Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
hukuman & melelahkan 21+


__ADS_3

konten ini mengandung 21+ diharapkan bijak untuk memilih buku bacaan πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Raka melepas baju dan celana panjangnya, dia hanya mengenakan celana boxster. Sambil menatap wajah Laras.


"ini hukuman untuk kamu Laras" ucap dingin.


"Mas, istighfar." Laras menelan ludahnya saat melihat otot perut dan badan Raka yang bagus hasil olahraga yang dia geluti membuatnya merasa takjub sekaligus tegang.


"Aku meminta hak ku sekarang Laras!" Tatapannya membuat Laras gemetar, seluruh bulu kudu berdiri seperti di geli tiki akibat perkataan Raka.


"Mas jangan macem-macem, mas kan udah janji gak bakal ngelakuin itu ke aku kan?" Ucapnya dengan menggigit sudut bibirnya.


"Apa salahnya seorang suami meminta hak-nya ke istrinya sendiri." Ucapnya


"Maksud mas apa? Kalo sampai Laras hamil gimana? Masmau tanggung jawab??" Sambil meneteskan air matanya Laras memeluk tubuhnya seolah melindungi dirinya dari tatapan Raka yang seolah-olah ingin memangsanya.


"Saya suami kamu Larasss!!!" Tegas Raka


"Tapi aku gak mau! Aku belum siap!!" Ucapnya sambil memanyunkan dan menggigit bibirnya


Raka tidak peduli dengan penolakan Laras, dia seolah bisu mengingat Arman masih begitu perhatian dengan istrinya itu. Laras terisak-isak namun Raka tetap melakukanya, sesekali dia mengelap air matanya dan mencium kening Laras dengan lembut. Laras merasa lelah hingga dia tertidur lelap diperlukan Raka. Raka beruntung mendapatkan Laras, perempuan sederhana yang tidak menuntut tentang harta atau menghambur-hamburkan uang seperti perempuan kota pada umumnya. Awalnya dia memang menolak karena berfikir jika para perempuan diluar sana yang ingin menikah dengannya pasti hanya karena tampang dan penghasilannya alias materialistis.


"Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekatimu lagi Laras." Dia memeluk istrinya dan mengelus lembut pipi Laras. Dia ingin Laras cepat hamil supaya Oma merasa bahagia dan dia pun bisa tenang jika Laras sampai hamil maka Arman akan menyerah untuk merebutnya.


Wulan di dapur membantu mbok Ijah dan Tuti memasak makan malam. Beberapa menit kemudian Oma turun dari mobil, Oma habis inspeksi ke beberapa restoran untuk melihat perkembangannya.


Waktunya makan malam, mereka berkumpul di ruang makan.


"Lho Laras mana? Kok kamu turun sendiri?" Tanya Oma yang hanya melihat Raka di meja makan.


Beberapa menit sebelumnya.


"Laras, bangun?" Ucap Raka lembut sambil mengusap kepala Laras.


Laras malu dan hanya menggelengkan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Dia masih didalam selimut dan belum mandi.


"Bangun mandi atau kamu mau saya mandiin kamu?" Godanya.


"Ih apaan sih mas, Laras bisa mandi sendiri." Teriaknya malu.


"Kenapa mesti malu, bukannya saya juga sudah melihat semuanya." Ucapnya membuat Laras semakin malu.

__ADS_1


"Cepetan!" Perintahnya. "Habis itu kita ikut makan malam yang lain dibawah." Pintanya


"Laras gak laper mas."


"Kamu harus makan."


"Laras gak mau turun." dia malu jika yang lain melihat lehernya ada bekas merah akibat perbuatan Raka. Raka hanya tersenyum tipis menaikkan kedua alisnya.


"Ya sudah, nanti biar saya suruh mbok buat bawa makanan ke atas." Ucapnya melangkah keluar.


Dengan berjalan tertatih Laras menuju kamar mandi untuk membersihkan badanya yang basah keringat sehabis olahraga dengan suaminya. "Dasar mas Raka jahat." Umpatnya yang masih merasa dibagian itu terasa perih.


Di meja makan.


Rakaenjawab pertanyaan Omanya dengan santai "Dia kelelahan, mungkin saja pekerjaannya hari ini terlalu sibuk." Sambil tersenyum menaikkan sudut bibirnya membuat Oma dan Wulan serasa sedikit heran. Tidak biasanya dia tersenyum seperti itu, batin mereka.


Sedangkan Dimas berfikir jika Laras mungkin saja ngambek tidak mau makan malam karena habis di omelin oleh Raka.


"Mbok." Panggilnya


"Iya, tuan." Jawab mbak Tuti


"Mbok mana?" Tanyanya


"Oh ini mbak Tuti, tolong siapkan makan malam di kamar untuk Laras." Pintanya


"Baik tuan." Mbak Tuti pun segera mengambilkan makanan untuk Laras dan membawanya ke atas


"Mas." Panggil Wulan


"Hem ..."


"Mas gak berantem sama mbak Laras kan?" Tanya Wulan membuat Oma bingung karena tidak tahu-menahu jika mereka bertengkar.


"Kalian berantem!!" Ucap Oma keras.


"Enggak Oma." Ucapnya datar


Dimas hanya diam sambil melirik ke arah mereka, menyimak suasana. Dia tidak mau terlibat sesuatu yang buruk, karena dia merasa orang luar walaupun Dimas sudah tinggal dirumah Raka.


"Kalo kalian berantem, trus kapan Oma bisa cepat punya cucu. Kamu mau bikin Oma sakit dulu baru mengabulkan permintaan Oma." Ucapnya merintih.

__ADS_1


"Enggak Oma, gak ada yang berantem. Mungkin Laras hanya sedikit lelah. Soal cucu Oma sabar aja dulu. Insyaallah Raka dan Laras bakalan usahain buat Oma, tapi bukan sekarang. Kita makan dulu." Ucapnya


"Kamu itu sukanya nanti-nanti. Kapan kamu ajak Laras libur bulan madu. Kerja Mulu!" Gerutu Oma.


"Ambil aja liburan mas? Wulan juga mau ikut, sekalian nyembuhin hati Wulan yang sakit." Ucapnya


"Sakit kenapa lagi?" Tegurnya


"Biasa mas, patah hati sama cowok orang!" Celetuk Dimas


"Ish." Umatnya menyebikkan bibir "Gak udah dengerin si Dimas, dasar sok tau." Ucapnya


Dimas hanya memandang Wulan sambil tersenyum tipis. Jika saja Wulan menyadari jika Dimas mulai memperhatikannya, sayang Wulan masih terobsesi dengan Arman. Obsesi yang tidak tersampaikan.


Mereka pun melanjutkan makan malam. Di tempat lain, Bu Melati meminta Arman mengantarkan makanan untuk Aria (sepupunya) yang tinggal di belakang toko bunga.


Sesampainya di toko bunga dia turuh dari mobil menuju rumah belakang melewati jalan setapak disebelah tokonya. Jalannya hanya muat sepeda motor, jadi mobilnya tidak bisa masuk kebelakang. Di sana sepupunya sudah menunggu di depan rumah , sebelum Bu Melati sudah menelponnya.


"Mas udah sampai, duduk dulu mas. Biar Aria ganti dulu kotak makannya." Ucapnya


"Iya, jangan lama-lama."


"Hilih. Bentar doang juga. Masuk gih!" Ucapnya mempersilahkan Arman masuk kedalam rumah. Di sofa panjang sudah ada Dewi yang tengah tertidur pulas. Dia tidak tau jika Arman datang ke sana. Arman memperhatikan raut wajah Dewi yang tampak kelelahan. "Ternyata dia manis juga" batinnya. Arman mengedipkan matanya saat tersadar dari lamunannya.


"Ini mas Tupperware-nya, lain kali kalo mau ngasih makanan bilang aja atau enggak suruh Tante telfon aja aku. Nanti biar aku sendiri yang ambil kesana atau sekalian makan malam sama kalian." Tuturnya.


"Itu temen kamu kenapa?" Arman pura-pura bertanya.


"Eh." Sontak saja Aria kaget, dan berfikir "bukannya mas Arman juga kenal sama Dewi, tempo hari kan dia bilang kalo mereka pacaran. Kok sekarang pura-pura gak kenal." Sambil menahan senyumnya sesekali Aria melihat ekspresi wajah Arman.


"Oh, mbak Dewi. Dia emang biasa kalo jam segini udah tidur." Ucapnya


"Kalo kamu makan, ajak sekalian dia makan. Gak mungkin kan kamu bisa habisin semua makanannya sendiri." Arman dingin


"Sok pura-pura perhatian." Batin Aria.


"Mbak Dewi itu jarang makan malam. Orang dia biasany kalo makan sehari kadang satu atau dua kali doang." Tutur Aria


"Kenapa begitu?"


"PENGIRITAN! Namanya juga masalah ekonomi mas."

__ADS_1


"Maksud kamu apa??" Tanyanya


"Mbak Dewi itu punya masalah sendiri tentang ke uangan keluarganya." Aria pun menjelaskan semua masalah Dewi dan keluarganya di kampung mengenai biaya berobat dan beberapa hutang yang dipinjam oleh kakaknya untuk kebutuhan mereka sehari-hari.


__ADS_2