Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Oma Astuti


__ADS_3

Hari ini lumayan sepi, tidak seramai biasanya. Memang dihari-hari tertentu toko bunga akan sangat ramai pembeli. Ada mobil yang berhenti tepat didepan toko bunga seorang pelanggan paruh baya turun dari mobilnya datang melihat-lihat koleksi bunga yang ada di pajangan, Larasati menghampirinya dan melayaninya.


"Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu." Ucap Larasati.


"Em... Saya mau beli mawar putih yang ini semua, sama mawar merah semuanya." Sambil tersenyum ucap perempuan paruh baya itu.


"Baik Bu, tunggu sebentar ya saya bungkus semuanya." Kata Larasati mengambil semua bunga-bunga itu.


"Panggil saja Oma ya." Lirihnya Oma Astuti meminta Larasati memanggilnya lebih akrab.


Oma Astuti sedari tadi memperhatikan Larasati yang tengah melayaninya, dia pun tersenyum. Oma Astuti berfikir "coba saja cucunya menikah, pasti ada yang menemaninya dirumah".


Sayangnya cucu Oma Astuti itu gila kerja, walaupun begitu dia selalu menuruti semua kemauan Omanya apapun itu. Oma Astuti memiliki ide untuk membuat cucunya mau menikah setelah melihat Larasati.


Sosok pria tampan turun dari mobil menghampiri Oma Astuti, yah itu dia cucu Oma Astuti. Raka Dinata yang gila akan pekerjaannya, dia bekerja sebagai CEO disebuah perusahaan yang lumayan besar. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia masih umur 5 tahun karena kecelakaan yang disebabkan perselisihan pekerjaan.



Raka Dinata (Mark Prin Suparat)


Penampilannya membuat beberapa karyawan toko bunga melihat kearahnya karena kagum.


"Oma udah selesai milih semua bunga-bunganya." kalimat yang keluar dari mulutnya terasa dingin dengan muka datar.


"Kenapa semua laki-laki tampan itu selalu berucap dingin dan kaku" batin Larasati.


Oma Astuti memperkenalkan cucunya pada Larasati.


"Oh iya ini cucu Oma, Raka. Siapa tadi nama kamu??" Tanya Oma sekaligus memperkenalkan cucunya.


"Laras Oma."ucap Larasati lirih senyum tipis.


"Ini Oma semua bunganya, totalnya Rp 650.000,- ." Ucap Larasati menyodorkan bunga ke cucu Oma Astuti.


"Ganteng gak cucu Oma." Cletuknya membuat Larasati malu dan canggung.


"Kamu mau gak sama cucu Oma." Imbuhnya membuat Larasati tersenyum tipis. Larasati terdiam dan bingung harus menjawab apa, dia takut menyinggung Oma Astuti.


"Oma." Tegur Raka dingin menatap sinis Larasati


"Ini uangnya mbak, terimakasih." Ucap singkat dan menarik Omanya pergi.


"Ada-ada aja hari ini." Batin Larasati.


Sedangkan di mobil Raka sedang proses dengan Omanya yang suka menjodoh-jodohkan dia dengan orang yang dia bahkan tidak mengenalnya.


"Oma itu apa-apa an sih, main jodoh-jodohin Raka." Kalimat Raka membuat Omanya sedih, karena sudah ingin sekali menimang cicit dari cucunya.


"Habis kamu gak mau nikah-nikah, lihat itu semua temen-temen Oma sudah pada nimang cucu. Lha ini Oma, cucu mantu aja gak punya!!" Gerutunya pada Raka.


"Gak semudah itu Oma sayang." Tegasnya


"Oma pokoknya gak mau tau, kamu tuh sudah 27 tahun. Sudah Wak untuk menikah." Kalimat Omanya membuat dia merasa bersalah karena jarang dirumah.


Sesampainya dirumah pun Oma masih berbicara tentang pernikahan, membuat Raka mengiyakan Omanya supaya senang. Raka hanya ingin Omanya itu diam tidak membahas tentang pernikahan lagi, tiba-tiba suara perempuan menggema di seluruh ruang. Ternyata Wulan cucu Oma Astuti tengah berkunjung kerumahnya.

__ADS_1


"Oma.......!!!!!" Teriaknya dari dalam rumah menyambut kepulangan Omanya


"Tukang rusuh." Cletuk Raka beralih ke ruang kerjanya


"Dasar es batu." Sindir Wulan.


"Oma dari mana?" Tanya Wulan yang sederi tadi menunggu Omanya dirumah sendiri walaupun ada si mbok.


"Oma tadi habis beli bunga." Jawab Oma Astuti ke cucu perempuannya itu.


"Tau gak tadi Oma ketemu sama perempuan cantik di toko itu, mana ramah banget lagi sama Oma." Tutur Oma menceritakan tentang Larasati.


'O.... Mbak Laras. Wulan kenal Oma, soalnya mbak Laras setau Wulan dia tinggal dirumah pak lek nya yang itu lho Oma. Deket rumah Lily." Ungkap Wulan.


"Ah masak." Ucap Oma Astuti yang senang mendengarnya.


"Emang bener Oma mau jodohin Abang dingin itu sama mbak Laras?" Tanya Wulan penasaran.


"Oma sih pengennya gitu, tapi emangnya mas kamu itu mau. Pasti dia bakalan nolak kayak biasanya." Ungkap Oma kecewa.


"Hem." Dengan senyum seringai Wulan memikirkan cara supaya Raka mau dijodohkan.


"Oma tenang saya, Wulan pasti bantuin Oma." Bisiknya membuat Oma tenang.


Saat jam makan siang Arman membawakan Larasati makanan, namun pas dia hendak memberikan makanan itu ke Larasati, Susan memanggilnya.


"Hayo mau ngasih apa?" Ledek Susan menatap kakak sembari tersenyum jahil.


"Kamu ngapain sih dek, gak kuliah apa? Malah main ke toko." Tegur Arman mengira adiknya sedang bolos kuliah.


"Terus kamu ngapain disini?" Tanya Arman.


"Ya karena Susan bosen dirumah ya aku kesini lah. Lha trus mas Arman sendiri ngapai??" Penasaran melihat reaksi kakaknya yang jadi aneh.


"Itu apa coba." Tunjuk-tunjuk makanan yang ada ditangan Arman.


"Kamu mau." Menawarkan itu ke Susan.


"Emang itu apa?" Tanya Susan melirik isi dalam kotak makan.


"Ya udah ini, makan aja. Jangan lupa bagi-bagi sama yang lain." Kalimat Arman yang aneh membuat Susan bingung karena makanan itu hanya ada satu kotak, tapi kenapa kakaknya menyuruhnya bagi-bagi ke yang lain.


Akhirnya Arman gagal lagi mendekati Larasati karena adiknya yang super ganggu banget. Kasian Arman pergi dengan kecewa berkali-kali, selalu saja adiknya mengganggu setiap langkahnya.


Tapi Susan teringat bukannya kakaknya sedang jatuh cinta diam-diam ke mbak Larasati, Susan pun berinisiatif memberikan makanan itu untuk Larasati. Susan pun mencari Larasati.


"Mbak Laras!" panggil Susan


"Iya, kenapa Susan." jawab Larasati menghampirinya


"Ada yang mbak bisa bantu?" tanya Larasati.


"Oh...enggak mbak, ini tadi ada titipan makanan dari mas Arman buat mbak Laras." tutur Susan memberi kode ke Larasati.


"Makanan!" ucap Larasati.

__ADS_1


"iya mbak." timpal Susan.


"Kok dikasih mbak." ucap Larasati yang masih bingung.


"Mungkin mas Arman suka kali sama mbak Laras." kode keras


"Ha!!!" Larasati Sinta membuka mulutnya karena kaget.


"Ya udah ya mbak Laras, kan yang penting Susan sudah menyampaikan dan mengantarkan makanan ini ke mbak Laras dengan selamat. Susan pergi dulu ya selamat makan." dengan nada mendayu-dayu Susan pergi.


"hehehehe, aku dah bantuin kamu mas. sekarang tinggal mas Arman yang beraksi" kekeh Susan dalam hati.


Larasati pun menelfon Arman dan berterima kasih atas makan siang yang dia berikan lewat Susan, hanya saja Larasati tidak berani bertanya atau menyinggung tentang masalah yang dibilang Susan tadi. Larasati bingung canggung jika harus bertanya apa kah benar Arman menyukainya.


Sedangkan Arman tengah berbunga-bunga mendengarnya, ternyata adiknya itu pintar. Dia tidak menyangka kalo Susan bakalan membantunya memberikan makanan itu untuk Larasati.


Setelah Larasati menelfonnya, Arman langsung menelfon adiknya dan berkata.


"Dek! Uang jajan kamu mas tambahin 2 kali lipat untuk 1 minggu kedepan."


Membuat Susan memelototkan matanya tidak percaya apa yang diucapkan kakaknya itu.


"Aa....aaa........aaaaa..... hahahaha!!!!!" tawa Susan bahagia jatah jajannya bertambah, tau gitu Susan pasti sudah bantuin kakaknya itu dari awal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2