Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Perasaan Raka


__ADS_3

Dirumah Oma Larasati tidur satu kamar dengan Raka, namun Raka memilih tidur di sofa untuk menghargai Larasati yang masih merasa tidak nyaman tidur didekatnya.


Oma juga melarang Raka untuk membeli rumah sendiri untuk mereka tinggali, Oma tidak ingin tinggal di rumah yang lumayan besar sendirian tanpa cucu dan cucu mantunya.


"Mas Raka masih mau tidur di sofa malam ini?" Tanya Larasati


"Mungkin, tapi kalo kamu melarang saya tidur di sofa dan mengizinkan saya tidur di sebelah kamu. Tentu saja saya tidak akan menolak permintaan kamu." Ucapnya menggoda Larasati.


"Ish." Desisnya


"Ya siapa tau kamu mau tidur meluk-meluk saya." Godanya


"Itu sih maunya mas." Cibirnya


"Ya kalo saya sih gak apa-apa." Sambil mengangkat kedua tangannya.


"Dasar mas Raka genit, tidur aja di sofa." Larasati pun berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu dengan tingkah menggoda Raka, apa lagi Raka jika tidur hanya mengenakan celana tanpa atasan. Tentu saja ABSnya terlihat jelas, otot kotak-kotak diperutnya yang terbentuk karena sering berolahraga membuat mata setiap perempuan tidak tahan untuk memegangnya.


Sehingga Larasati pun terbayang-bayang ingin memegangnya tapi malu walaupun sudah menjadi suami istri.


Tapi saat Larasati tertidur lelap, Raka selalu pindah ketempat tidur untuk meluk istrinya itu. Siapa bilang Raka tidak mencintai istrinya, dia mulai jatuh cinta dengan Larasati. Dengan caranya memperlakukan Oma dan keluarganya yang lain, melihat ketulusan Larasati hatinya mulai luluh dan tergerak. Raka mencium kening istrinya.


"Saya tidak akan pernah meminta hak sebagai suami kamu sebelum kamu sendiri yang memberikan itu ke saya Laras." Bisiknya pelan. Dia takut membangunkan istrinya yang tengah tertidur lelap itu.


Saat menjelang subuh Raka sudah pindah ke sofa supaya istrinya tidak curiga jika dia habis tidur di sebelahnya.


"Mas Raka bangun, kita subuh bareng yuk."


"Mas."


"Hem." Raka berpura-pura masih mengantuk


"Apa?" Ucapnya


"Bangun mas, subuh bareng yuk. Nanti kalo habis subuh mas mau tidur lagi silahkan." Tuturnya lembut membangunkan suaminya itu.


"Hoaaaahhh, iya bentar."


Setelahnya Laras menuju dapur untuk membantu masak di dapur mbok Ijah dan Tuti anak mbok Ijah yang bekerja disitu. Sedangkan Raka melanjutkan tidurnya yang semalam dia terjaga karena tidak bisa tidur memikirkan Larasati.


"Oma sudah bangun." Sapa Larasati menyiapkan piring dan gelas di meja makan.


"Iya, kamu ngapain bangun pagi-pagi. Biarin aja mbok Ijah sama Tuti yang siapin semua. Masak pengantin baru udah sibuk sendiri didapur."


"Enggak apa-apa Oma, Laras udah terbiasa dari dulu waktu dikampung sama ibu."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu panggil suami kamu dulu buat sarapan bareng. Ini biar si mbok yang lanjutin siapin makanannya di meja."


"Iya Oma, Laras ke atas dulu bentar ya."


"Iya."


Larasati membuka pintu kamar dan melihat suaminya yang tengah tidur di tempat tidurnya. Rasanya tidak tega ia membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas.


"Mas Raka kalo diem kayak gitu kelihatan ganteng lama-lama kalo dilihat. Eh... astaghfirullah Larasati." Sambil menepuk-nepuk mulutnya


"Kamu barusan ngomong apa." Saat dia sadar dia sudah menjadi pasangan suami istri.


"Oh iya ya, gak apa-apa. Kan udah halal juga gak dosa ngomong gitu. Kok aku bisa lupa kalo mas Raka suami aku, bego banget." Sambil menepuk dahinya.


"Mas bangun mas, sarapan bareng yuk. Oma udah nungguin dibawah." Ucapnya lirih


"Hem."


"Bangun mas." Masih berkata lembut


"Hem, masih ngantuk." Meraih pinggang Larasati dan memeluknya, sontak Larasati kaget.


"Mas bangun." Teriak sambil memukul Wajak Raka dengan bantal.


Mereka pun bertengkar kecil seperti biasa. Entah mengapa sekarang Raka lebih suka bercanda dan menggoda istrinya. Mereka pun turun bersama untuk sarapan pagi.


"Uhuk..uhuk...uhuk...", Larasati sampai tersedak saat mendengar ucapan Oma.


"Kamu gak apa-apa?" Raka mengambilkan air untuk Larasati.


"Minum dulu."


"Iya mas, aku gak apa-apa kok." Ucapnya yang masih sedikit tersedak.


"Oma kenapa nanya pertanyaan kayak gitu, kita kan juga baru menikah belum juga ada 2 bulan Oma." Tegur Raka.


"Soalnya Oma udah kepingin nimang cicit perempuan, biar mirip Laras yang penurut. Gak kayak kamu yang sukanya membantah Oma sejak kecil, gak mau Oma dandanin."


"Kita kan lagi makan, itu bisa kita bahas lain kali aja lagi. Ya Oma."


"Ya sudah, iya. Tapi jangan lama-lama."


"Iya Oma."


Larasati hanya terdiam bingung harus memberi jawaban apa ke Oma, dia juga tidak tau harus berkata apa. Tapi Raka mencoba memenangkannya dengan cara memegang tangan Larasati lembut, membuatnya tenang.

__ADS_1


Selesai sarapan Oma meminta Raka dan Larasati untuk meluangkan waktu mereka makan siang bersama di restoran milik Oma yang dikelola oleh orang tua Wulan. Tentu saja Raka dan Larasati tidak bisa menolak permintaan Oma. Tapi Wulan menolak ajakan Oma makan siang bersama dengan alasan, good time untuk Oma dan pengantin baru. Padahal dia punya rencana lain untuk datang menemui Arman di toko bunga.


"Siang mbak."


Siang, eh Wulan. Cari mbak Laras ya?" Tanya Marwa


"Kebetulan mbak Laras udah dijemput suaminya makan siang." Timpalnya


"Masak dia nggak tau, kan mereka adek sepupunya sendiri." Batin marwa


"Enggak kok mbak, cuman mau main aja kesini."


"Ngapain main ke sini, ini kan toko bunga bukan taman bermain." Gumamnya


"Iya, kenapa mbak." Tanya Wulan yang sedikit dengar samar-samar.


"Oh nggak apa-apa, saya cuman lagi hitung tangkai bunganya." Imbuhnya


Marwa pun melanjutkan pekerjaannya. Susan juga sekarang jarang ke toko bunga karena malas bertemu Wulan yang selalu mengikuti Larasati. Dia malas meladeni berbagai pertanyaan Wulan tentang kakaknya, dan dia tidak suka Wulan mencoba mendekatinya.


Mobil Arman berhenti tepat didepan toko tanaman milik papinya, dia turun dari mobilnya dan masuk toko papinya.


"Lho kok mas Arman malah masuk sana sih." Gumamnya. Karena Wulan tidak tau jika orang tua Arman juga punya toko tanaman.


"Mbak." Panggil Wulan ke salah satu karyawan toko bunga.


"Iya mbak." Ucap Lia menghampiri Wulan yang melambaikan tangan kepadanya.


"Kenapa ya mbak?" Timpalnya


"Enggak mbak, saya cuman mau tanya. Itu kenapa mas Arman masuk ke sana gak keluar-keluar ya." Tunjuk Wulan ke toko tanaman milik orang tua Arman.


"Oh itu. Itu kan masih milik keluarga mas Arman mbak, mbak gak tau ya." Ucapnya


"Enggak mbak."


"Emang gak Laras gak pernah cerita ya?" Tanya Lia padanya


"Enggak mbak." Jawabnya


"Emang mbak gak pernah nanya gitu ke mbak Laras?" Timpal lagi


"Hehe...enggak mbak." Sambil tertawa kecil Wulan merasa bodoh, kenap dia sampai tidak terpikir untuk bertanya tentang Arman ke Larasati.


"Ya udah ya mbak, saya mau lanjut kerja lagi." Ucap Lia meninggalkan Wulan di depan pintu masuk toko.

__ADS_1


"Iya mbak silahkan, maaf udah ganggu waktunya." Wulan pun melangkah pergi meninggalkan toko bunga menuju mobilnya yang terparkir di persimpangan jalan parkiran. Saat Wulan hendak pergi dia melihat Arman keluar dari toko itu. Wulan pun bergegas menghampiri Arman, Wulan masih tidak ingin menyerah untuk mengajak Arman makan siang bersama.


__ADS_2