Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Ternyata rencana Oma


__ADS_3

Di sudut ruangan Wulan yang berada di atas ranjang rumah sakit melihat Omanya datang menjenguk, seketika Wulan tersenyum seringai memberi kode ke Omanya "Oma kita berhasil" bisiknya dengan nada kecil.


Omanya pun tersenyum dan mengangkat tangannya memberi kode ok "cucu Oma memang pintar" ujarnya pelan.


"Siapa dulu dong!" Dengan bangganya membanggakan dirinya.


Ternyata kecelakaan itu memang disengaja dan direncanakan oleh Wulan dan Omanya, sebenarnya Wulan memang menyatakan perasaannya pada Arman namun dia tidak sampai sesakit hati itu.


Wulan juga sebenarnya menyukai Larasati jika benar-benar menjadi kakak iparnya, dari awal Oma dan Wulan memang merencanakan hal itu. Wulan sudah tau jika Arman menyukai Larasati dari caranya memperlakukan Larasati tempo hari.


"Oma kalo mas Raka tau pasti marah banget." Ucap Wulan takut jika terjadi apa-apa dengan Larasati.


"Tenang, Oma yang atur semuanya nanti." Timpal Oma Astuti.


Sedangkan Raka datang ke toko bunga tempat Larasati bekerja, dia berpura-pura membeli bunga untuk Wulan yang berada dirumah sakit. Dia ingin mencoba mendekati Larasati namun tiba-tiba Arman datang menghampiri Larasati dan mengajaknya makan siang bersama, disitulah Raka melihat sosok Arman yang akan menjadi rival (saingan) beratnya nanti.


"Selamat siang." Ucap Raka mencari-cari sekeliling.


"Iya siang, ada yang bisa saya bantu mas?" Sapa salah satu karyawan (Dewi)


"Saya mau dia yang melayani saya." Sambil menunjuk ke arah Larasati.


"Siapa ya? o...mbak Laras. Tunggu sebentar saya panggilkan!" Ucap Dewi


"Aneh banget, akhir-akhir ini banyak banget yang nyariin mbak Laras." Batinnya memiringkan kepalanya sambil berjalan menuju Larasati.


Dewi pun pergi menghampiri Larasati dan berkata jika lelaki tampan yang baru datang meminta Larasati yang meladeninya, Larasati pun penasaran dan menengok ke arah Raka yang dari tadi berdiri menatapnya dari kejauhan.


"Mbak Laras." Panggil Dewi menepuk punggung Larasati.


"Iya mbak Dewi, mau minta tolong." Ucap Larasati menaikan ke dua alisnya.


"Bukan mbak, itu disebelah sana ada yang minta mbak Laras yang layanin. Padahal Dewi juga mau layani cowok ganteng gitu, sekali-sekali." Ucapnya sembari menunjuk ke arah Raka sambil menyebikkan bibirnya.


"Sayang semua minta mbak Laras yang layanin." Celetuknya sambil tersenyum seringai memainkan alisnya.


"Astaghfirullah, mbak Dewi ada-ada aja. Ya udah ini bantuin Mbak Tati beresin bunga mawarnya." Pinta Larasati tersenyum tipis, senyuman memang sangat manis.


Larasati pun menghampiri Raka.


"Mas Raka ada yang bisa Laras bantu?" Tanya Larasati


"Saya mau beli bunga buat jenguk Wulan dirumah sakit." Ucapnya dengan muka datar.


"Hah! Mbak Wulan sakit apa mas?" Tanya Larasati kaget, karena 2 hari yang lalu mereka sempat makan malam bersama.


"Kecelakaan." Singkatnya.


"Oh...!" Gumam Larasati.


Larasati pun merangkai bunga yang akan diberikan ke Wulan, Raka hanya diam dengan muka dinginnya. Sungguh pria yang cuek, bagaimana dia ingin mencoba mendekati Larasati jika sikapnya saja seperti ini.


Selang beberapa menit Arman datang dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Laras." Sapa Arman yang baru sampai.


"Mas Arman." Ucap Larasati dengan senyum manisnya.


Raka dari tadi memperhatikan Arman, ternyata ini laki-laki yang sudah membuat adiknya kecelakaan.


"Sudah makan siang?" Tanya Arman yang begitu perhatian terlihat jelas oleh Raka.


"Belum, sebentar lagi." Jawab Larasati sambil merapikan pita.


Raka yang melihat itu berfikir ternyata benar apa yang dikatakan Wulan kalo, Arman yang dia sukai itu menyukai Larasati.


"Oh ini mas raka bunganya sudah siap." Larasati mengulurkan rangkaian bunga


"Terimakasih." Alih-alih ingin mengajak Larasati keluar Raka tidak berani mengucapkan kata apapun dari mulutnya, dia merasa canggung jika dia yang harus bertanya duluan.


Akhirnya Raka pergi membawa bunga itu hanya saja dia tidak pergi ke rumah sakit melainkan ke kantor.


Dia seperti kalah saing dan mengatakan ke pada Omanya seperti dia tidak bisa mendekati Larasati, mendengar itu Oma pun sedikit kecewa.


Wulan yang duduk di samping Oma memberi saran ke Oma untuk berkunjung ke rumah Larasati, dan tentunya Wulan juga ikut menemani Omanya itu.


Selepas sholat Isa Larasati hendak tidur tiba-tiba dia kedatangan tamu , Oma Astuti dan Wulan sedangkan Raka tidak ikut karena dia tidak tahu-menahu dengan rencana Wulan dan Omanya.


"Ndhok tumben kamu nampak capek banget gitu?" Tanya Bu lek yang khawatir.


"Iya nih Bu lek, tadi ada bunga dateng banyak banget. Jadi tadi kita pindahin ke rumah kaca supaya gak pada layu." Ujar Larasati menjelaskan ke Bu lek nya kenapa dia nampak kelelahan.


Didepan rumah.


"Ngalah sedikit kenapa, sama orang yang lebih tua itu ngalah." Tegur pak Kasman tersenyum.


Pak Kasman dan Dimas yang sedang bertanding catur didepan rumah dikagetkan dengan mobil mewah yang berhenti tepat didepan rumah mereka, Dimas berdiri dan mencoba melihat siapa gerangan didalam mobil mewah itu. Saat seorang perempuan turun dari mobil, Dimas mengenali salah satunya yaitu Wulan.


"Siapa itu Dim?" Tanya pak Kasman kepada putranya sambil menengok ke arah mobil.


"Mana ku tau pak!" Jawab Dimas ketus.


"Lho bukannya itu mbak Wulan, sama siapa dia. Kok malam-malam ke sini." Batin Dimas penasaran.


"Mau ngapain mbak Wulan malem-malem ke sini." Timpalnya dalam hati mengerutkan kedua alisnya penasaran.


"Lho bukannya itu temennya mbak Lily ponakannya pak RT." Celetuk pak Kasman berdiri mendongak ke depan.


"Dimas juga tau pak, ngapain mereka kesini." Gumam Dimas.


Oma Astuti dan Wulan berjalan menuju rumah Dimas mereka juga membawa sedikit makanan ditangannya.


"Eh pak kok mereka ke sini." Bisik Dimas ke telinga pak Kasman.


"Mana bapak tau le." Pungkasnya


"Assallamuallaikum." Ucap Wulan dan Omanya.

__ADS_1


"Waallaikumsallam." Ucap pak Kasman dan Dimas menjawab salam mereka.


"Mbak Wulan kok malam-malam kesini ada apa ya, trus ini siapa?" Tanya Dimas penasaran.


"Iya, ini nak Wulan temennya mbak Lily bukan?" Timpal pak Kasman.


"Iya pak, ini Dim. Oma pengen ketemu sama mbak Laras, mbak Laras ada kan?" Tutur Wulan sembari menanyakan keberadaan Larasati.


"Mari masuk dulu nak Wulan, Bu. Monggo, ya begini rumah kamu. Sederhana." Ujar pak Kasman merendah.


"Iya pak gak apa-apa, panggil saja saya Oma Astuti." Pungkas Oma Astuti.


"Dim panggil mbak kamu keluar!!" Perintah pak Kasman ke putarnya.


"Iya pak." Jawab Dimas melangkah masuk kedalam memanggil ibu dan Larasati. Dimas memberitahu Larasati didepan ada Oma Astuti dan Wulan tengah mencarinya.


Larasati bingung kenapa Oma Astuti mencarinya tengah malam begini. Larasati pun keluar dan menemui Oma dan Wulan.


Oma menyampaikan ke keluarga Larasati tentang maksud kedatangannya, tentu saja Larasati tidak langsung menerima lamaran yang diajukan Oma Astuti yang mendadak. Larasati juga mengatakan belum tentu Raka mau dengan dia yang hanya dari desa, Larasati memang hanya lulusan SMA. Itu juga minder dan cukup tau dirinya siapa. Tapi itu tidak membuat niat Oma Astuti berubah, Oma meminta Larasati membuka pintu hati untuk cucunya.


Akhirnya Larasati memberikan kesempatan untuk Oma, tapi Larasati tidak bisa menjanjikan jika cucunya bisa menyukainya. Di sisi lain Larasati sudah menaruh sedikit perasaan untuk Arman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2