Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Larasati menyetujui kontrak itu


__ADS_3

Setelah Dewi mentransfer uang untuk orang tuanya dia mampir makan di persimpangan jalan warung bakso. Saat dia hendak memesan makan, Dewi melihat Larasati yang turun dari mobil bersama laki-laki tempo hari mengajaknya makan malam.


Dia membatalkan pesanannya dan mengikuti Larasati masuk ke restoran seberang jalan. Dia melihat Larasati yang tengah berbincang serius dengan Raka dari kejauhan. Sayangnya Dewi tidak bisa mendengarkan percakapan mereka, apa yang tengah mereka bahas. Dengan sedikit memberanikan diri, dia mendekati mereka. Dewi ingin tau apa yang tengah mereka bicarakan disana.


Mau tidak mau Dewi harus memesan makanan di restoran itu, yah walaupun harganya cukup lumayan dibandingkan dengan bakso tadi. Demi mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan.


Raka yang tak mengenali wajah Dewi hanya menganggapnya tamu restoran.


"Kamu mau pesan apa?" Raka menawari Larasati untuk memilih makanan yang Mungkin dia suka.


"Terserah mas Raka aja." Jawabnya singkat.


"Eh, pelayan!" Panggil Raka melambaikan tangan ke arah pelayan yang berdiri tak jauh darinya.


"Iya pak, mau pesan apa."ucap seorang pelayan dengan ramah.


Setelah Raka memesan makanan untuk mereka makan. Raka menanyakan kembali tentang kontrak pernikahan yang dia berikan ke Larasati tempo hari.


"Apa kamu sudah memikirkan semuanya lagi? Saya butuh jawaban kamu sekarang!" Tanya Raka tegas.


"Hem." Larasati menarik nafas mempersiapkan omongannya.


"Kenapa? Kamu masih tidak bisa jawab?" Ucap Raka menuntutnya


"Ha!!" Tegurnya dingin.


"Ehm..., Bukan begitu mas. Saya hanya punya satu syarat." Ucapnya khawatir.


"Apa itu?" Membuat Raka sedikit penasaran.


"Tentang perjanjian ini. Saya mohon jangan kasih tau orang tua saya, saya tidak mau mereka kecewa nantinya jika mengetahui tentang ini." Pintanya memelas.


"Kamu tenang saja, saya menikahi kamu juga karena Oma. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tau, saya menikahi kamu karena Wulan menyukai laki-laki yang bernama Arman itu." Kata-kata Raka membuat Larasati kaget mendengar jika Wulan menyukai Arman.


"Apa? Mbak Wulan suka sama mas Arman!" Batinnya mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu diam saja. Yang tau tentang kontrak ini hanya saya dan kamu. Wulan pun tidak saya beritahu." Tuturnya menjelaskan.


"Saya setuju mas, tapi pak lek sama Bu lek saya akan tetap pulang kampung ikut kedua orang tua saya." Ucapnya, Larasati tidak mau terlalu merepotkan Oma Astuti jika keluarganya tinggal dirumahnya. Hanya Dimas yang akan tetap ikut tinggal di rumah Oma Astuti untuk menjaga Larasati.


"Baiklah, saya akan mengurus semua keperluan keluarga kamu juga di sana." Ucapnya.


"Enggak perlu mas?" Tolak Larasati.


"Itu kewajiban saya sebagai calon menantu mereka!" Ucap Raka.


"Saya tidak mau ada yang curiga dengan pernikahan tanpa cinta ini." Timpalnya.


"Besok malam saya akan datang ke rumah kamu untuk membahasnya dengan keluarga kita nanti." Dia memberitahu Larasati untuk memberitahu orang tuanya jika dia dan Oma Astuti akan datang kerumahnya.


"Hem" Larasati hanya bisa pasrah, dia sudah berfikir seharian. Larasati tidak tega jika orang tuanya benar-benar menjual tanah mereka hanya untuk membayar hutang. Jika itu benar terjadi, bagaimana orang tuanya nanti mencari nafkah. Selama ini orang tuanya mengandalkan hasil dari ladang untuk makan.


"Hah, mbak Laras sama cowok itu mau nikah kontrak. Apa aku harus kasih tau mas Arman atau mbak Susan nih." Batin Dewi sambil tetap fokus mengambil video mereka.


Dewi pun merekam semua pembicaraan Larasati dan Raka, jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya untuk membela Larasati kelak.

__ADS_1


"Sekarang kita makan dulu, dan ingat untuk tanda tangan kontrak itu." Perintahnya menatap Larasati.


"Iya." Jawabnya lirih dengan wajah sendu.


Beberapa saat kemudian.


"Saya mau ke toilet sebentar, jangan kemana-mana." Ucapnya datar meninggalkan Larasati.


"Iya mas." Ucapnya.


Setelah Raka pergi Dewi mengakhiri rekaman video yang dia lakukan sedari tadi. Saat Raka sudah tidak terlihat, Dewi berdiri dan mendekati Larasati dengan tatapan dingin dan muka datarnya. Sontak saja Larasati kaget melihat Dewi yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mbak Dewi!" Larasati kaget menoleh kesamping.


Dewi hanya terdiam, namun matanya mulai menetaskan air matanya tanpa seucap kata apapun. Dia hanya diam menatap Larasati.


"Mbak Dewi kenapa?" Larasati menatap Dewi, namun dia sedikit panik.


"Sejak kapan mbak Dewi disini?" Tanyanya lagi.


"Gak apa-apa mbak. Sejak tadi saya disini, sebelum mbak Laras datang dengan laki-laki tadi." Tuturnya dengan tatapan datar.


"Apa?" Sontak Larasati kaget.


"Sejak tadi....se..se...sejak tadi, Ja...jadi mbak Dewi.....??!!" Larasati pun terbata-bata.


"Iya mbak." Ucapnya singkat.


"Mbak Dewi denger semua pembicaraan kami?" Tanyanya tegang.


"Mbak, saya mohon ya. Jangan kasih tau ini kesiapan-kesiapan." Pintanya terlihat dari matanya berkaca-kaca.


"Termasuk mas Arman." Celetuk Dewi.


"Ke siapapun mbak." Pintanya.


"Jadi mbak Laras akan menerima pernikahan kontrak itu begitu saja!" Tanya Dewi.


"Lain kali saya akan kasih tau semua mbak Dewi, tapi untuk saat ini saya mohon mbak. Jangan kasih tau siapa-siapa, saya tidak mau ada yang tau." Larasati sedikit tegang saat dia melihat Raka muncul dari kejauhan.


"Saya akan tunggu sampai mbak Laras cerita sendiri tentang semuanya, sampai saat itu saya tidak akan bilang ke siapapun. Tapi saya tidak janji mbak, jika mbak Laras ingkar janji." Ancamnya menatap tajam Larasati.


"Makasih ya mbak." Ucap Larasati sedikit lega.


Dewi hanya tetap diam. Raka yang sudah selesai dari toilet datang menghampiri mereka. Larasati langsung mengalihkan pembicaraannya, namun Dewi hanya tetap diam. Bahkan saat Larasati memperkenalkan Raka dia hanya diam langsung pergi.


"Mbak Dewi, ini kenalin mas Raka." Ucap Larasati memperkenalkan Raka.


"Oh." Pandangannya berubah penuh kekesalan melihat sosok Raka, laki-laki tampan yang tempo hari sempat dia puji. Dia pun langsung pergi.


"Siapa itu?" Tanya Raka.


"Itu mbak Dewi. Temen kerja di tempat mas Arman." Ucapnya membuat Raka tiba-tiba berubah emosi mendengar nama itu diucapkan Larasati.


"Jangan sebut nama itu di depan saya." Pungkasnya.

__ADS_1


"Bukannya tadi mas Raka juga sempat mengucapkan nama mas Arman!" Larasati mengingatkan perkataan Raka sebelumnya.


"Itu saya. Beda dengan kamu!!" Raka mencoba mencari-cari alasan berbelit-belit untuk menutupi kecemburuannya.


"Apa bedanya?" Celetuknya memutar matanya dan sudut bibirnya.


"Kamu tidak perlu tau. Yang terpenting kamu jangan pernah mengucapkan nama itu didepan saya!!" Tegasnya.


"Ih, aneh banget sih mas Raka. Dia sendiri aja tadi ngucapin nama mas Arman biasa aja." Batinnya kesal dengan perubahan sikap Raka yang sedikit-sedikit emosi.


"Kenapa dia seperti tidak suka dengan saya?" Tiba-tiba Raka mulai menyadari ada yang aneh.


"Mungkin perasaan mas Raka aja." Ucap Larasati sedikit panik sambil sesekali tersenyum tipis.


"Dari tatapannya saja sudah terlihat jelas kalo dia tidak suka dengan saya Larasati!!!!" Rak menatap Larasati.


"Mungkin mood'nya lagi kurang bagus aja kali mas, mas tau kan kalo perempuan itu punya siklus yang bikin mood down." Larasati mencoba mencari alasan.


"Kenapa dia bisa ada disini?" Raka mencoba mencari sesuatu yang aneh.


"Oh itu.. itu tadi. Dia bilang lagi makan disekitar sini trus lihat saya. Makanya dia samperin saya." Ucapnya sambil sesekali tersenyum.


Setelah kejadian itu, sikapnya berubah pendiam dan tidak banyak omong seperti biasa. Tati hanya berfikir bahwa Dewi memikirkan keluarganya di kampung, soalnya sebelum Dewi pergi mengirimkan uang untuk keluarganya. Dia sempat bercerita ke Tati jika kakaknya mengalami kecelakaan motor saat pulang kerja. Padahal Dewi takut jika kebiasaannya terlalu banyak bercanda sewaktu-waktu bisa saja tanpa dia sengaja membocorkan tentang persoalan Larasati kemarin malam. Dia sudah berjanji ke Larasati jika dia tidak akan ikut campur urusan Larasati dan tidak akan memberitahukan ke siapapun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2