Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Larasati Panik


__ADS_3

Esoknya ditempat kerja Larasati masih memikirkan tentang kejadian tadi malam, Larasati melamun menatap pintu toko membuat teman-temannya yang lain heran. Tak biasanya dia seperti itu.


"Mbak Laras lagi ada masalah ya." Sapa salah satu karyawan (Marwa).


"Eh...mbak Marwa! Enggak kok mbak, cuman agak lemes aja." Larasati memang terlihat nampak pucat, mungkin akibat tidak bisa tidur tadi malam.


"Mbak Laras sakit." Saut Tati yang mendengar Larasati kurang benak badan.


"Mungkin karena semalam gak bisa tidur, mungkin juga gejala mau flu mbak Tati. Kan akhir-akhir ini cuacanya tiba-tiba panas, hujan, panas lagi trus hujan." Larasati mencoba mengalihkan pembicaraannya, takut yang lain menanyakan hal-hal yang tidak perlu mereka ketahui.


"Iya sih mbak emang!" Celetuk mawar dengan tatapan sendu.


Mereka pun mengakhiri percakapannya dan kembali beraktifitas seperti biasa.


Di kampus Dimas, Susan dan teman-teman yang lain sedang nongkrong di kantin kampus mereka. Seperti biasa mereka meminta membahas masalah mata kuliah masing-masing, masalah dari mereka berbeda-beda jurusan. Saat yang lain sudah selesai makan dan pergi duluan karena kelasnya akan dimulai, Dimas meminta Susan untuk berhenti sebentar. Dimas ingat waktu itu Susan pernah mengatakan bahwa Arman kakak Susan menyukai Larasati, Dimas ingin memberitahu jika semalam mbak Wulan datang kerumahnya membawa Omanya untuk melamar susah menjadi kakak sepupunya.


"Mau kemana." Ucap Dimas melarang Susan pergi.


"Ya mau masuk lah." Ujarnya singkat.


"Bukannya masih 1 jam lagi dosen lu baru dateng!" Tutur Dimas yang tau jadwal mata kuliah sahabatnya itu.


"Iya kan sambil nunggu sambil ngumpulin gosip dikelas." Ucap Susan yang masih cuek.


"Kebiasaan!" Cibir Dimas menaikan sudut bibirnya.


"Namanya juga perempuan, kek gak tau aja. Udah ah gwe mau masuk dulu, bye!!" Jelasnya dengan nada kemayu.


"Bentar!!!! Tunggu dulu, ada hal penting yang pengen gwe omongin." Pinta Dimas.


"Apa sih! kek penting banget." Gerutunya


"Yakin gak mau tau!!!!" Dimas seolah-olah ingin membuat Susan penasaran.


"Emang apaan?????" Ucapnya sinis


"Tentang mbak Laras, bukannya dulu kamu pernah bilang kalo mas Arman suka sama mbak Laras." tutur Dimas.


"Hilihhhhhhh!!!!! Dulu aja gak percaya sekarang mau ngomongin itu. Dah lah males, mending aku ke kelas aja." Pungkasnya sembari memalingkan mukanya hendak pergi, tiba-tiba..


"Semalam mbak Laras ada yang mau ngelamar." Celetuknya membuat Susan kaget dan duduk kembali meminta Dimas menceritakan semuanya dari awal.


"Gimana-gimana???" Rasa penasaran Susan semakin besar.


Dimas pun menceritakan dari awal hingga akhir ke Susan, mendengar itu tentu saja Susan panik dan bergegas menghubungi kakaknya yang sedang bekerja. Susan takut kakaknya patah hati, bukan cuman itu. Susan juga suka jika Larasati menjadi kakak iparnya kelak, dia saja sudah akrab dengan Dimas seperti keluarga.


"Kring...kring...kring...!" Satu kali masih belum diangkat.


"Kring...kring...kring..." Masih juga belum direspon.


"Kring...kring...kring...!!!!"

__ADS_1


Yang ketiga juga masih tidak diangkat, Susan sangat panik. Akhirnya dia hanya menuliskan pesan singkat.


Ponsel Arman berbunyi beberapa kali, sayangnya dia sedang sibuk dengan berbagai pekerjaannya hingga mengabaikan panggilan masuk dari Susan.


"Mas mana sih!!" Gerutunya dalam batin.


"Ini orang ngeselin banget, gak tau apa ini ada berita buruk!! Awas aja kalo ntar nyesel!!" Timpalnya dalam hati dengan wajah panik.


Pesan masuk:


πŸ’ŒSi Centil


"Mas Arman gawat, kata Dimas semalem mbak Laras dilamar orang!!!!!"


Tulisnya.


Arman memang sengaja menamai nama adiknya dengan nama "si centil" menurut Arman memang adiknya itu kalo berjalan seperti orang centil menurutnya. Arman memanggil adiknya kadang-kadang seperti itu sudah kebiasaan dari kecil.


"Mas Arman kayaknya sibuk banget, dari tadi aku telfon gak diangkat-angkat!" gerutunya kesal sambil menyebikkan bibirnya.


"ih... nyebelin! desisnya kesal.


Dimas yang mendengar Susan kesal segera menenangkannya.


"Ngapain sih sampai segitunya, kan yang penting mbak Laras belum menerima lamaran itu." tutur Dimas.


"Iya! tapi kan mbak Laras juga gak langsung nolak kan, nah kalo nanti mbak Laras berubah pikiran gimana ha!!!! gimana nasib Abang ganteng aku!!!!" ucapnya sinis menatap Dimas.


Di kediaman Raka Oma meminta dia mengajak Larasati makan siang bersama, Raka pun menolak keinginan Omanya. Tiba-tiba Oma pingsan, Raka menghubungi dokter pribadinya untuk datang ke rumahnya (Dokter Ibrahim). Sedangkan mbok Ijah segera menghubungi Wulan atas kode dari Oma Astuti.


Wulan pun datang bersamaan dengan dokter Ibrahim, Raka pun bertanya kenapa dia bisa datang berbarengan dengan dokter Ibrahim.


"Lho Kamu kenapa bisa datang bersama dokter Ibrahim." Ucap Raka kaget dan bingung.


"Tadi mbok Ijah telfon Wulan, katanya Oma pingsan." Wulan pun bergegas akting memberi alasan ke Raka dengan raut wajah panik.


"Hem." Raka hanya menggumam.


Raka pun tidak menyadari hal itu, sedangkan dokter Ibrahim sudah ada di dalam kamar memeriksa kondisi Oma Astuti. Saat dokter keluar...


"Bagaimana dengan kondisi Oma saya dok??" Tanya Wulan yang berpura-pura gugup.


"Ibu Astuti hanya terkena serangan jantung ringan, nanti juga kondisinya akan lekas membaik. Hanya dibutuhkan istirahat yang cukup, jangan membuatnya tertekan, marah, kaget atau panik. Itu saja sudah cukup." Dokter Ibrahim menjelaskan ke Wulan dan Raka.


Raka hanya terdiam dia sangat khawatir dengan kondisi Omanya itu, dia juga berfikir tentang keinginan Omanya meminta dia segera menikah. Padahal Omanya sudah bersekongkol dengan dokter dan yang lain untuk membuat Raka mau menikah.


Jam menunjukkan pukul 03.50 Arman baru saja selesai rapat dan memeriksa ponselnya, awalnya pas dia membuka pesan dari adiknya wajahnya masih seperti biasa cuek. Pas saat dia membaca isi pesan dari adiknya itu, tiba-tiba raut wajahnya nampak pucat. Arman bergegas pulang tapi bukan ke rumah melainkan ke toko bunga milik maminya. Di toko bunga Susan sudah menjelaskan semua itu kepada maminya, soal kakaknya.


Sesampainya di toko bunga, Arman mencari Larasati. Namun Larasati sudah dijemput supir Raka karena Oma meminta Larasati untuk datang menjenguknya. Tentu saja dalam kondisi seperti itu Raka tidak akan menolak kemauan Omanya.


Saat melihat Susan, Arman bergegas menghampiri adiknya itu.

__ADS_1


"Dek mana Laras??" tanya Arman yang masih Terengah-engah karena berlari.


"Mbak Laras tadi udah dijemput orang mas, tapi Susan sama mami gak tau itu siapa! Soalnya mbak Laras cuman bilang mau minta izin gitu doang!" Wulan menjelaskan dengan wajah sendu, membuat kakaknya terlihat sedang menahan emosinya.


Maminya yang melihat itu mencoba menenangkan putranya.


"Sudah kak, kalo jodoh gak kemana! kenapa kamu gak bilang dari dulu sama mami, kalo kamu bilang kan Siapa tau mami bisa tanya ke Laras apa dia mau sama kamu. Ini orang suka kok diem-diem aja, udah diambil orang baru panik." tegur maminya.


"Tuh denger mas!!" Timpal Susan mencibir kakaknya.


"Mami juga, kemarin kan aku udah bilang. Mas ini pasti ada sesuatu, Susan kan juga udah ingetin kalo mas kayaknya suka sama salah satu karyawan mami!" mengingatkan apa yang dia ucapkan ke maminya tempo hari.


"Ya kan mami pikir kamu bercanda!" celetuk maminya.


"ih mami ah!!" desisnya.


Dengan wajah pasrah Arman pulang ke rumah bersama adik dan maminya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2