Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
kecelakaan


__ADS_3

Beberapa hari setelannya Oma Astuti sering memesan bunga dari toko Berkah Melati tempat Larasati bekerja, dan Oma Astuti juga menginginkan hanya Larasati yang mengantarkan pesanan bunga itu langsung ke kediamannya. Rumah besar megah dengan pintu gerbang besar bak istana membuat Larasati kagum melihatnya, dia berfikir seperti sedang berada di negeri dongeng. Memang rumah di komplek perumahan Oma Astuti itu megah, karena disana kawasan rumah mewah elite.


"Permisi, paket."


"Assallamuallaikum."


"Permisi, paket bunga dari toko Berkah Melati." Teriak Larasati dari balik pintu gerbang yang dikunci.


"Waallaikumsallam, sebentar neng." Ucap seorang perempuan dari dalam rumah.


"Permisi mbok, saya mau mengantarkan paket bunga untuk Oma Astuti." Tutur Larasati.


"Ini pasti mbak Laras ya. Ayo masuk non." Ajak perempuan itu masuk ke rumah.


Larasati yang masih bingung dengan sebutan non bengong.


"Wah halamannya luas banget." Batin Larasati kagum.


Mbok Ijah mengajak Larasati masuk kedalam rumah dan mempersilahkan masuk, dia juga tidak lupa menawarkan minum ke Larasati. Larasati hanya mengiyakan.


Oma Astuti yang tau Larasati sudah datang pun keluar kamarnya dan menghampiri.


Oma Astuti menelfon cucunya untuk pulang kerumah makan siang bersama, tujuannya tentu saja ingin menjodohkannya dengan Larasati. Sedangkan Larasati tidak tau apa-apa.


Larasati mencoba meminta izin untuk kembali ke toko bunga, tapi Oma Astuti sudah menelfon toko bunga dan beralasan bahwa Larasati tengah membantu menata bunga-bunga pesanannya. Tentu saja mereka memberi izin ke Oma Astuti. Oma meminta Larasati menemaninya makan siang bersama, Oma beralasan jika dia hanya makan siang sendirian tiap hari. Tak selang berapa menit Raka cucu Oma Astuti pun sampai kerumah.


Mereka pun makan siang bersama di meja makan, Larasati merasa canggung dan malu. Dia merasa tidak seharusnya dia ikut makan siang bersama mereka.


"Bagaimana masakan mbok Ijah?" Tanya Oma Astuti lirih


"Enak kok Oma." Jawab Larasati pelan.


Sedangkan Raka hanya diam dengan muka datarnya.


"Laras mau kan jadi cucu Oma." Pinta Oma Astuti membuat Larasati tersedak.


"Uhuk...uhuk...uhuk...." Laras sembari menepuk-nepuk dadanya.


"Kamu gak apa-apa? Mbok Ijah tolong ambilkan air minum!" Perintah Oma Astuti ke pembantunya.


Raka pun hanya diam saja melanjutkan makannya, karena dia sudah terbiasa dengan sikap Omanya yang seperti itu ke beberapa perempuan yang ingin dijodohkan dengannya.


"Enggak apa-apa Oma." Jawab Larasati meneguk air minumnya.


"Kamu yakin gak apa-apa?" Tanya Oma lirih.


"Iya Oma gak apa-apa." Larasati pun semakin canggung sedikit melirik ke arah Raka.


Setelah selesai makan Raka meminta izin untuk kembali ke kantor, walaupun Oma Astuti melarangnya tetap saja tidak bisa menahan cucunya itu pergi.



Setelah Raka pergi Oma Astuti tetap membujuk Larasati menerima permintaannya, walaupun sedikit memaksa Oma Astuti tidak peduli. Dia merasa sangat dekat dengan Larasati, Larasati minta izin untuk sholat Dhuhur dirumah Oma Astuti. Setelah selesai beribadah Oma mengajak Larasati sedikit berbelanja pakaian dan beberapa aksesoris.

__ADS_1


"Oma ini gak kebanyakan untuk Laras." Tegur Larasati ke Oma Astuti karena barang yang Oma berikan terlalu banyak.


"Gak apa-apa, itu belum seberapa." Ujarnya


"Astaghfirullah, emang ya orang kaya itu bebas. Boros banget, ini terus buat apa barang sebanyak ini." Batin Larasati


"Yang ini juga bagus." Gumam Oma Astuti bicara sendiri.


"Ini juga boleh." Timpalnya


"Hem...!!!!!" Oma Astuti terus memilih-milih.


"Oma kita pulang aja yuk!!" Pinta Larasati membujuk Oma Astuti pulang.


"Ya sudah kalo gitu, itu buat kamu ya." Ucapnya sambil tersenyum lega.


Oma Astuti pun mengantarkan Larasati pulang kerumahnya bukan ke toko bunga, karena Oma Astuti ingin tau dimana tempat tinggal Larasati supaya memudahkannya untuk berkunjung suatu saat nanti.


Di tempat lain Wulan berusaha mendekati Arman, dia datang ke toko bunga . Setelah dia bertemu Arman, Wulan tanpa segan mengutarakan perasaannya ke Arman. Sontak saja Arman menolaknya dengan tegas, Wulan pun sangat terpuruk mendengarnya.


Wulan bertanya " Kenapa kamu menolak saya, apa saya kurang cantik atau apa?"


"Saya menyukai orang lain dan itu bukan urusan kamu." Ucapnya dingin menatap Wulan sinis.


"Siapa?" Teriak Wulan karena kesal.


"Itu bukan urusan kamu!" Jawabnya tegas.


"Saya mau suka dengan siapa itu bukan urusan kamu mengerti, lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan ganggu saya lagi. Dan ingat satu hal, kamu bukan siapa-siapa saya. Mengerti!!!" Ucap kasar Arman memperingatkan Wulan untuk tidak ikut campur urusannya karena dia bukan siapa-siapa Arman.


"Hiks....hiks.....hiks.....!!! Tangis Wulan menggeru-geru.


Arman pun pergi meninggalkan Wulan sendiri yang tengah menangis karena penolakannya, Wulan pergi mengendarai mobilnya dengan perasaan kalut dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Didalam mobil pun Wulan masih menangis tanpa henti. Tiba-tiba....


"Ngieng.....srakkkk....brakkk......"


Suara kencang terdengar sebuah mobil menabrak pohon dipinggir jalan, beberapa warga sekitar yang melihat segera menghampiri dan menolong Wulan yang tengah pingsan didalam mobil. Segera mereka memanggil ambulan dan membawanya ke rumah sakit.


Untung saja lukanya tidak terlalu berat, hanya benturan ringan yang menyebabkan sedikit pendarahan di keningnya. Meninggalkan bekas luka goresan kecil.


Keluarga Wulan yang mendengar Wulan mengalami kecelakaan pun pergi ke rumah sakit, tidak terkecuali Oma Astuti dan Raka.


Saat sampai dirumah sakit mereka bingung karena semenjak Wulan siuman dia tidak mau berbicara apapun ke semua keluarga dan sahabatnya. Bahkan Lily dan Angga mencoba untuk membujuknya menceritakan apa yang terjadi hingga dia mengalami kecelakaan pun tetap saja tidak mau berbicara.


Akhirnya Raka memutuskan untuk mencoba berbicara hanya berdua dengan Wulan. Didepan Raka, Wulan menceritakan bahwa dia baru saja ditolak oleh pria yang dia sukai. Dan pria itu menyukai orang lain, yang tidak lain adalah Larasati. Mendengar itu Raka sedikit kesal tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya ada satu hal yang bisa dia lakukan. Jika dia menyetujui untuk menikahi Larasati, maka laki-laki itu tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Larasati. Dan itu juga bisa membuat hati Wulan sedikit terobati.


"Mas akan coba menerima permintaan Oma untuk menikahi Larasati." Ucapnya didepan Wulan, sontak saja Wulan kaget tapi dia bingung mau bilang apa.


"Kok mas tiba-tiba mau gitu aja." timpal Wulan.


"Supaya laki-laki yang membuat kamu seperti ini juga merasakan kehilangan sebelum memilikinya, mas akan berusaha merebutnya." kalimat yang keluar dari mulut Raka memang sangat pedas dengan tatapan dinginnya.


Senyum seringai pun muncul diwajah wulan, seolah dia merasa puas. Raka pun pergi meninggalkan ruangan dimana Wulan dirawat. Segera dia menghampiri Omanya yang sedari tadi khawatir dengan keadaan cucu perempuannya.

__ADS_1


Raka mengatakan bahwa Wulan baik-baik saja.


"Oma, ada yang Raka ingin sampaikan ke Oma!" ucap Raka.


"Apa itu?" jawab Oma yang penasaran dengan ucapan cucunya itu.


"Raka setuju untuk menikahi Larasati dan mencoba membujuknya." kalimat Raka ini membuat senyum Oma Astuti seketika muncul.


"Kamu yakin dengan ucapanmu." tanya Oma Astuti yang penasaran.


"Demi Oma, Raka setuju." ujarnya


"Ya sudah, nanti Oma coba bilang ke orang tua Larasati. Oma akan coba datang ke rumahnya." ucap Oma Yang kegirangan. Akhirnya dia punya cucu mantu.


"Oma sudah tidak sabar ingin memiliki cicit." Gumamnya.


Oma Astuti sangat gembira mendengar akhirnya cucu kesayangannya mau menikahi seorang perempuan, Oma Astuti sempat khawatir karena cucu kesayangannya itu tidak pernah membawa perempuan ke rumah.


Apakah Raka benar-benar menyukai Larasati atau itu hanya untuk membuat Omanya bahagia, atau untuk membuat laki-laki yang disukai adik sepupunya itu tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2