, ayok...." ajak Bu Sumi
"Iya Bu Lek, bentar lagi tanggung." jelas Larasati yang masih fokus pandangannya ke buku
"bocah ini." guman Bu sumi
"Udah ayok masuk, nanti kamu sakit lho kalo terlalu dipaksain. Pelan-pelan saja belajarnya, nanti juga kan faham kalo sudah lama bekerjanya." perintah Bu Sumi
"Iya Bu Lek." jawab Larasati berdiri dan mereka pun masuk kedalam rumah.
terimakasih sudah membaca π€π€π€π€π€
terimakasih sudah mampirππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
jangan lupa ya like dan comentπππππππ
masukkan saran atau keritikannya jugaπ€
dukungan kalian sangat bermanfaat untuk saya
ππππππππππππ
__ADS_1