Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Kontak perjanjian


__ADS_3

Saat di restoran Raka mengatakan memberikan kontrak pernikahan ke Larasati, Larasati masih bingung dengan lembaran-lembaran kertas yang Raka berikan kepadanya untuk dia baca. Raka mengatakan jika Larasati diperbolehkan membaca dulu isi didalamnya baru memberikan memastikan persetujuannya dia bersedia menikah dengan Raka atau tidak. Walaupun isinya memang sangat menguntungkan untuk Larasati dan keluarganya, karena Raka tidak membebani Larasati dengan persyaratan yang terlalu rumit.


"Hem." Raka meletakkan lembaran-lembaran kertas penuh dengan tulisan didepan Larasati.


"Ini apa mas?" Tanya Larasati bingung.


"Kamu baca dulu aja semuanya." Jawab Raka dingin seperti biasa.


"Emang ini apaan." Ucapnya membolak-balikkan lembaran kertas itu.


"Itu adalah kontrak perjanjian selama kita menikah." Ucap Raka dengan ringannya kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Hah!!" Larasati tercengang mendengar ucapan Raka dengan entengnya.


"Kamu baca saja dulu semua isinya, dan silahkan kamu berikan jawabannya besok. Sekarang kita makan dulu."


"Katanya mas Raka mau ngomong sesuatu yang penting sama saya." Tanya Larasati yang masih penasaran.


"Iya, itu!" Sambil menunjuk kertas yang tengah dipegang Larasati.


"Jadi mas cuman mau ngasih ini." Tanya Larasati menatap Raka.


"Menurut kamu!" Ucapnya.


"Dan juga besok saya akan menjemput kamu untuk membicarakan hal itu jika kamu sudah membaca semua isinya, karena semua keputusan ada ditangan kamu. Jadi pikirkan baik-baik sebelum mengambil semua keputusan, jangan sekali-kali menolak saya Laras. Itu sama sekali tidak akan merugikan kamu." Tegasnya menekan Larasati.


"Hem." Larasati hanya diam tanpa membantah tatapan Raka.


"Serem banget sih, gak bisa apa dia ngomongnya lembut dikit sama perempuan." Batin Larasati sambil memanyunkan bibirnya.


Mereka pun memesan makanan, Larasati hanya bisa pasrah sebelah membaca semua isinya. Selesai makan siang pun Raka mengantarkan Larasati ke toko bunga.


Ditoko Bunga.


"Kasian banget ya mas Arman kalo beneran mbak Larasati pacaran sama cowok tadi, gimana ya perasaannya. Hem!!!!" Batinnya (Dewi)


"Hehhhh...., Hayo ngelamunin apaan?" Marwa mengagetkan Dewi yang tengah melamun dimeja kasir sehabis makan siang.


"Enggak apa-apa kok, ngagetin aja sih!" Ucapnya.


"Lha!!! Trus dari tadi ngapain coba bunga di elus-elus. Kasian atuh bunganya nanti dia merinding." Ledek Marwa menaik turunkan alisnya.


"Ihhhhhhhh!!!! Pasti mau ngomong jorok. Otaknya selalu ngeres, sana sapu dulu bersihin kerikilnya yang menumpuk tuh." Dewi pun tersulut emosi karena ucapan Marwa yang memang terlihat ingin memancingnya memikirkan hal-hal kotor. Biasa jika perempuan digabungkan pasti bercandaannya kadang terlalu sampai kemana-mana.


"Lha kok ngamuk." Ejekan sambil tersenyum.


"Udah-udah sana lanjut lagi, ganggu aja. Ishhh.." desisnya mengusir Marwa.


Marwa pun menjauh dari Dewi dan merapikan beberapa bunga yang hampir jatuh dari rak disudut toko, Lia menghampirinya.


"Kenapa tuh temenmu?" Tanya Lia.

__ADS_1


"Gak tau, mungkin lagi patah hati. Hahahahaha....!" Ucap Marwa dengan ringannya sengaja meledek Dewi sembari meliriknya memberikan isyarat ke Lia.


"Hahahahaha..., Bisa aja." Lia pun tertawa dengan candaan sahabat-sahabatnya.


"Eh, gwe denger ya kalian lagi ngomongin siapa!!!" Teriaknya, menyela pembicaraan Lia dan Marwa.


"Udah-udah lanjut kerja lagi, ini bantuin rangkai bunganya." Perintah Tati membawa beberapa ikat bunga pesanan.


"Ih, kok gwe jadi mikirin mas Arman sih." Batinnya (Dewi)


Beberapa saat kemudian Larasati sampai ditoko bunga. Setelah mengantar Larasati, Raka pun kembali kekantor.


"Mbak Laras udah selesai makan siangnya." Dewi menyambut Larasati dengan ramah.


'Udah mbak." Jawab Larasati dengan senyumnya.


Mereka pun melanjutkan pekerjaannya masing-masing, sesaat sebelum pulang kerja Larasati menemui ibu Melati untuk meminta izin cuti kerja untuk besok dan hari ini juga dia meminta pulang cepat untuk membaca kontrak yang diberikan Raka kepadanya. Tapi Larasati hanya beralasan ke Bu Melati jika dia ada urusan penting mendadak. Bu Melati mengizinkan Larasati untuk pulang.


Saat sampai di rumah Larasati menemui Bu Sumi yang tengah merawat pak leknya, Bu Siti dan Parman sedang memasak untuk mereka makan bersama. Sedangkan Dimas tengah bekerja ojek online, hanya untu disela-sela kesibukannya setelah pulang kuliah. Dia tidak jadi mengambil cuti panjang karena bujukan Oma Astuti yang mengatakan jika Larasati menikah dengan Raka, maka mereka semua akan pinda kerumah Oma Astuti dan orang tuanya tidak perlu bekerja lagi. Sedangkan dia bisa bekerja di kantor milik Oma Astuti yang dipegang Raka. Dengan tawaran yang begitu menggiurkan kenapa tidak menerimanya, tentu saja Dimas tergiur hanya saja dia tetap mendukung semua keputusan Larasati.


"*T*ebel banget, ini isinya apa aja sih." Batinnya menarik kursi.


"Hem, kenapa mas Raka sampai menulis kontrak nikah segala seperti ini. Kenapa kalo dia terpaksa gak nolak aja permintaan Oma sih, aku kan juga jadi gak bisa nolak Oma kan kalo kayak gini. Mana Oma udah bantuin bu lek sama pak lek buat biaya rumah sakit. Hemm...." Gumamnya.


Didalam surat perjanjian yang Raka tulis semua isinya sangat menguntungkan untuk Larasati. Larasati membaca semua detailnya dan semua poin-poin pentingnya, bahkan dia tidak meninggalkan celah sedikitpun.


Raka menulis jika keluarga pamannya tidak perlu bekerja jika menikah dengannya, dia juga akan memberikan Dimas pekerjaan dikantornya. Raka juga akan memindahkan keluarga pamannya kerumah Oma Astuti supaya mendapatkan perawatan yang lebih baik karena disana ada perawatan dan suster yang biasanya menjaga Omanya. Dan Raka juga menulis untuk tidak menggangu kehidupan masing-masing, dia hanya ingin berakting didepan Omanya. Raka juga tidak menuntut Larasati untuk melayaninya selayaknya seorang istri.


"Serius banget ndhok." Bu Siti masuk kekamar Larasati dan mengagetkannya.


"Eh ibu." Segera Larasati menutup dokumen yang tengah dia pegang.


"Kamu lagi baca apa to ndhok?" Tanya Bu Siti yang sedikit penasaran menengok kearah dokumen di atas meja yang tengah Larasati hadang dengan tubuhnya.


"Enggak apa-apa kok Bu, cuman catatan tentang kerjaan aja kok Bu sama beberapa daftar barang stok di toko." Dengan senyum palsunya Larasati mencoba mencari alasan supaya ibunya tidak mengetahui tentang kontrak itu.


"Ibu tadi mau ngapain manggil Laras, ada yang bisa Laras bantuin." Larasati mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Enggak kok ndhok." Sembari mengelus kepala anak perempuannya itu.


"Ayok makan dulu ndhok, bapak sama ibu sudah selesai masak." Ajak Bu Siti.


"Eh.... Tumben bapak mau bantuin ibu masak." Tanya Larasati heran.


"Iya, ibu yang minta dong. Kalo gak gitu mana mau bapak bantuin ibu." Ucap Bu Siti.


"Pasti ibu omelin kan, bapak!" Ucap Larasati mendorong ibunya pelan dan mengikuti langkah ibunya dari belakang punggung ibunya manja sambil tersenyum tipis.


Mereka pun menuju meja makan.


"Pak lek gimana sekarang, udah bisa jalan apa belum Bu lek?" Tanya Larasati khawatir dengan kesehatan pak leknya.

__ADS_1


'Kemungkinan besar pak lek kamu gak bisa kerja lagi, paling nanti bu lek aja pulang kampung. Biar Bu lek bisa rawat pak lekmu dikampung aja, sekalian bantuin ibu sama bapak kamu di sawah." Tutur Bu Sumi ke keponakannya.


Larasati merasa sedikit bingung tentang perasaannya, entah apa saja yang tengah dia pikirkan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara sepeda motor Dimas, sepertinya dia sudah kembali dari kuliahnya sampai sesore ini.


"Assallamuallaikum." Ucap Dimas dari depan pintu.


"Waallaikumsallam." Ucap yang lain bersamaan.


Dimas melangkah masuk menuju meja makan membawa sedikit makanan yang dia beli dari pinggir jalan saat pulang.


"Baru pulang to le?" Tanya Bu Siti.


"Iya Bu Dhe." Ucap Dimas.


"Udah sini makan dulu bareng-bareng." Ajak pak Parman.


Mereka pun makan bersama, setelah makan dan membereskan piring. Larasati mengajak Dimas berbincang soal lamaran Oma Astuti, dia meminta pendapat Dimas. Larasati tidak berani meminta pendapat kedua orang tuanya dan pak lek, Bu leknya. Karena dia tau pasti orang tuanya memintanya untuk menerima Raka, terlihat jelas saat itu diraut wajah ibunya yang sedikit berharap jika dia segera nikah.


Dimas hanya mengucapkan jika semua itu terserah Larasati, apapun keputusannya Dimas akan mendukungnya selagi itu positif dan tidak merugikan siapapun. Walaupun Dimas juga sedikit berharap jika Larasati menerima Raka, walaupun awalnya dia masih berharap ke Arman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2