Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Arman yang kacau


__ADS_3

Dimas turun dari rombongan studi tour bersama rekan-rekannya dari Jawa timur. Dimas ikut untuk melihat pertanian disana selama kurang lebih 3 hari. Di kampusnya memang mengadakan undian untuk mahasiswa dalam bidang pengalaman apa yang ingin mereka coba, kebanyakan dari mereka memilih pertanian.


"Akhirnya sampai juga di Jakarta." Ucapnya lega sekaligus lelah yang dia rasakan.


"Hadeh....punggungku rasanya mau patah." Di susul Susan dan Rizky.


"Bagas mana Dim?" Tanya Rizky mencoba mencari sekeliling. Mereka meninggalkan Bagas yang masih tertidur pulas didalam bus. Pak supir dan beberapa senior membangunkannya untuk turun.


"Sialan kalian ninggalin gwe." Umpatnya bangun membawa ranselnya turun dari bus pariwisata itu. Saat dia turun, semua teman-temannya sudah pulang duluan dan meninggalkannya.


"Wah....., Benar-benar temen sialan kalian!" Sambil tersenyum lebar menahan kesalnya dia dikerjai Dimas dan yang lain. "Temen macam apa kalian." Dia berjalan sambil menggelengkan kepalanya.


Di kediaman Raka


Tok..tok...tok...tok..


"Assalamualaikum." Ucap Dimas berdiri didepan pintu masuk.


"Waallaikumsallam." Sambut mbak Tuti membukakan pintu untuknya.


"Orang-orang pada kemana mbak, kok sepi." Dimas menengok suasana rumah yang tenang.


"Pada pergi den." Jawab mbak Tuti


"Oma!" Timpalnya


"Nyonya juga pergi den." Ucap mbak Tuti


"Oh." Dimas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aden mau makan." Tanya mbak Tuti.


"Enggak mbak, mau langsung tidur aja. Capek banget mbak."Dimas pun masuk menuju kamarnya untuk beristirahat karena kelelahan habis studytour.


Sedangkan Wulan masih saja enggak melepaskan kesempatan untuk mendapatkan hati Arman, dia masih kekeh mengejarnya setelah dia mendengar pernyataan Dewi bahwa tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.


"Hai." Senyum Wulan menatap wajah Arman yang dingin.


"Hmmm...." Arman hanya menarik nafasnya, dia heran dengan tingkah perempuan yang ada didepannya itu. Dia tidak habis pikir, kenapa perempuan satu ini tidak habis-habisnya mengganggu hari-hari berharganya "time is money"


"Untuk apa lagi kamu ke sini." Ucapnya ketus


"Aku tau kok kalo kamu cuman mau bikin saya cemburu dengan bilang karyawan di toko mami kamu itu sebagai pacar kamu." Tuturnya tersenyum sinis


"Maksud kamu apa?" Arman sedikit bingung dengan ucapan Wulan.


"Yah, kan kamu kemarin bilang siapa itu kemarin? Hemmm.... Aku lupa namanya." Ucapnya sambil berfikir.

__ADS_1


"Pokoknya dia itu udah ngasih tau semua ke aku kalo kamu sama dia sama sekali gak ada hubungan apa-apa. Yah, berarti kamu sengaja kan mau bikin saya cemburu." Ucapnya membanggakan dirinya didepan Arman


"Heh!" Sambil membuang nafas, Arman memalingkan pandangannya mencari sekeliling keberadaan karyawannya yang tempo hari itu.


Sesaat dia melihat keberadaan Dewi, Arman segera mendatanginya. "Siapa bilang saya tidak ada hubungannya dengan dia, mungkin dia cemburu karena melihat kamu perempuan genit menggoda pasangannya." Ucapnya melangkah menuju keberadaan Dewi.


Dewi yang masih tidak tau apa-apa, dia asyik membereskan dedaunan dari bunga-bunga dibantu Larasati. Arman sendiri tidak menyadari keberadaan Laras disebelah Dewi karena terhalang sudut dinding pembatas.


Arman menarik tangan Dewi dan seketika "Dia memang pacar saya." Mencium bibir tipis yang lembut membuat mata beberapa orang disana terbelalak, bahkan Laras juga sempat kaget melihat Arman. Dewi yang masih syok hanya terdiam mematung seketika. Sedangkan Wulan mulai mendidih pergi meninggalkan mereka.


Wulan masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobilnya dengan keras karna kesal merasa telah ditipu oleh Dewi, dia berfikir bahwa Dewi sengaja menipunya untuk mempermalukannya didepan Arman dan beberapa karyawan disana.


"Perempuan sialan." Sambil memukul keras setir mobilnya dan pergi meninggalkan toko bunga dengan perasaan yang hancur melihat Arman mencium bibir Dewi didepan matanya tanpa ragu.


"Plak...


Suara kencang akibat tamparan Dewi tepat mengenai pipinya hingga merah. "Mas Arman benar-benar keterlaluan!!"


Dewi pun pergi mengambil tasnya dan pergi tanpa izin.


Laras yang melihat itu mencoba bertanya "Mas Arman ada hubungan apa dengan mbak Dewi, apa kalian berantem?" Ucapnya, Laras mencoba untuk tidak terlalu banyak bertanya.


"Gak ada masalah apa-apa, saya pergi dulu." Arman bingung harus menjelaskan apa ke Laras, padahal perempuan yang dia cintai dulu adalah Laras. Tapi entah kenapa sekarang dia merasa ada sesuatu yang berbeda dirinya.


"Kenapa aku bisa melakukan hal bodoh seperti ini didepan Laras." Batinnya sambil mencibirkan bibit "Tck...sialan." Timpalnya.


Dewi pergi ke taman untuk menenangkan diri sejenak. Dia masih banyak beban pikiran masalah uang untuk kakaknya, ditambah lagi masalah anak bosnya. Dia sama sekali tidak ingin terlibat dengan masalah Wulan, Laras dan Arman.


"Ahhh.... Ya Tuhan, kenapa hidupku seperti ini. Apa yang harus hamba lakukan. Hamba lelah dengan semua cobaan yang engkau berikan." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca hingga air matanya menetes, dia segera mengusap air matanya dan menarik napas panjang "hemm......."


"Mas" panggil Susan saat melihat kakaknya sampai rumah.


"Iya, kenapa dek." Ucapnya terlihat lesu.


"Mas beneran suka sama mbak Dewi, bukannya mas dulu sukanya sama mbak Laras ya. Kalo mas cuman buat bikin perempuan sakit hati mendingan mas gak perlu cari pelarian kayak gitu, kasian mas."


"Maksud kamu apa dek. Kamu denger berita kayak gitu dari mana?" Ucapnya mencoba mengalihkan pertanyaan Susan.


"Susan denger dari beberapa karya mami katanya mas pacaran sama salah satu dari karyawan mami yaitu mbak Dewi. Bukannya mas Arman sukanya sama mbak Laras bukan??"


"Salah denger kali kamu dek! Udah, mas masih banyak kerjaan." Arman mencoba menyangkalnya


Pagi harinya, dengan rasa penasarannya. Susan nekat kadang ke toko bunga secara khusus untuk menemua Dewi dan menanyakan kebenarannya secara langsung.


"Assallamualaikum." Ucapnya saat tiba di toko bunga


"Waallaikumsallam, eh mbak Susan." Jawab Tati tersenyum ramah.

__ADS_1


"Siang mbak." Sapanya


"Siang juga mbak, mau cari Bu Melati atau mbak Aria ya mbak?" Ucapnya


"Bukan mbak, saya mau cari mbak Dewi." Susan melihat sekeliling.


"Mbak Tati lihat gak?" Tanyanya


"Oh Dewi, bentar ya mbak saya panggilin. kayaknya dia ada dibelakang, soalnya saya lihat tadi dia ke kamar kecil."


"Iya mbak Tati, makasih ya."


"Sama-sama Mbak."


Beberapa saat kemudian setelah menunggu sedikit lama.


"Mbak Susan cari saya." Ucapnya


"Oh, iya mbak Dewi." Ucap Susan


"Ada urusan apa ya mbak? Atau ada yang mbak Susan perlu bantuan saya?" Dewi yang masih bingung dengan maksud Susan mencarinya. Kemarin kakaknya sekarang adeknya.


"Enggak mbak, ada sesuatu yang pengen saya omongin dan pastiin aja kebenarannya. Dari pada saya salah faham atau gimana." Ucapnya membuat Dewi semakin bingung.


"Ya udah, mbak Susan mau ngomong apa?"


'Kayaknya gak bisa disini deh mbak, di tempat lain aja. Gak enak kalo ada orang yang salah faham sama pertanyaan saya nanti."


"Mbak Dewi belum makan siang kan." Timpalnya


"Iya mbak."


"Ya sudah, kita ngobrolnya sambil makan siang aja di restoran deket sini."


Sesampainya di kantor perkantoran Deket toko bunga, tanpa basa-basi Susan langsung saja menanyakan maksud kedatangannya ke sana.


"Mbak Dewi beneran pacaran sama mas Arman?" Tanyanya dengan wajah penuh penasaran.


"Gimana ini, kalo aku jawab iya nanti aku disangkanya karna mas Arman kaya. Atau aku jawab enggak aja ya. Lagi pula aku juga gak ada hubungan apa-apa kok sama mas Arman." Batinnya


"Em.... memangnya ada apa ya mbak, kok tiba-tiba nanya pertanyaan ini ke saya?"


"Saya denger dari anak-anak yang lain kalo dia denger mas Arman nyebut mbak Dewi sebagai pacarnya."


"Oh itu, mungkin mereka salah denger kali mbak. Saya sama mas Arman gak ada hubungan apa-apa kok mbak."


"Mbak yakin." Susan mencoba memancingnya.

__ADS_1


"Sama sekali gak ada mbak." Ucapnya sambil tersenyum tipis


__ADS_2