
Seperti biasa saat Raka pulang dari kantor, Laras sudah menunggunya dengan Oma di ruang keluarga sambil menonton drama Korea kesukaan Oma dan Wulan. Kalo Laras kurang begitu faham dan suka drama-drama Korea, soalnya dikampung Laras jarang menonton tayangan di televisi. Dia lebih sering disibukkan dengan membantu kedua orang tuanya di sawah dan kebun sayurnya.
"Oma suka banget ya drama Korea." Tanya Laras yang sedari tadi melihat sesekali Oma tersenyum dan tertawa.
"Iya, lucu soalnya. Kadang ya bikin malu-malu gitu. Bisa mengingatkan Oma tentang masa muda Oma dulu." Tuturnya.
"Memang kamu gak suka drama Korea?" Tanya Oma menengok ke arah Laras di sebelahnya.
"Kurang begitu Oma, soalnya Laras jarang nontonnya." Jawabnya
Dari depan terdengar mobil Raka tiba.
"Assalamualaikum." Ucap Raka membuka pintu menuju Oma dan Laras yang tengah asyik menonton drama.
"Assallamualaikum." Timpalnya, tapi Oma dan Laras masih asik tertawa tidak mendengar ucapan Raka.
"Kalian gak denger ya saya ucapin salam dari tadi." Tegurnya sambil menarik nafas
"Eh mas udah pulang." Ucap Larasati
"Kamu gak denger saya bilang apa dari tadi."
"Enggak mbak."
"Ush... Oma lagi asik nonton ini, jangan pada berisik." Ucap Oma
"Oma! Oma gak lihat cucu Oma yang paling ganteng ini pula." Celetuknya
"Iya, kamu cucu Oma yang paling ganteng." Singkatnya masih fokus dengan drama koreanya.
Sedangkan Laras yang melihat Raka menggoda Omanya tersenyum menahan tawanya. Dia baru sadar jika Raka suka bercanda dengan Omanya, dan sikapnya tidak sedingin es seperti yang dia pikirkan.
"Ternyata mas Raka bisa bercanda juga." Batinnya.
"Kenapa kamu?" Tanya Raka saat melihat raut wajah istrinya yang manis itu menahan senyum.
"Enggak apa-apa mas, sini tasnya biar Laras bawa ke ruang kerjanya mas." Ucap Larasati menjulurkan tangannya meminta tas yang masih dipegang Raka.
"Gak perlu! Kamu siapin aja air panas buat saya mandi. Ini biar si mbok aja yang naruh." Ucapnya
"Ya udah." Larasati pergi menuju kamar mandi yang ada dikamar mereka.
"Mbok." Panggilnya
"Iya tuan." Mbok Ijah berjalan dari dapur kearahnya.
"Tolong mbok taruhkan tas saya di ruangan kerja saya." Perintahnya
"Iya tuan."
"Makasih mbok." Timpalnya
"Sama-sama tuan." Ucap mbok Ijah.
"Oma." Panggilnya lirih
__ADS_1
"Iya, kenapa lagi." Jawab Oma yang masih menatap ke arah televisi.
"Raka ke atas dulu ya."
"Ya udah sana."
Raka berjalan menuju kamarnya, saat dia masuk kamar. Dia tidak melihat sosok Laras didalam, tapi dia mendengar keran air berbunyi didalam kamar mandi.
Raka tersenyum jahat, tak tau apa yang tengah dia fikirkan saat mengetahui istrinya itu masih didalam kamar mandi.
Raka masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas Raka." Laras kaget ketika suaminya itu masuk kamar mandi tanpa mengetuk pintunya.
"Klontang!!!" Laras menjatuhkan gagang shower di bak mandi.
"Mas Raka ngapain?" Laras dibikin makin kaget saat melihat Raka membuka bajunya dan memperlihatkan otot perutnya yang six packs. Membuat Laras menelan ludahnya, seketika otot kakinya lemas dan terduduk dipinggir bak mandi. Raka berjalan ke arahnya sengaja ingin menggoda istrinya.
"Mas mau apa?" Teriaknya sambil mengangkat kedua tangannya untuk menghadang suaminya itu.
"Saya mau mandi, kamu sendiri ngapain masih disini." Ucapnya
"Apa jangan-jangan kamu juga mau ikut mandi sama saya." Bisiknya ditelinga Laras seketika membuat bulu kuduk Laras merinding.
"Ih mas apa-apaan sih. Dasar mas mesum." Laras pun berlari keluar dari kamar mandi. Raka pun tersenyum lebar melihat tingkah istrinya yang malu-malu dengan pipi merah tersipu sambil menutup wajahnya.
"Mas Raka jahat banget sih, tega banget ngerjain aku sampai bikin aku malu." Gerutunya meninggalkan kamar menuju dapur. Laras dibuatnya kesal.
"Laras." Tegur Omanya yang sedari tadi melihat raut wajah Laras cemberut.
"Kamu kenapa. Ada apa?" Tanya Oma padanya.
"Gak ada apa-apa kok Oma." Jawabnya masih kesal
"Kalo kamu ada apa-apa sama Raka atau Raka bikin ulah sama kamu, kamu bilang aja sama Oma ya. Biar Oma nanti yang marahin." Bujuk Omanya.
"Itu Oma."
"Kenapa? Sini ngomong aja sama Oma." Bujuknya mengelus punggung cucu mantu kesayangan.
"Mas Raka keterlaluan." Adunya
"Keterlaluan kenapa?"
Tanpa berpikir panjang Laras mengatakan ke Oma tantang Raka "Masak nih ya Oma, dia buka baju didepan Laras saat Laras masih dikamar mandi. Kan Laras jadi malu Oma." Rengeknya.
"Lho, kan wajar itu."
"Kok Oma malah belain mas Raka sih, bukannya Laras. Tadi Oma bilang mau belain Laras."
"Gimana Oma mau belain kamu, kan Raka itu suami kamu. Ya wajar kalo namanya suami itu buka baju didepan istrinya. Kalo dia buka baju didepan perempuan yang bukan istrinya itu baru enggak wajar." Tutur Oma Astuti membuat Laras tersadar dari pikirannya yang aneh-aneh.
"Oh iya ya, kan mas Raka suami aku sendiri. Tapi tetep aja mas Raka keterlaluan." Batinnya
"Kamu ini ada-ada saja." Ledek Omanya tersenyum lebar melihat kepolosan cucu mantunya itu.
__ADS_1
Laras pun merasa malu didepan Omanya karena terlalu polos jadi orang.
"Memangnya kamu belum pernah lihat Raka tanpa baju apa?" Goda Omanya
"Oma apaan sih, Oma kok saja kayak mas Raka ih...!"
"Sama apanya." Godanya
"Ih Oma, nyebelin lama-lama. Laras kedapur dulu aja bantu mbok Ijah sama Tuti." Laras pun pergi ke dapur membantu kedua pembantunya menyiapkan makan malam mereka.
"Mbok, mbak Tuti." Panggil Larasati
"Iya non." Jawab Tuti.
"Iya non ada apa." Ucap mbok Ijah.
"Tolong lanjutin ya, tinggal nyiapin aja dimaji ini. Saya mau manggil mas Raka ke atas, mbak tolong panggil Oma juga. Bilangin makanannya udah siapa?" Pinta Larasati
"Iya non." Jawabnya
Laras naik ke lantai 2 menuju kamarnya dan Raka. Saat sampai didepan pintu masuk, Laras terdiam sesaat. Dia ingin membuka pintu tapi masih merasa canggung jika melangkah masuk.
"Gimana ini." Batinnya
"Ah, udah lah." Gumamnya, Laras membuka pintu kamar. Melihat sesosok pria tampan yang tengah berbaring di atas sofa memejamkan matanya. Laras mencoba mendekat dan menunduk melihat lebih dekat pria tampan yang tidak lain adalah suaminya itu terlihat ganteng, sesaat Laras merasa terpesona.
"Ternyata kalo diem gini ganteng banget suami aku." Pujinya tersenyum manis.
Saat Raka membuka kedua matanya, Laras kaget dan jatuh tersungkur kebelakang.
"Kamu kenapa?" Ucapnya tersenyum tipis melihat tingkah malu istrinya. Padahal Raka sedari tadi hanya pura-pura tidur. Dia duduk tanpa membantu istrinya berdiri, Laras berdiri dan menepuk-nepuk bajunya.
"Gak apa-apa." Ucapnya ketus
"Gak lihat apa orang jatuh gini." Timpalnya
"Siapa suruh ngelihatin orang terus dari tadi." Ucapnya datar.
"Siapa yang lihatin." Larasati mengelak jika dia memandangi Raka saat berbaring
" Kamu baru sadar kalo suami kamu itu ganteng." Ucapnya membanggakan diri.
"Ih, nih orang narsis banget sih." Batinnya sambil menyebikkan bibirnya.
"Ish, makan malam udah siap. Aku kesini cuman mau bilangin itu aja." Ucapnya
"Cuman itu."
"Iya." Singkatnya
"Ya udah ayok turun." Pintanya
Laras malu ketahuan memperhatikan suaminya dia pergi terburu-buru, Raka hanya bisa melihat punggung Laras dengan badan mungilnya. "Ternyata lebih manis dari apa yang saya fikiran sebelumnya, heh." Gumamnya tersenyum beberapa mengedipkan mata dan mengangkat alisnya.
"Kenapa aku baru sadar." Timpalnya sambil berdiri dan menepuk kedua pahanya.
__ADS_1
Dia melangkah menuju meja makan menyusul Laras dan Oma yang sudah menunggunya dibawah.