Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
kedatangan karyawan baru


__ADS_3

Saat Raka bertemu dengan Larasati, Wulan sengaja pergi menemui Arman. Wulan tau tempat Arman bekerja dan juga hafal jam istirahatnya, dia menunggu didalam mobilnya sampai Arman keluar dari kantornya. Dia juga sengaja memanas-manasi Arman. Wulan memang sedikit keterlaluan jika sedang usil, yah walaupun dia memang masih menaruh perasaan ke Arman. Tapi dia lebih takut kehilangan Larasati dari pada Arman, tentu saja karena Oma'nya sangat menginginkan Larasati menjadi cucu mantunya. Tidak lain akan menjadi kakak iparnya kelak.


"Kamu ngapin lagi ke sini?" Ucap Arman saat melihat Wulan menghampirinya.


"Mau ngajak kamu makan siang." Dengan entengnya dia berkata penuh percaya diri.


"Kamu fikir kamu siapa!" Sindir Arman merasa jengkel melihat Wulan yang menurutnya tidak tau diri.


"Aku sekarang memang bukan siapa-siapa, tapi nanti akan jadi adik ipar Laras." Ledeknya.


"Heh....! Sombong sekali kata-kata kamu, kamu fikir Laras akan semudah itu menerima lamaran Oma kamu!!" Sambil menatap Wulan dengan tatapan kebencian.


"Tentu saja!" Dengan tersenyum Wulan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Bagaimana pun caranya, mbak Laras akan menikah dengan mas Raka dan bukan kamu. Lagipula sekarang mbak Laras lagi pergi sama mas Raka, mungkin besok sudah ada kabar jika mbak Laras sudah menerima mas Raka." Ocehannya membuat darah Arman semakin mendidih.


"Kamu fikir kamu siapa!!" Menatapnya dengan tajam penuh amarah.


"Ooo.....Yang akan rebut Laras dari tangan kamu. Jika kamu menolak pernyataan cinta saya, maka saya juga akan membuat kamu tidak bisa memilik kesempatan untuk memilikinya." Dengan senyum seringai Wulan meninggalkan Arman.


Sebelum pergi Wulan membisikkan kata-kata ditelinga Arman "Sampai jumpa bapak gantengku" godanya.


"Perempuan sialan, beraninya dia mengancam saya." Umpatnya.


Arman sangat marah dan dia langsung pergi ke toko bunga untuk menemui Larasati dan meyakinkannya untuk menolak lamaran Raka. Saat sampai di toko bunga Arman tidak tau jika hari ini Larasati mengambil cuti satu hari. Dia sedikit kecewa karena sekarang susah sekali untuk bertemu Larasati, dia selalu keduluan oleh Raka rival cintanya.


Sesampainya di toko bunga Arman melihat sekeliling tapi tidak melihat keberadaan Larasati.


"Eh mas Arman, cari mbak Susan ya?" Ucap Dewi ramah.


"Buka." Arman sambil melihat kesekitar.


"Oh, kirain cari mbak Susan. Soalnya tadi mbak Susan nya sudah pergi sama pacarnya." Ocehnya sambil merapikan dan menghitung stok barang yang baru datang.


"Bukan mbak, saya lagi cari Laras." Ucap Arman dingin memasang muka masam.


"Ooh mbak Laras tho. Kalo mbak Laras memang hari ini gak masuk kerja." jawabnya.


"Kenapa? Apa dia sakit?" Arman sedikit khawatir, kenapa Larasati tidak memberitahunya jika sakit.


"Bukan mas! Mbak Laras memang hari ini gak kerja tapi bukan karena sakit, mbak Laras bilang hari ini ada urusan penting." Tutur Dewi menjelaskan.


"Utusan apa?" Arman semakin penasaran. Akhir-akhir ini dia selalu keduluan oleh Raka jika ingin mengajak Larasati keluar makan siang.


"Saya juga kurang tau mas." Jawab Dewi singkat.


"Oh, hem." Setelah mendengar yang dikatakan Dewi, Arman langsung pergi meninggalkan toko bunga.


"Ih, gak terimakasih udah dikasih tau. Judes banget jadi orang, lembut doang kalo sama mbak Laras. Giliran sama pegawai yang lain dinginnya minta ampun, ihhhhhhhh dasar cowok." Gerutunya terdengar oleh sahabatnya Tati.


"Kenapa lu?" Kata Tati sambil tersenyum melihat ocehannya.


"Gak apa-apa, ada cowok bucin cari ceweknya yang gak tau kemana!" Pungkasnya sambil menata vas-vas bunga plastik.


"Ih, kamu kenapa sih? Sensi banget. Lagi ada halangan bulanan ya?" Ejek Tati menyenggol lengan Dewi.


"Siapa yang menstruasi!" Ucapnya jutek.


"Udah-udah lanjut kerja." Timpalnya lagi.


"Ya ampun, galaknya anak perempuan satu ini." Mereka pun melanjutkan aktivitas seperti biasa.


"Galak-galak, gak aku bantuin hitung pemasukan dan pengeluaran bunga ya. Kerjaan kamu kerjain sendiri!" Ancamannya sambil tersenyum seringai. Memang Dewi yang paling sering dimintai tolong oleh yang lain karena paling cekatan.

__ADS_1


"Is is is..... Jahatnya." Ucap Tati menaruh semprot air diatas meja.


"Siapa suruh ledekin orang Mulu." Dewi mencoba meledek Tati balik.


"Eh, tapi mas Arman itu ganteng lho kalo lama-lama kita perhatiin." Timpalnya lagi.


"Jaga tuh ucapan. Dia anak bos!" Ucap Dewi memeringati Tati untuk hati-hati berbicara seperti itu, gak enak kalo sampai kedengeran Bu Melati dan pak Maulana.


Setelah jam pulang kerja marwa dan Lia pulang duluan, Dewi dan Tati masih membereskan beberapa bunga didepan toko. Beberapa saat kemudian Bu Melati datang dengan membawa seorang perempuan yang akan bekerja disana. Berarti akan ada karyawan baru lagi satu.


"Sore Bu." Sapa Dewi dan Tati.


"Iya sore, kok kalian berdua belum pada pulang." Tanya Bu Melati ramah.


"Tadinya udah siapa-siapa mau pulang Bu, cuman kita lupa masukin bunganya kedalam." Ucap Tati sembari memindahkan bunga ke dalam toko.


"Oh begitu. Oh iya ini kenalin, dia ini keponakan saya, sepupu Susan dari kampung halaman saya. Dia akan bekerja disini juga, bantuin kalian!" Tutur Bu Melati mengenalkan keponakannya


"Gandari mbak." Ucapnya lembut.


"Saya Dewi." Menjabat tangannya.


"Tati."


"Mulai kapan dia bekerja Bu." Tanya Tati


"Mulai besok dia sudah mulai kerja disini, dia akan tinggal dikamar belakang toko." Jawab Bu Melati.


"Oh pantesan tadi banyak tukang yang bersihin dan direnovasi, jadi buat mbak Gandari tinggal disini." Dewi seharian memperhatikan tukang renovasi di belakang dan penasaran kenapa banyak tempat tidur yang dibawa masuk ke ruang belakang, bahkan almari, meja dan beberapa rak laci.


"Panggil aja Ndari mbak."ucapnya.


"Dari!" Saut Dewi.


"Dari kan." Ucapnya lagi.


"Iya mbak, tapi pake N ya depannya." Pinyanya.


"Ndari." Celetuk Tati.


"Iya bener." Mereka pun tersenyum.


"Jadi mbak Ndari bakalan tinggal disini sendirian dong Bu?" Tanya Dewi yang sedikit penasaran, apa dia sepemberani itu hingga berani sendiri tinggal kamar dibelakang.


"Yah kalo dia berani, makanya saya kesini mau menawari kalian juga siapa tau ada dari kalian yang mau. Kan lumayan kalian gak perlu bayar kontrakan." Ucap Bu Melati merayu mereka. Tadinya Bu Melati memang ingin menawarkan ke mereka tapi Bu Melati berfikir mereka sudah pulang dan ternyata memang masih di toko. Keberuntungan untuk mereka ditawari tempat tinggal geratis.


"Memang boleh beneran nih Bu?" Dewi mencoba menanyakannya lagi.


"Iya." Ucapnya lirih.


"Ih, lumayan Dew." Tati menggoyangkan bahu Dewi.


"Iya mbak." Ucap Gandari tersenyum.


"Kita mau Bu." Ucap Dewi dan Tati bersamaan saling tersenyum.


"Iya." Jawab Bu Melati lirih.


"Kapan kita boleh pindah ke sini?" Tanya Dewi.


"Ya terserah kalian. Besok juga sudah boleh." Ucap Bu Melati.


"Wah." Dewi merasa senang mendengarnya sambil tersenyum. Dia tidak lagi menyisihkan uang gajinya untuk membayar tagihan kontrakan yang lumayan mahal.

__ADS_1


"Iya mbak, saya juga besok kok pindahnya. Soalnya saya pengen mandiri gak nyusain Tante." Tutur Gandari.


"Ya sudah kalo gitu kami pulang dulu Bu." Ucap Tati.


"Oh iya silahkan."


"Assallamuallaikum." Ucap Tati dan Dewi.


"Waallaikumsallam." Jawab Gandari dan Bu Melati.


Dewi dan Tati pulang ke kontrakan tapi Dewi ada sedikit urusan jadi dia menyuruh Tati pulang duluan.


"Mbak Tati, mbak pulang duluan aja ya." Dewi menyuruh Tati pulang ke kosan duluan.


"Lho, emang kamu mau kemana?" Tati sedikit penasaran, tumben dia pergi malam-malam. Setau Tati, Dewi itu gak pernah pergi malam-malam. Bahkan jika di konsan dia lapar malam-malam saja memilih tidur.


"Aku masih ada sedikit urusan mbak." Ucapnya.


"Mau transfer uang buat keluarga kamu lagi!!??" Tati mencoba menebak dan dia menebaknya dengan benar.


"Iya mbak." Jawabnya.


"Kenapa gak tadi siang aja, gak bahaya apa malam-malam gini. Bukannya jam segini bank juga udah tutup ya, sepengetahuan aku sih." Ucapnya.


"Enggak apa-apa mbak, kan kirimnya lewat ATM bukan di bank. Kalo di bank ya jam segini udah tutup." Dewi pun memberhentikan angkutan umum menuju ATM.


"Ya udah, hati-hati ya." Ucap Tati melambaikan tangannya


"Iya mbak. Bye!" Mereka pun berpisah di persimpangan jalan. Dewi menaiki angkot menuju ATM terdekat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2