Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
tak bisa berkata-kata


__ADS_3

Setelah operasinya berjalan dengan lancar, Oma Astuti meminta ke pihak rumah sakit untuk menentukan pak lek Larasati ke ruangan khusus.


Larasati pun menghubungi ke dua orang tuanya yang ada di kampung, Larasati mengabarkan tentang kondisi pak leknya yang mengalami kecelakaan kerja. Ke esokan nya ibu Larasati menghubungi putrinya.


Kring...kring...kring.....!!!!


Panggil masuk IBU


"Assallamuallaikum!!" Sapa Larasati


"Waallaikumsallam, gimana ndhok keadaan pak lekmu disana?" Jawab ibunya dengan wajah sendu khawatir tentang kondisi adik iparnya.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan baik buk, kata dokter 1 Minggu lagi sudah boleh pulang. Dokter juga bilang kalo pak lek butuh istirahat total mungkin kurang lebih 3 bulan untuk menstabilkan kondisinya, pak lek juga masih butuh rawat jalan kedepannya." Tutur Larasati memenangkan ibu dan keluarganya yang ada di kampung.


"Astaghfirullah, hik...hik....hik...!!! Ibu insyaallah sama bapak bakalan ke sana kalo pekerjaan di sini sudah beres. Jangan lupa bilang ke Bu lekmu ya, jaga kondisi kesehatannya juga. Jangan sampai kecapekan." Pinta Bu Siti ke putrinya.


"Iya Bu, nanti Larasati sampaikan ke Bu lek kalo ibu sama bapak mau ke Jakarta." Ucap Larasati mematikan ponselnya dan kembali ke ruangan pak leknya di rawat. Pak leknya belum juga siuman karena obat bius yang disuntikkan oleh dokter belum habis.


Sesampainya di ruangan pak leknya, Larasati menyampaikan apa yang kedua orang tuanya sampaikan ke Bu Sumi.


"Assallamuallaikum." Ucap Larasati dari depan pintu masuki ruangan pak Kasman.


"Waallaikumsallam ndhok, gimana?? Tadi ibumu ngomong apa?" Tanya Bu Sumi dengan wajah yang sedikit lega melihat kondisi suaminya yang sudah mulai membaik.


"Ibu bilang katanya nanti mau ke Jakarta sama bapak." Jawab Larasati melangkah menuju Bu leknya yang tengah duduk di samping tempat tidur.


"Terus nanti yang ngerawat sawah sama kebun siapa ndhok, kalo pak Dhemu semua kan kasian. Mereka kan juga jagain si mbahmu to!!" Ucap Bu Sumi.


"Iya sih Bu lek, tapi kata ibu nanti mau di pasrahin ke tetangga juga buat bantuin pak Dhe." Tutur Larasati membari memandang pak leknya yang masih belum siuman.


"Bu lek, Dimas mana kok gak kelihatan dari tadi?" Timpal Larasati menanyakan keberadaan adiknya itu yang sedari tadi tidak kelihatan.


"Dimas lagi ke kampus, dia lagi mau mengajukan cuti kuliah. Dia mau ambil kerja buat ganti bayar biaya operasi pak lekmu." Ucap Bu Sumi.


"Ngapain sih Bu lek, kan gak perlu. Nanti kita bayarnya bareng-bareng. Uang segitu gak sedikit lho Bu lek, Laras kan juga bisa bantu!" Timpal Larasati memeluk Bu leknya.


"Gak perlu ndhok, kamu kan anak gadis. Jangan kerja terlalu keras, ingat kondisi badan kamu juga." Bu Sumi menasehati keponakannya supaya tidak terlalu kelelahan.


Dua hari kemudian, Larasati masih mengambil cuti 1 minggu untuk menemani Bu lek nya di rumah sakit. Arman juga menyempatkan waktunya untuk sering-sering menjenguk Larasati dan pak leknya yang tengah dirawat. Sedangkan bapak dan ibunya sudah diperjalanan menuju Jakarta.


"Raka, ada yang ingin Oma bicarakan sama kamu!" Ucap Oma Astuti dari kejauhan yang melihat Cucunya sedari tadi duduk di sofa ruang tv.


"Hem!" Raka hanya bergumam.


"Gimana Laras menurut kamu?" Oma Larasati mencoba menggoda cucunya yang asik memainkan ponselnya.


"Gimana apanya Oma!!" Ucap Raka sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Menurut kamu tentang Larasati, masak masih nanya Oma tentang apa!" Ledek Oma Larasati membuat Raka menggelengkan kepalanya.


"Hem!!!" Gumamnya.


"Ih...kamu mah gak perhatian sama Oma!!!" Oma mulai ngambek dan kesal dengan semua jawaban Raka yang singkat seperti tidak peduli.


"Ya sudah, Oma mau lihat Laras." Celetuk Oma Astuti merengek manja ke cucu laki-lakinya itu.


"Hem!! Terus Oma mau apa???" Tanya Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anterin Oma ke rumah sakit!" Pinta Oma.


"Kan ada pak supir!!" Ucap Raka singkat.


"Oma maunya kamu yang anterin!" Oma memaksa cucunya untuk setuju.


"Hem!! Ya udah iya!!" Ucap Raka dingin.


Raka dan Oma Astuti setiap hari juga menyempatkan menengok Larasati di rumah sakit, Oma juga masih menanyakan ke Larasati tentang permintaannya tempo hari sembari menasehati Larasati. Raka tidak ikut masuk kedalam ruangan, karena dia tau pasti Omanya akan heboh seperti biasa. Dia menunggu di depan ruangan sembari melihat ponselnya mengecek pekerjaan lewat ponselnya.


"Assallamuallaikum." Ucap Oma memasuki ruangan.


"Waallaikumsallam Oma." Jawab Larasati menyambut kedatangannya.


"Waallaikumsallam Bu." Sapa Bu Sumi berdiri.


"Oma mau ngomong apa?" Tanya Larasati yang mulai penasaran.


"Oma mau bilang sama kau, gimana kalo kamu menikah dengan cucu Oma. Dan sebagai gantinya biaya operasi, rumah sakit dan untuk perawatan rawat jalan pak lek kamu Oma yang tanggung." Tutur Oma Larasati.


"Oma gak mau lihat kamu kesusahan." Timpalnya.


Larasati kebingungan dan menoleh ke arah Bu leknya dengan isyarat meminta bantuan bicara.


"Begini Bu, biaya operasi rumah sakit dan sebagainya nanti biar saya dan anak laki-laki saya yang ganti. Ini gak ada urusannya dengan Laras, kasian kalo Laras nya dipaksa!" Ucap Bu Sumi membuat Larasati sedikit lega.


"Maksudnya saya itu, kalo Laras menikah dengan cucu saya kan nantinya kalian juga bisa pinda ke rumah saya. Jadi ada mbok sama suster yang rawat, Dimas juga bisa kuliah dengan tenang. Laras juga gak perlu kerja lagi." Tutur Oma Astuti mengiming-imingi fasilitas yang menguntungkan untuk keluarga Larasati. Hanya saja Larasati masih enggak menerima semua itu.


Larasati dan Bu leknya hanya saling saling memandang satu sama lain, bingung ingin menjawab apa.


"Bagaimana kalo ibu bicarakan saja dengan ke dua orang tuanya Laras, mereka rencana akan ke Jakarta." Kata Bu Sumi karena bingung harus berucap apa lagi untuk menunda jawaban Larasati.


"Jangan panggil Bu, panggil aja Oma seperti Laras." Pinta Oma Astuti.


"Iya, baik Oma." Ucap Bu Sumi sambil tersenyum tipis.


"O...jadi orang tua Laras mau Dateng ke Jakarta." Ucap Oma Astuti dengan antusias.

__ADS_1


"Iya Oma, ibu sama bapak sudah diperjalanan mau ke Jakarta. Nanti paling kalo sudah sampai terminal, Dimas yang bakalan jemput mereka Oma. Soalnya Laras masih kurang tau jalanan di Jakarta." Ucap Larasati.


"Ooo...kalo begitu nanti biar supir Oma saja yang jemput." Oma Astuti menawarkan jemputan untuk ke dua orang tuanya.


"Gak usah Oma, nanti malah ngerepotin Oma." Ucap Larasati.


"Iya Bu! Maaf, maksud saya Oma. Gak perlu ngerepotin, nanti biar Dimas anak saya saja yang jemput mereka." Tandasnya.


"Gak apa-apa! Kan lebih menghemat biaya pengeluaran kalian juga." Saut Oma Larasati.


"Tapi Oma!" Larasati dan Bu Sumi kompak mengucapkan nya beriringan.


"Gak ada tapi-tapi, nanti biar pak supir yang jemput orang tua kamu dari terminal." Tegas Oma Astuti.


Larasati dan Bu Sumi hanya bisa setuju dengan permintaan Oma Astuti tanpa bisa mengelak lagi, memang susah kalo harus berdebat dengan orang yang pandai berbicara seperti Oma. Bahkan Raka saja juga dibuat tak bisa membantah semua permintaannya, Oma selalu menggunakan alasan sakit jantung hingga membuat lawan bicaranya tidak berani melawan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2