Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Melan


__ADS_3

Raka yang mulai membuka hatinya dan menunjukkan perasaannya terang-terangan didepan keluarga membuat Laras malu seperti pengantin baru. Memang mereka baru 2 bulanan menikah.


Raka berjalan menuju dapur mencari Laras yang sedari tadi membentuk mbok Ijah dan mbak Tuti memasak untuk sarapan pagi mereka. Oma masih yoga di teras samping disebelah kolam renang. Walaupun sudah berumur, Oma tetap menjaga kesehatannya dengan baik. Kadang memang jika menginginkan apa-apa dari cucu laki-lakinya suka berbohong dengan alasan sakit.


Raka memeluk Laras dari belakang dan mencium kepala Laras. "Mas." Sontak saja Laras kaget yang tengah memegang pisau dapur.


Raka tetap diam sambil memeluknya mesra, menempelkan pipinya ke pipi Laras. "Mas, lepasin." Rintihnya sambil berusaha melepaskan tangan Raka yang memeluknya


"Bentar aja." Ucapnya tersenyum tipis


"Mas lepasin, gak enak dilihatin sama mbok dan mbak Tuti." Pintanya malu


"Mereka juga pernah muda. Ngapain malu!" Ucapnya percaya diri.


"Mas Raka kok sekarang genit gini sih!" Batin Laras.


Mbok Ijah dan Tuti menahan senyumnya sambil memasak. Mereka seperti melihat adegan pasangan suami istri ya wajar saja. Apa lagi masih pengantin baru.


Oma yang melihat dari kejauhan tersenyum dengan penuh "Wah tidak lama lagi saya bakalan punya cucu, hihihi......" Tertawa kecil sambil menutup mulutnya


Sarapan pagi


"Mas Raka, Dimas nanti ke kantornya agak telatan dikit ya? Soalnya saya mau ke kampus dulu buat atur jadwal kampus biar gak bentrok sama kuliah kerjanya nanti." Ucapnya sambil mengunyah makanan.


"Lho! Kamu udah mau kerja di kantor mas Raka Dim?" Saut Laras


"Hehe... Iya mbak." Apa boleh buat karena kemarin Wulan laporan ke Raka jika dia melihat Dimas mengantar makanan, Raka pun menegur Dimas. Dari pada dia panas-panasan kerja jadi ojek online, mending dia magang di kantornya yang ber-AC.


"Iya. Terserah kamu. Asal kamu tidak lagi mengambil kerja sambilan ojol." Ucapnya datar.


"Iya mas." Jawabnya


"Kalian nanti makan malam dirumah kan?" Tanya Oma.


"Memang Oma mau kemana?" Tanya Raka balik


Laras dan Dimas hanya melihat mereka untuk mendengarkan jawaban Oma.


"Oma nanti malam ada acara. Yah...mungkin Oma gak bisa makan malam sama kalian." Tuturnya


"Oh itu, gak apa-apa kok Oma." Ucap Laras


"Saya juga kemungkinan ada jadwal rapat dan pulang agak telat, kamu kalo mau makan malam dulu. Makan saja?" Perintahnya


"Iya. Hem..." Laras hanya menarik nafasnya

__ADS_1


"Tenang aja mbak, nanti kalo Dimas udah selesai kerja langsung pulang kok."


Di kantor


Raka memiliki beberapa pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke Bali.


Tok..tok..tok...


"Masuk." Ucap Raka


"Maaf Pak, ada urusan dari Bali yang ingin menemui Bapak." Ucap sekertarisnya


"Suruh dia masuk." Raka masih membolak-balikkan beberapa dokumen ditangannya, dia tidak melihat kedepan siapa yang sudah berdiri dihadapannya.


"Permisi pas, ini orangnya sudah masuk." Ucapnya


"Kamu boleh pergi." Seketika dia mengangkat kepalanya dan melihat sosok perempuan cantik didepannya. Raka memasang wajah masam. Melan mantan pacar Raka yang mengkhianatinya untuk laki-laki lain yang lebih mapan dibandingkan dengannya yang dulu.


"Kamu." Ucapnya dingin


"Siang." Dengan senyum lebar dia menyapa Raka dan mencoba menggodanya.


"Apa kabar? Udah lama ya kita gak ketemu. Hampir 3 tahun kayaknya." Sambil tersenyum percaya diri.


"Ada urusan apa kamu kesini?"


"Mana?" Raka meminta dokumen yang ada ditangan Melan dengan wajah dinginnya, Melan memberikan dokumennya.


"Kamu boleh pergi." Ucapnya dingin


"Buru-buru banget! Kamu mau ngusir aku?" Godanya


Raka hanya fokus membaca dokumen perencanaan yang dibawa oleh Melan.


"Oh iya, ngomong-ngomong kamu udah punya pacar?" Tanya Melan penuh harap, dia berharap Raka belum bisa move on darinya supaya dia bisa mendekati Raka kembali karena dia sudah putus dari kekasihnya yang di Bali karena perselingkuhan yang dia lakukan.


"Saya sudah menikah."tatapnya dingin "kamu bisa pergi sekarang." Imbuhnya


"Ya sudah." Melan pun melangkah pergi, saat dia membuka pintu keluar dia menoleh kebelakang "Oh iya, sampai ketemu di Bali." Tersenyum bahagia, masih saja dia tidak bisa melepaskan Raka. Saat dia tau bahwa akan ada investor dari Jakarta untuk resort di Bali dengan nama Raka Dinata, dia segera mengajukan diri menjadi sekertaris di perusahaannya yang ada di Bali. Supaya dia bisa mendekati Raka kembali.


Dengan sifatnya yang keras kepala dia tidak akan menyerah begitu saja untuk menggodanya.


Di toko bunga


Laras dan yang lain tengah merapikan beberapa bunga dan pesanan pelanggan. Arman turun dari mobil berjalan menuju ke arah Laras.

__ADS_1


"Laras." Sapanya.


"Mas Arman." Ucap Laras dengan senyumnya seperti biasa.


Sedangkan yang lain langsung pada pergi memberi mereka ruang karena tau situasi. Dewi pun hanya diam dengan muka cuek, acuh tak acuhnya berjalan ke arah yang lain sesekali memutar kedua buah bola matanya.


"Mas Arman mau nyari Bu Melati atau mbak Dewi?" Tanya Laras


"Dewi!!" Arman sedikit terkejut


"Kenapa saya harus mencari Dewi??" Timpalnya heran


"Lho, kok mas Arman aneh banget. Bukannya didepan semua orang mas Arman udah mengakuinya sebagai pacar mas Arman ya, masak mas Arman lupa!!" Ucap Laras


"Enggak, mungkin kamu cuman salah denger." Jawabnya panik.


"Kamu udah makan siang?" Tanyanya


"Kebetulan sih belum mas. Memang kenapa?" Tanya balik Laras


"Ya kalo belum, kita bisa makan siang bareng sebagai teman. Bukannya kita teman!!" Arman menegaskan


"Ya udah boleh, tapi Laras ajak yang lain juga ya mas? Soalnya gak enak kalo nanti ada yang salah faham!" Ucap Laras


"Terserah kamu aja."


Laras pun pergi makan siang bersama Arman dan marwa, tadinya Laras minta Dewi untuk menemani mereka tapi dia menolaknya dengan alasan malas. Dewi malas berurusan dengan Arman dan sedikit kesal mengingat kejadian tempo hari.


Beberapa hari kemudian Raka memberitahu Laras dan yang lain jika dia akan mengambil pekerjaan diluar kota sekitar 1 minggu, lantas Oma bertanya kepadanya siapa saja yang akan dia temui di Bali nanti.


"Apa Melan!!" Teriak Oma terkejut


Laras hanya diam karena tidak tau situasinya, Laras juga belum tau siapa Melan.


"Omaaa..." Ucap Raka


"Perempuan tidak tau diri itu. Apa kalian masih dekat satu sama lain selama ini?" Tentu saja Oma marah besar.


"Oma, sabar. Sebenarnya Oma ini kenapa? Emang ada apa dengan Melan? Terus Melan itu siapa?" Tanya Laras


"Melan it...." Ucapnya dipotong oleh Raka, Raka baru saja mendapatkan kebahagiaannya bisa menikahi Laras


"Bukan siapa-siapa. Dia hanya rekan bisnis yang akan menangani proyek ini bersama saya." Tuturnya mencoba membuat Laras percaya padanya sambil menggenggam tangan Laras dengan lembut, membuat Oma pun sedikit luluh.


Walaupun Raka sudah menjelaskan seperti itu, tetap saja Laras masih penasarannya dengan sosok Melan. Dia tidak ingin menambah permasalahan dimeja makan jadi Laras tidak bertanya lagi. Siapa juga yang akan percaya dengan omongan semudah itu setelah melihat reaksi yang Oma tunjukkan.

__ADS_1


"Hemmm....." Oma menarik napas panjangnya. Tetap saja Oma masih kesal dengan perempuan yang bernama Melan itu, yang dulu pernah mencampakkan cucunya.


__ADS_2