
Beberapa hari setelahnya, toko sudah lumayan tidak sesibuk hari-hari kemarin. Karyawan toko yang lain tengah bergantian untuk makan siang, giliran Larasati dan Tati yang menjaga toko. Tati tengah memeriksa bunga-bunga disudut ruangan, sedangkan Larasati tengah menunggu pelanggan di kasir.
"Usah hari Senin aja perasaan" batinnya
"Kira-kira mas Angga Dateng lagi gak ya." Timpal lagi sembari melihat keluar toko.
"Krincing-kruncing!!!"
Suara lonceng yang dikaitkan di atas pintu berbunyi ketika seseorang masuk kedalam toko, memang sengaja di pasang supaya jika ada pelanggan keluar masuk mudah mengetahuinya. Jadi pelanggan tidak harus teriak-teriak atau memanggil pelayan bunga, mereka akan datang sendirinya saat mendengar lonceng berbunyi.
"Oh mas Angga, ada yang bisa saya bantu mas." Sapa Larasati.
Anggara hanya menatap Larasati dan menoleh ke sekitar seolah mencari sesuatu.
"Emm...mas ada yang bisa saya bantu." Timpal lagi.
"Apa tidak ada karyawan lain selain kamu disini." Ujarnya membuat Larasati kesal, seolah tidak mau dilayani oleh Larasati.
Larasati memasang muka kesal cemberut membuat Anggara menatapnya dingin.
"Nih orang dingin banget sih, udah kayak es batu aja."batinnya meledek Anggara.
"Saya mau pesan bunga seperti biasa." Ucapnya singkat dengan memasang muka datar.
"Sebentar ya mas saya rangkai dulu bunganya, dan silahkan tunggu disebelah sana." Ucap Larasati dengan senyum tipis di bibirnya.
Sembari menunggu Larasati merangkai bunga untuknya, Anggara berkeliling melihat beberapa bunga yang di pajang depan toko.
"Permisi mas Angga, ini bunganya sudah jadi. Harganya seperti biasa."ucap Larasati singkat membuat Anggara mengangkat kedua alisnya, tersenyum sinis mengangkat sebelah sudut bibirnya memperhatikan sikap Larasati kepadanya.
"Ini uangnya, terimakasih." setelah mengucapkan kalimat itu Anggara pun meninggalkan toko bunga dan pergi mengendarai mobilnya.
Setelah yang lain selesai makan siang, sekarang giliran Larasati dan Tati yang makan siang. Mereka berdua makan siang di kantin ruko yang ada di tengah-tengah ruko-ruko perkantoran dan toko-toko. Di sana menyediakan berbagai macam makan karena terdapat beberapa warung makan yang berbeda-beda, bahkan ada minimarket mini juga. Mereka memang menyediakan itu khusus untuk karyawan yang bekerja di ruko-ruko tersebut, pedagang di sana menyewa tempat tersebut untuk berjualan. Tidak semua orang bisa berdagang di sana, juga tidak sembarang orang bisa masuk untuk berjualan di sana.
Ditempat lain Anggara mengenai mobilnya menuju rumah sakit sekaligus menjemput tunangannya, karena ini hari terakhir tunangan dirawat di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa kondisi Lily semakin hari semakin membaik, beberapa hari ini pemeriksaan rutin telah dilakukan dan Alhamdulillah nya hasilnya sangat memuaskan. Dan Lily sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Di rumah sakit Lily sudah ditemani sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Wulan.
Anggara sangat lega jika yang menemani tunangannya adalah Wulan, Anggara sangat mempercayai Wulan. Wulan bukan hanya teman yang baik bahkan sudah seperti saudara bagi mereka.
Sesampainya di rumah satik Anggara memarkirkan mobilnya didekat pintu masuk supaya Lily tidak perlu berjalan terlalu jauh dari pintu keluar. Anggara masuk dan memeluk kekasihnya itu didepan Wulan membuatnya kesal merasa iri pada pasangan itu.
"Sayang, udah lama nunggu." ucap Anggara memasuki ruangan Lily.
"Enggak kok mas." balas Lily.
"ihh....tukang pamer kemesraan." Wulan kesal menyebikkan bibirnya dan memutar kedua buah bola matanya ke atas.
"Iri bilang aja, makanya cepetan sana cari calon suami. Jangan pacar lagi, usia kamu tuh dah tua." ucap Anggara menyindir Wulan.
__ADS_1
" Dasar calon pasutri gaje, Hem...!!" (pasutri : pasangan suami istri) cibir Wulan menghina mereka karena jengkel dan seolah-olah memalingkan mukanya.
"Hehehehe!!!" kekeh Anggara melihat reaksi Wulan yang nampak kesal.
"Mas."Lirih Lily meminta Anggara untuk tidak menjaili temannya itu
"Ih..kamu ini suka sekali usil sama Wulan." tegur Lily dengan nada lembut.
"Iya Sayang!!!" ucapnya lembut.
Anggara melihat sekeliling.
"Udah selesai kan beres-beresnya, ayok." ajak Anggara.
"Udah dong, siapa dulu yang beresin. Hem...Hem..." Wulan berlagak sombong mengangkat dagunya menatap Anggara dengan pandangan sinis.
"hilihhhh...sombongnya anak satu ini." Sembari menjewer telinga Wulan.
"Aduh...aduh..., ih...jahat banget jadi orang." teriak Wulan cemberut.
"Bawel, siapa suruh jadi cewek bawel amat!" ejek Anggara.
"Udah-udah kalian ini." tegur Lily menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka yang suka adu mulut jika bertemu satu sama lain, seperti tom and Jerry.
"Oh iya, aku gak bisa ikut sama kalian ya. Aku ada urusan penting soalnya." ujar Wulan pamit ke mereka.
"Hus." tegur Lily tegas
"Jangan bercanda terus, kasian Wulan. Dia lagi ada kerjaan." ucap Lily membela sahabatnya itu.
"Iya deh iya." luluh dengan ucapan Lily. Memang hanya Lily yang bisa membuat hati dan sikap Anggara melunak.
Mereka pun pulang, hanya saja Wulan pergi mengendarai mobilnya sendiri tidak ikut pergi bersama Anggara dan Lily. Wulan tidak ingin menjadi nyamuk ditengah-tengah mereka dan pastinya dia tidak mau dipamerin kemesraan mereka. Anggara mengantar Lily ke rumah bibi dan pamannya, ternyata rumah Lily masih satu kompleks dengan rumah pak Kasman pak lek Larasati. Tentunya mereka nanti pasti bakalan sering bertemu satu sama lain, siapa tau nanti mereka malah bisa saling akrab satu sama lain.
Di rumah sudah menunggu bibi, paman dan kedua sepupunya. Mereka sudah menunggu sedari pagi dan sudah mempersiapkan kamar untuk Lily kembali pulang, sebelumnya kamar Lily tengah direnovasi untuk menyambut kedatangannya.
Pak Husen juga membuat kolam ikan untuk Lily, karena semenjak di rumah sakit Pak Husen dan Bu Olivia sering melihat Lily duduk dipinggir kolam memberi makan ikan-ikan kecil dengan raut wajah bahagia, jadi mereka sengaja merenovasinya untuk Lily.
Dan orang yang dipercaya untuk merenovasi kamar Lily dan membuat kolam ikan tidak lain adalah Pak lek Larasati pak Kasman, ternyata paman dan bibi Lily ternyata adalan pak RT di kompleks mereka juga. Memang jodoh mereka tinggal tidak jauh, tidak tau tuhan merencanakan apa.
Sesampainya di rumah Anggara dan Lily disambut keluarga Lily. Anggara turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Lily dan memapahnya masuk kedalam rumah, sedangkan kedua sepupu Lily diminta Anggara membawakan barang-barang Lily yang ada didalam mobil.
"Mbak Lily istirahat aja langsung dikamar."ucap Firman 20 tahun adik sepupu Lily yang masih kuliah semester 6.
"Ini taruh mana mas."tanya Zaki 16 tahun yang masih sekolah di SMK yang mengambil jurusan teknik mesin.
Anggara dan kedua sepupu Lily memang cukup akrab.
"Taruh aja di samping lemari." celoteh pak Husen ke putranya itu.
__ADS_1
"Nak Angga tadi sudah makan belum nak." tanya Bu Olivia .
"Gak perlu ditanya lagi Bu, sudah-sudah ayo makan dulu semua. Tadi bibi sudah masak banyak dibelakang." ajak pak Husen ke ruang makan untuk makan bersama.
Firman dan Zaki sudah duluan pergi ke belakang menunggu mereka menyusulnya.
"Bik Lilis tolong ambilkan piringnya satu lagi buat nak Angga?" pinta Bu Olivia ke pembantu rumah tangganya itu dengan nada biasa
"Baik nyah." jawabnya melangkah ke dapur belakang mengambil piring yang ada di lemari.
Setelah selesai makan, Anggara pun berpamitan. Pak Husen dan isterinya menyuruh keponakannya untuk segera istirahat supaya tidak kecapekan, setelah menjalani kemoterapi dan sekarang masa pemulihan yang diharuskan sebulan sekali check-up ke dokter untuk pemeriksaan rutin bulanan. Untuk memantau kondisi pemulihan Lily, walaupun Lily bukan anak kandung mereka. Mereka sangat menjaga Lily, mengingat Lily adalah keponakan semata wayang mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ
tinggalkan masukan dan kritiknya
__ADS_1