
Didalam ruangan Susan dan Rizky memberikan buah-buahan yang mereka bawa ke pada Bu Sumi ibu Dimas.
"Assallamuallaikum." Susan dan Rizky serentak mengucap salam.
"Waallaikumsallam." Jawab Oma Astuti dan Bu Sumi.
"Eh nak Susan sama nak Rizky, mari." Ajak Bu Sumi mempersilahkan mereka masuk.
"Mereka ini siapa??" Tanya Oma Astuti.
"Mereka ini temennya Dimas Oma." Bu Sumi menjelaskan sambil menunjuk satu persatu dari mereka.
"Oo... temennya Dimas." Celetuk Oma Astuti menghela nafasnya.
"Cuman berdua saja nak Susan?" Tanya Bu Sumi yang tidak melihat Arman, karena biasanya Susan datang bersama Arman.
"Enggak kok Tante, tadi sama mas Arman. Tapi biasa Tante gak mau masuk, didepan nungguin mbak Laras." Ucap Susan meledek kakaknya membuat Oma Astuti sedikit kaget mendengar ucapan Susan.
"Siapa Arman ini, jangan-jangan dia juga mau deketin Laras, gak bisa ini. Gak bisa dibiarin, saya harus secepatnya membuat Raka mau menikahi Laras." Batin Oma mulai memberontak.
Arman yang melihat Larasati dari kejauhan segera bangkit dari kursinya, dia menunggu di luar dan menyuruh adiknya masuk duluan.
"Lho mas Arman kok gak masuk!" Ucap Larasati.
"Lagi nunggu kamu, tadinya siapa tau ada yang bisa mas bantu bawain. Ternyata gak perlu." Ucapnya sambil tersenyum sinis menatap Raka.
"Hem, bilang aja mau caper." Celetuknya
Membuat Larasati heran dengan ucapan Raka yang ambigu seperti cemburu, dia heran dengan ucapan ke dua laki-laki itu yang seperti musuh bebuyutan.
"Udah-udah, ini lagi. Kalian ngapain sih kek orang lagi cemburu satu sama lain, ihhhhhhhh....... jangan-jangan kalian!!!!!" Ucap Larasati memikirkan sesuatu yang tak masuk akal, dia berfikir jika kedua laki-laki itu saling suka seperti di serial drama-drama tv.
"Hiiihh...!" Timpalnya merinding.
"Hem" Arman dan Raka hanya menghela nafas.
Mereka masuk keruangan dan membagikan makan siang, merekapun makan siang bersama disana. Ruangan yang Oma Astuti pesan khusus untuk perawatan pak lek Larasati memang cukup luas. Selepas makan Arman dan Susan berpamitan pulang, Oma Astuti juga pulang tadi dia melarang Raka ikut pulang bersamanya tapi Raka menolak dengan alasan banyak pekerjaan yang harus dia urus. Oma menatap ke arah Arman yang sudah pergi menjauh, akhirnya Oma mengizinkan Raka pulang. Tapi Oma berpesan ke Larasati jika kedua orang tuanya sudah sampai di Jakarta, Oma meminta Larasati memberitahukannya.
"Laras Oma pamit dulu ya, kalo ada apa-apa kamu langsung saja hubungi Oma ya!" Pinta Oma Astuti.
"Iya Oma, Oma gak perlu khawatir. Nanti biar Dimas aja yang jemput ibu sama bapak Laras di terminal." Ucap Larasati.
"Iya Oma, Oma Astuti gak perlu repot-repot. Kami sekeluarga sudah banyak merepotkan." Timpal Bu Sumi.
"Gak apa-apa, nanti kalo saya sampai rumah biar pak supir nanti tunggu disini. Kan nanti gampang kalo Dimas mau ikut jemput bareng pak supir." Bujuk Oma Astuti yang ngotot memberikan mereka tawaran.
Raka pun berbicara supaya Omanya tidak ngotot terus "sudah Tante, Laras nanti biar pak Epi yang kesini."
Oma pun tersenyum mendengar ucapan cucunya itu yang mulai memperhatikan Laras.
__ADS_1
"Ya sudah kalo gitu kita pergi dulu, Assallamuallaikum." Ucap Oma Astuti melangkah pergi.
"Waallaikumsallam." Jawab Bu Sumi dan Larasati.
"Assallamuallaikum Tante, Laras." Ucap Raka tanpa senyum.
"Waallaikumsallam nak Raka, makasih lho nak Raka sudah banyak membantu keluarga saya." Ucap Bu Sumi menjabat tangan Raka.
"Waallaikumsallam." Saut Larasati.
"Sama-sama." Ucap Raka singkat dengan Expresi dinginnya seperti biasa.
Raka dan Oma Astuti pun pulang, beberapa saat kemudian supirnya datang kerumah sakit. Larasati meminta pak supir beristirahat di mushola yang ada di sebelah rumah sakit supaya tidak kelelahan nanti pas menyetir mobilnya, Larasati memang orang yang cukup pengertian. Dimas kembali dari kampus dan mengatakan jika izin cuti kuliahnya tidak disetujui karena nilai mata pelajarannya cukup tinggi, dosennya menyayangkan jika dia sampai putus kuliah. Bahkan dosennya menawarkan bantuan untuk orang tuanya juga tapi Dimas menolak bantuan dosennya. Dia takut karena Dimas tau anak dari dosennya itu menyukainya, dia takut jika dikalikan menantu oleh dosennya itu.
Sekitar pukul 05.00 waktu untuk Indonesia bagian barat kedua orang tua Larasati sampai di terminal, mereka menelfon Larasati.
Kring.....kring.....kring.....
"Halo, assallamuallaikum ndhok." Ucap Bu Siti dalam panggilan.
"Waallaikumsallam Bu." Jawab Larasati.
"Ibu sebentar lagi udah mau sampai di terminal sama bapakmu, kapan Dimas jemput ndhok." Bu Siti mengingatkan Larasati untuk menjemput mereka di terminal.
"Iya Bu, ini Laras mau ngomong sama dek Dimas dulu." Ucap Larasati.
"Ya sudah kalo gitu ibu matiin dulu hpnya, ibu takut nanti pas sampai terminal baterainya habis." Bu Siti melihat baretai ponselnya yang sudah mau habis.
"Assallamuallaikum." Bu Siti mengakhiri panggilannya.
"Waallaikumsallam." Jawab Larasati yang juga menutup telfonnya.
Larasati memberitahu Bu leknya jika bapak dan ibu nya sebentar lagi sudah mau sampai di Jakarta, Laras juga meminta Dimas segera bersiap-siap menunggu diterminal bersama pak Epi supir Oma Astuti yang sedari tadi sudah ada di rumah sakit.
Pak supir yang mengetahui hal itu segera menghubungi Oma Astuti jika orang tua Larasati sudah sampai Jakarta sebentar lagi dia mau menjemput mereka, Oma pun menyiapkan rencana untuk menemui ke dua orang tua Larasati. Oma meminta bantuan Wulan cucu kesayangan. Wulan pun datang ke rumah Lily memintanya untuk menyambut kedatangan orang tua Larasati di kediaman Dimas, karena Wulan tau bahwa Dimas akan membawa orang tua Larasati untuk beristirahat dulu dirumah mereka sebelum pergi ke rumah sakit. Soalnya pak supir juga sudah menghubungi Wulan sebelumnya.
"Assallamuallaikum Lily sayang." Teriak Wulan dari depan pintu rumah paman Lily.
"Waallaikumsallam, kebiasaan!!!! Gak perlu teriak-teriak, kita juga denger kok." Ucap Lily menghampiri Wulan, pamannya sedang bekerja di keluar begitu juga bibinya ada acara PKK di kantor kelurahan.
"Hehehe...!!!" Kekehnya.
"Tumben kesini, gak sibuk. Oh iya, kamu kemarin sempet jenguk orang tua Dimas gimana kabarnya? Operasinya lancar kan, maaf ya. Aku gak bisa ikut nemenin kamu jenguk mereka, tau sendiri lah. Aku juga sibuk banget buat persiapan masuk kantor lagi." Ucap Lily.
"Hemm...." Wulan menghela nafasnya mendengar ucapan sahabatnya itu sudah mulai cerewet.
"Gini nih kalo dah sembuh, cerewetnya kambuh. Kok bisa ya Angga suka sama cewek cerewet modelan kek gini!" Celetuknya menyindir sahabatnya.
"Kamu apaan sih." Ucap Lily yang mulai tertawa mendengar ejekan Wulan.
__ADS_1
"Kamu kesini mau ngapain?" Tanya Lily.
"Mau minta tolong!" Timpal Wulan.
"Mau minta tolong apa??" Tanyanya lagi.
"Masalah mas Raka sama mbak Laras." ucap Wulan mengisyaratkan kode matanya ke Lily.
"Hem..Hem..Hem..!!" membuat Lily menahan senyumnya.
"ini dua orang masih aja sama kayak dulu, gak nenek gak cucu." batin Lily
Karena dia dulu juga sama. Oma Astuti pernah sempat menjodohkannya dengan Raka, hanya saja saat itu Lily sudah jatuh cinta dengan Anggara.
Lily hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah mereka seperti mak comblang.
Wulan pun menceritakan apa yang dia dan Omanya rencanakan untuk membuat Larasati dan Raka jadian bahkan mengharapkan mereka menikah. Dengan cara mendekati ke dua orang tua Larasati terlebih dahulu, Lily pun menyetujui permintaan Wulan. Dia menemani Wulan ke rumah Dimas untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Larasati didepan rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
__ADS_1
jangan lupa like dan coment yaπ