
Pagi menjelang siang setelah mereka selesai sarapan pak Kasman pergi berangkat kerja duluan, Larasati dan Dimas masih bersiap-siap, mereka pun berangkat. Dimas mengantarkan Larasati ketempat kerjanya lalu Dimas disana bertemu temannya, Dimas menghampiri mereka sejenak.
Toko bunga dan tanaman buka jam 8.30wib pagi dan tutup jam 16.00wib sore, masuk kerja setiap hari Sabtu sampai Kamis dan libur setiap hari Jumat. Ditoko bunga Larasati merapikan beberapa bunga dan membersihkan peralatan, ada beberapa pelanggan hari ini cukup sibuk.
"Permisi, saya mau pesen bunga seperti biasa." ucap seorang pelanggan
"Bunga yang apa ya mas?" tanya Larasati, laki-laki itu pun hanya menatapnya dan mengerutkan kedua alisnya
Larasati semakin bingung dengan panangan laki-laki didepannya itu, Larasati merasa panik takut perkataannya ada yang salah dan dia mencoba bertanya kembali.
"Maaf mas, masnya tadi mau pesen bunga yang seperti apa?" tanya kembali Larasati di selak Dewi salah satu karyawan disini juga
"Oh mas Anggara, mau pesen bunga seperti biasa ya. Sini-sini mas biar Dewi aja yang bungkus buket bunganya." saut Dewi dengen senyum ramah karyawan
"Mbak Laras tolong ambilin bunga lili sama pita ya." punta Dewi menunjuk ke arah bunga lili
"Oh iya mbak Dewi." jawab Larasati melangkah mengambil beberapa bunga lili dan bunga yang lain untuk hiasan merangkainya nanti
"Hem...." laki-laki itu hanya menghembuskan nafasnya
"Siapa sih cowok itu, dingin banget. Ditanya juga gak mau jawab, Laras kan jadi malu serasa kayak orang bodoh." batin Larasati
"Ini mbak Dewi bunganya."ucap Larasati memberikan bunga kepada Dewi
"Sini mbak Laras Dewi ajarin merangkai bunganya, besok-besok kalo ada pelanggan mbak Laras makin jago ngerangkai sendiri." ucap Dewi
Larasati memperhatikan Dewi merangkai bunga lili, dan laki-laki itu menatapnya dengan pandangan mata tajam dan dingin. Larasati merasa seperti laki-laki itu memperhatikannya Larasati merasa risih dan canggung. Setelah selesai merangkai bunga itu, Dewi segera memberikan bunga itu kepada pelanggannya itu.
"Ini mas Angga seperti biasa Rp 150.000;- rupiah." ucap Dewi memberikan buket bunga itu
"ini." ucap laki-laki itu dan melangkah pergi
Anggara adalah tipe cowok yang cuek dan dingin terhadap orang lain, tapi sangat lembut terhadap orang-orang disekitarnya. Setelah laki-laki itu pergi Larasati langsung bertanya kepada Dewi tentang pelanggannya itu tadi.
"Mbak Dewi laki-laki itu tadi siapa sih, kok dingin banget. Sombong lagi kelihatannya, tadi Laras hampir takut salah ngomong." tanya Larasati Penasaran dan masih melihat ke arah laki-laki itu pergi
"Oh... mas Angga ya." jawab Dewi
Dewi pun menceritakan semua tentang laki-laki itu, dan Larasati pun tersentuh dengan kisahnya. Namanya Anggara, karyawan kantoran biasa (25 tahun), dulunya pemuda yang baik, ramah dan pekerja keras, gemar bernyanyi dan memainkan gitar. Dan sekarang menjadi pria yang pendiam, dingin dan cuek, semenjak kekasihnya jatuh sakit. Setiap hari Senin Anggara selelu membeli bunga lili kesukaan kekasihnya. Karena hari Senin itu adalah hari dimana dia melamar kekasihnya itu, dia mempersiapkan taman bunga lili kecil, semua bunga itu dia beli di toko Berkah Melati. Sampai sekarangpun dia tetap membelinya disana, sudah semenjak 6 bulan yang lalu dia mulai langganan ditoko ini. Bahkan setiap hari Senin dia akan membeli bunga disini atau memesan via telepon.
Pemuda yang sangat menyayangi kekasihnya itu penuh dengan keputusasaan karna penyakit yang diderita tunangannya itu. Anggara dan kekasihnya itu sudah kenal sejak masuk bangku kuliah dan baru jadian saat tunangannya itu mulai bekerja ditempat yang sama dengannya. Anggara sudah jatuh cinta dengan tunangannya itu semenjak dibangku kuliah dan mereka baru 1tahun menjalin kisah cinta dengan tunangannya itu, namun tiba-tiba penyakit itu pun muncul. Sebenarnya tunangannya itu sudah sejak masuk rumah sakit 3bulan yang lalu meminta putus tetapi Anggara tidak bersedia karena dia teramat menyayangi kekasihnya itu, Bahkan dia rela menunggunya hingga pulih.
Larasati mendengar semua itu pun mulai merasa iba dengan keadaan pelanggannya itu, bahkan dia ingin suatu saat nanti dia memiliki kekasih yang sosoknya seperti Anggara seorang penyanyang yang tulus memperjuangkan hubungannya.
Setelah selesai bekerja, para karyawan pun mulai membereskan bunga-bunga yang ada didepan toko. Mereka pun berpamitan satu sama lain, sedangkan Larasati tengah menunggu jemputan Dimas. Tapi Dimas belum kunjung datang, Larasati sudah menunggu 1jam pun Dimas belum juga tiba. Larasati pun berinisiatif pulang sendiri, tiba-tiba dia bertemu dengan kakaknya Susan yaitu Bang Arman.
__ADS_1
"mana sih ini si Dim-Dim, lama banget kakiku Ampe pegel nungguin. Apa dia lupa jemput ya, atau ada apa-apa dijalan. Kok gak ngabarin sih." gumam Larasati yang tengah kawatir berjalan bolak-balik menunggu adiknya itu.
Tiba-tiba
"Tin-tin." Suara klakson mobil terdengar, mobil itu pun berhenti teoat disampingnya. kaca mobilpun terbuka perlahan, Larasati masih bingung dan penasaran karna ada mobil berhenti. Dia berfikir mungkin ada orang yang ingin bertanya jalan padanya.
"ih...mobil siapa ini kok berhenti disini, apa jangan-jangan mau numpang tanya jalan. Gimana ini...., aku mana tau daerah disini. Gimana ya......Aku kan orang baru."
Batin Larasati mulai panik
kaca mobil pun terbuka
"Larasati bukan?" tanya laki-laki dari dalam mobil
"ih kok tau namaku, siapa ini." batin Larasati masih kebingungan karena sebelumnya belum pernah bertemu dengan laki-laki didalam mobil itu.
"iya betul, kok mas tau nama saya. Mas nya ini siapa ya?" jawab Larasati sembari bertanya kembali
"Mbak beneran mbak Laras bukan?" tanya laki-laki itu lagi
"iya bener, ada apa ya mas." jawab Larasati sembari berkata lagi
"Naik mbak biar saya anterin pulang." ucap laki-laki itu
"Oh... gak usah mas." Jawab Larasati panik
"Beneran mas gak usah, saya lagi nungguin adek saya mau jemput kok." jelas Larasati supaya laki-laki itu pergi.
"Saya tadi dimintain tolong sama Dimas untuk anterin mabuk Laras pulang." ucap laki-laki itu dengan ramah
"Lho dek Dimas, mas kenal dengan adek saya?" tanya Larasati
" Iya mbak kenal, saya Arman anak mbak. Anak pemilik toko bunga tempat mbak bekerja." tutur Arman menjelaskan.
"Oalahhh...... mas ini to bikin Laras takut aja, mas ini bikin Laras panik. Tak kirain penculik."ucap Larasati mengelus dada merasa lega
"Soalnya tadi Dimas bilang, ban sepeda motornya bojor dipersimpangan mbak. Masih jauh dari sini." jelas Arman turun dari mobil fan membukakan pintu mobilnya supaya Larasati naik
"Ayok mbak Laras naik." pinta Arman
"oh..iya mas, maaf ya mas Arman Laras jadi ngerepotin." ucap Larasati
sambil mengendarai mobil mereka pun ngobrol disepanjang jalan
" Panggil aja saya Laras mas, gak usah pake mbak." pinta Larasati
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu saya panggil aja Laras mulai sekarang gak pake mbak-mbak." jawab Arman
Larasati pun tersenyum
Sesampainya di rumah Larasati menawarkan Arman turun tapi mas Arman menolak karna masih ada urusan lain yang harus dilakukan, Larasati pun berterimakasih karena telah menolongnya
"Assallamuallaikum Bu Lek." ucap Larasati
"waallaikumsallam salam cah ayu." jawab Bu Sumi menyambut kepulangan Larasati, mereka pun masuk kedalam rumah
"Bu Lek Dimas belum pulang ya?" tanya Larasati khawatir
"Belum ndhok, tadi temennya sudah telfon Bu Lek katanya masih dibengkel sama nak Bagas jadi Bu Lek tenang ada temennya." ucap Bu Sumi melangkah duduk disamping Larasati
"Oh gitu ya Bu Lek, Laras jadi lega dengerinnya." ucap Larasati
"Gimana kerjaannya ndhok hari ini, lancar?" tanya Bu Sumi perhatian
"Alhamdulillah Bu Lek, lancar. Cuman Laras masih perlu banyak belajar lagi." tutur Larasati menjelaskan
"Ya sudah, sana mandi dulu trus makan." perintah ibu Sumi
"Pak Lek kemana Bu Lek? Kok gak kelihatan dari tadi."tanya Larasati sembwri melihat sekeliling karena dari tadi tidak melihat sosok pak Leknya itu
"Oh pak lekmu, pak lekmu lagi pergi kerumah pak RT. Katanya pak RT minta dibuatin kolam ikan jadi pak lekmu lagi nengok lokasinya sama mau dibuat seperi apa bentuknya nanti. katanya mau diskusi sampai malem." jawab Bu Sumi
" Ya sudah Laras mandi dulu ya Bu Lek." ucap Larasati
"iya ndhok sana." ucap Bu Sumi dengan lembut
Larasati beranjak dari kursinya dan mandi, setelah itu dia makan. Beberapa saat kemudian dia mendengar suara motor Dimas memasuki pekarangan rumah, Larasati berdiai dan melangkah menengok Adik sepupunya itu.
" Dim-Dim udah pulang, gimana motornya udah selesai perbaikannya." tanya Larasati sambil membawa piring karena dia belum selesai makan membuat Dimas tersenyum
"udah mbak, mbak ngapain masih bawa-bawa piring gitu. Kayak dikampung aja makan dibawa kemana-mana." ejek Dimas sambil tersenyum lebar
"ishhh...." Desis Larasati sambil menyebikkan bibirnya
mereka pun masuk kedalam rumah, Dimas langsung membersihkan diri. Larasati pun segera membersihkan dapur, Bu Sumi tengah berbelanja ke warung terdekat untuk membeli bahan makanan dan beberapa bumbu dapur
terimakasih sudah mampir membaca karya sayaπππππ€π€π€π€π€
jangan lupa ya like dan coment ππ
jangan lupa dukungannya juga ya
__ADS_1
terimakasih sudah berkunjung ππππππππ