
Satu minggu kemudian Larasati masih memilih beberapa barang yang ingin dibawa ke Jakarta. Ibu Siti yang melihat putrinya itu tengah sibuk dia melangkah memasuki kamar Larasati, beliau ingin menyampaikan bahwa Dimas akan datang menjemputnya ke Jakarta. Ibu Siti dan pak Parman takut jika putrinya berangkat seorang diri sehingga beliau menghubungi adiknya yang di Jakarta untuk menjemput anaknya ke Jakarta.
"Ini bawa gak ya, hm..."guman Larasati yang tengah asik memilah-milah barangnya.
"Yang ini bawa deh, siapa tau nanti butuh." Sambung lagi
Sedangkan dibelakang sudah berdiri ibunya, namun Larasati belum sadar dengan kedatangan ibunya karena terlalu fokus.
"Masih milih-milih barang to ndhok." tanya ibu Siti lirih tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
"Oh ibu, iya ini. Soalnya Laras bingung apa aja yang harus Laras bawa, kan ini baru pertama Laras pergi ke kota." jawab Larasati lembut sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Sini ibu bantu." ucap ibu Siti sembari ibu Siti membantu Larasati, beliau juga menyampaikan bahwa Dimas akan datang menjemputnya
"Ndhok besok Dimas bakalan jemput kamu." ucap ibu Siti memberitahu putrinya.
"lho... ngapain sampai ngerepotin dek Dimas segala to Bu, kasian lho dia. Kan dia juga kuliah Bu." timpal Larasati karena kaget kenapa harus merepotkan Dimas untuk menjemputnya ke Jakarta.
"Padahal kan aku pengen pergi sendiri, menikmati perjalanannya." batin Larasati.
"Ibu sama Bapak kamu gak tenang kalo sampai kamu kenapa-kenapa dijalan, ibu gak tega kamu pergi sendirian." jelas ibu Siti yang khawatir dengan putri semata wayangnya.
"Iya ibu sayang." Larasati tersenyum lebar di bibirnya sambil memeluk ibunya dengan manja.
"Ya sudah, ibu mau pergi ke warung ibu Nur beli bumbu dapur sama sayuran buat masak nanti. jangan lupa ya ndhok, Dimas nanti sore jemput di pertigaan jalan raya. soalnya tadi Bu Lek kamu telfon katanya dia udah dijalan." ucap ibu Siti sambil mengingatkan anaknya untuk menjemput Dimas
"Ya Bu, Laras mau nengok Bapak di kebun sekalian bantuin bapak." ucap Larasati.
"Hati-hati ya." timpal ibu Siti lirih.
__ADS_1
setelah mereka selesai beres-beres, ibu Siti pergi ke warung ibu Nur tetangga belakang rumahnya yang membuka warung kecil-kecilan. Sedangkan Larasati bergegas menyusul Bapaknya di kebun untuk membantu bapaknya membersihkan hama tanaman. Mereka menanam jagung dan kacang panjang di ladang. sedangkan di kebun mereka menanam cabe dan beberapa sayuran lainnya, sawi, terong dan masih ada lagi yang lain. Larasati melangkah mendekati bapaknya.
"Pak sini.laras bantuin cabutin rumput liarnya." teriak Larasati bersemangat berlari kearah bapaknya.
"Sini ndhok." panggil Pak Parman sambil melambaikan tangannya menyambut putrinya.
"Ibumu kemana ndhok?" tanya Pak Parman sambil mencabuti beberapa rumput liar.
"Ibu pergi ke warung Lek Nur." jawab Larasati sambil membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh mengganggu pertumbuhan tanamannya.
"hemm....." sambil menarik napas pak Parman menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Orang disini juga ada sayuran tinggal metik ngapain masih beli, itu ibu kamu tuh ya paling cuman alasan. Wong ko ya sukanya menggosip." gumam pak Parman membuat putrinya tertawa kecil sambil memperlihatkan giginya.
Setelah mereka selesai membersihkan hama tanaman di kebun, tidak lupa Larasati dan pak Parman memetik beberapa sayuran dan memberikan ke beberapa orang yang melintas di kebunnya. Mereka kembali ke rumah dan juga membawa beberapa sayuran untuk mereka masak nantinya.
Sedangkan diwaktu yang bersamaan ibu Siti tengah berbelanja beberapa bumbu dapur yang sudah habis di warung ibu Nur tetangga belakang rumah mereka tadi. Ibu Siti dan ibu Nur memang suka berselisih faham, karena Bu Nur suka sekali memancing keributan dengan menggodanya. Namanya juga ibu-ibu yang suka bergosip, wajar saja.
"Ini lho Bu ponakan saya mau datang dari Jakarta, dia mau jemput Laras. Jadi saya mau masak agak banyakan." jawab ibu Siti membanggakan keponakannya yang akan datang dari Jakarta menjemput putrinya. Membuat ibu Nur semakin bersemangat menggodanya.
"Wah .... Laras mau pergi kerja ikut ke Jakarta." ledek ibu Nur sambil menari-turunkan alis matanya sembari tersenyum seringai.
Tentu saja ibu Siti terpancing emosinya dengan perkataan Bu Nur.
"Namanya juga cari pengalaman Bu, anak saya kan udah waktunya untuk mandiri juga." timpal ibu Siti sedikit jengkel.
"Ya sudah, ini berapa semua totalnya."jawab ketus ibu Siti sambil memalingkan pandangannya memutar bola matanya ke samping.
"Bercanda atuh Bu Siti, gitu aja dimasukin ke hati. Kayak gak kenal saya aja." ucap ibu Nur sambil tersenyum seringai menatap Bu Siti yang tersindir oleh ucapannya.
__ADS_1
Setelah membayar belanjaannya ibu Siti cepat-cepat bergegas pulang sambil menggumam "sabar-sabar." sambil mengelus dadanya. sore hari pun tiba, Larasati diminta ibunya menjemput Dimas yang akan segera tiba.
Ibu Siti dan Pak Parman menunggu kedatangan Dimas keponakannya dari Jakarta. Sedangkan Larasati tengah menjemput Dimas dipinggiran jalan raya pemberhentian bus kota. karena rumahnya lumayan jauh dari jalan raya sekitar 3 kilometer. Setelah menunggu cukup lama sekitar 30 menit bus yang di naiki Dimas sepupunya itu pun tiba, Larasati segera memanggil sepupunya yang turun dari bus.
"Dim-Dim." teriak Larasati memanggil sepupu kesayangannya itu
"Eh...mbak Laras udah nungguin lama ya?" tanya Dimas
"Enggak Dim, bentar kok." jawab Larasati, padahal lumayan lama dia nungguin sepupunya itu
"Ya udah, ayok mbak. Motornya mana biar Dimas yang boncengin mbak Laras." ucapan Dimas dipotong Larasati
"Gak usah, biar mbak aja yang bawa motornya. Kamu kan baru turun dari bus, perjalanannya kan juga cukup lumayan jauh." saut Larasati
"Ya enggak apa-apa mbak." ucap Dimas
"kamu kan capek diperjalanan, nanti tangan kamu keram lagi. Mbak aja yang boncengin." tegas Larasati
"Ya udah terserah mbak Laras aja." ucap Dimas
Dimas memang kelihatan sangat lelah, terlihat jelas jari matanya yang nampak hitam seperti kurang tidur karena perjalanan panjang dari Jakarta ke desa Larasati membutuhkan waktu hampir sekitar 19 jam perjalanan. Itu pun naik bus sambung 2 kali. Setelah pak supir menurunkan barang-barang bawaan Dimas mereka pun segera pulang ke rumah di bonceng Larasati.
Dimas membawa banyak oleh-oleh makanan dari Jakarta, di perjalanan juga dia membeli beberapa makanan yang ditawarkan di dalam bus kota. Dimas memang sengaja membeli banyak oleh-oleh untuk di bagikan ke beberapa saudaranya yang ada di desa.
terimakasih sebelumnya πππππππ»ππ»ππ»ππ»
semoga menghibur pembaca sekalian.
sekali lagi terimakasih π€π€π€
__ADS_1
jangan lupa ya like, coment and share ππ»ππ»
dukungan anda sangat membantu sekali untuk saya