Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
ketahuan Susan


__ADS_3

Makan bersama seluruh karyawan diadakan, itu adalah usulan dari Arman kepada Maminya. Sebenernya Arman mengusulkan itu karena dia ingin melihat Larasati, dengan cara itu dia bisa berinteraksi lebih akrab pikirnya. Sebegitunya dia mencoba mendekati Larasati, dia takut adiknya tau kalo dia menyukai Larasati pasti akan langsung memberitahukan itu pada mami dan papinya.


"Mi, kalian gak pernah ngadain makan bersama untuk karyawan yang sudah rajin di toko." Ujarnya mendekati maminya yang tengah menonton drama di tv, Arman pun langsung duduk di sofa sampai mami dan adiknya.


"Ih....tumben mas perhatian sama toko bunga mami." Saut Susan.


"Kamu ini kenapa sih dek." Geram dengan tingkah Susan yang seolah tau apa maksud Arman memotong ucapan Susan.


"Saran bagus tuh kak." ucap maminya.


"Tumben aja perhatian sama toko, biasanya kan gak pernah bahas toko mami." Tutur Susan.


"Hus.., dengerin dulu kalo kakak kamu ngomong. " Tegurnya sambil menutup mulutnya dengan satu jari.


"Pasti ini mas beneran suka sama salah satu karyawan mami." Batinnya sedari tadi menatap kakaknya dengan pandangan curiga.


"Mami akan coba buat pertimbangin usulan kamu kak." Mengiyakan dan sejenak berfikir itu bukan ide buruk


"Mi...." Tegur Susan dengan nada mendayu-dayu manja sambil menyebikkan bibirnya.


"Kalo gitu Arman ke depan dulu ya mi." Ucap Arman lega mendengar maminya akan mempertimbangkan usulannya.


Arman pun berdiri dari duduknya melangkah menuju keluar menghampiri papinya yang tengah membaca koran dan minum kopi di teras depan rumah mereka. Susan yang sedari tadi ingin bercerita segera bergegas ke sebelah maminya dan mulailah mereka bergibah.


"Eh...mi kayaknya bener deh mas Arman naksir sama karyawan mami." Bidikannya sambil gelendotan ditangan maminya.


"Ah...masak sih!!" jawab maminya kaget sesekali menoleh ke arah pintu.


"Kamu ini jangan ada-ada, nanti kalo kakakmu denger trus salah paham gimana? Nanti uang jajan kamu dipotong. Mau!!!!" Tegas maminya sambil tersenyum melihat anaknya yang cemberut karena maminya tidak percaya omongannya.


Dari usulan anaknya itu Bu Melati meminta karyawan suaminya untuk membantu mempersiapkan makan-makan dihalaman belakang toko bunga, Bu Melati memberitahu semua pegawainya untuk bersiap-siap. Mereka hanya bekerja setengah hari, setengah harinya di gunakan untuk mempersiapkan semua perabotan. Bu Melati memesan ketringan berbagai masakan dan minuman supaya mereka tidak terlalu membuang banyak tenaga, semua karyawan pun pulang berdandan rapi untuk bersiap makan bersama.



Larasati mengajak Dimas untuk ikut makan malam, itu permintaan Susan yang menyuruh Larasati mengajak sahabatnya. Susan pun membawa pacarnya (Rizky 19 tahun) kakas seniornya di kampus dan temannya yang lain (Bagas Santos 18 tahun).


Dari awal Susan sudah memperhatikan kakaknya itu, akhirnya dia tau apa yang membuat kakaknya akhir-akhir ini berubah banyak. Semakin banyak tersenyum sendiri di rumah, semakin suka datang ke toko bunga dengan alasan melihat mami.


"Oh.. ternyata ini yang buat mas Arman akhir-akhir ini banyak sekali berubah, aku tau sekarang. hehehehe." kekeh Susan dalam hati.


"Em...em..em." mencoba batuk untuk membangunkan kakaknya yang tengah bengong.


"Astaghfirullah nih orang gak sadar-sadar ya." Batinnya mencibir kakaknya.


"Ehem....ehem..." Susan mencoba batuk disebelah Arman semakin kencang tapi masih tidak mempan. Akhirnya Susan memutuskan duduk disebelah kakaknya dan berkata.


"Cantik ya." Ucap Susan lirih menggoda kakaknya dengan senyum seringai.


"Iya." Jawab Arman masih dalam lamunannya.

__ADS_1


"Manis banget senyumannya." Imbuhnya


"Hem." Tanpa sadar Arman menyaut tersenyum.


"Hehehehe....." Susan pun terkekeh.


Larasati yang masih tidak tau jika Arman menyukainya hanya tersenyum saat Arman terus memandanginya.


"Hem." Tanpa sadar Arman menyaut tersenyum.


"Hehehehe....." Susan pun terkekeh.


"Heh!!!" Bentak Susan membangunkan Arman.


"Apa sih dek." Desis Arman, tiba-tiba dia tersadar jika sedari tadi adiknya itu memperhatikan dia. Saat Arman menatap adiknya yang tengah tersenyum jahil mulai muncul. Arman segera beranjak dari tempatnya dan berpindah kerumunan yang lain, berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Tentu saja Susan tau dengan sifat kakaknya yang tidak mau jujur dan mengakui jika dia menyukai Larasati.



Larasati memang malam itu terlihat sangat cantik alami seperti bidadari dengan gaun putih panjang polos tanpa motif yang menutupi seluruh tubuhnya, walaupun gaun itu tidak mewah dan mahal. Namun saat Larasati yang mengenakannya seperti barang mewah, cantik sederhana.


Susan beralih menghampiri Dimas dan teman-temannya yang lain, mereka berbicara tentang aktivitas kuliahnya bercanda tawa. Tujuan acara makan malam bersama untuk mempererat kerukunan semua karyawan di toko bunga dan toko tanaman.


Susan menarik Dimas sendiri meninggalkan yang lain dan mengatakan bahwa kakaknya sepertinya menyukai Larasati, namun Dimas tidak semudah itu langsung percaya.


"Eh...Dim kayaknya Abang gwe suka sama mbak Laras deh." Ucap Susan bisik-bisik takut didengar yang lain.


"Eh..jangan suka bikin gosip yang enggak-enggak, kasian mbak Laras nanti kalo denger terus salah faham." Sambungnya


"Ih...kalian mah gitu dikasih tau." Kesal Susan meninggalkan Dimas.


"Awas aja kalo gwe punya bukti beneran, kalian pasti nyesel. ih.." gerutunya dalam hati.


Selepas makan Arman mencoba menawarkan tumpangan untuk Larasati tapi ditolaknya karena Larasati bisa pulang dengan Dimas. Walaupun Arman sedikit kecewa tapi dia tidak memperlihatkannya didepan Larasati dengan senyum tipis.


"Kami pamit dulu ya semuanya, terimakasih atas makan malamnya." Ucap beberapa pegawai dan teman-teman Susan.


"Sama-sama." Ucap Susan beserta keluarganya.


Susan segera berlari menggandeng lengan maminya dan menceritakan apa yang dia lihat tadi, Susan menceritakan semua tentang kakaknya. Maminya hanya tersenyum tipis sembari mengelus kepala putrinya dengan lembut dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.


Sesampainya dirumah maminya mencoba bertanya ke Arman, apa benar dia menyukai Larasati seperti yang dibilang adiknya tadi.


"Kak.." Lirihnya


"Iya mi, kenapa?" Ucap Arman menoleh ke maminya itu.


"Mami mau tanya boleh." Bisik maminya.

__ADS_1


"Emang mami mau tanya apa?" Ucap Arman yang masih cuek.


"Apa bener kamu suka sama salah satu karyawan di toko bunga mami." Tanya maminya lirih ingin tau apa benar atau tidak.


Tiba-tiba menoleh ke arah maminya dan melotot tajam "Siapa yang bilang mi?" Ucap Arman kaget.


"Ini pasti ulah si tukang ngadu, awas aja ya nanti." Batinnya senyum sinis sambil mencari-cari keberadaan adiknya.


"Bener apa enggak." Tegasnya


"Mami ada-ada aja." Kalimat Arman yang membuat Susan yang berada di lantai atas yang tengah mendengarkan mereka berbicara tersenyum seringai merasa puas melihat kakaknya di cecer pertanyaan oleh maminya


"Ya sudah." Ucap maminya singkat.


Arman pun tentu saja mengelak dan memilih pergi, saat melihat adiknya yang ada di lantai atas sedang melihatnya. Arman pun memberinya tatapan tajam membunuh seolah akan membalasnya.


"Awas kamu dek." Batinnya


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


tinggalkan masukan dan kritiknya


__ADS_2