Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Secangkir teh (part 1)


__ADS_3

Matahari bersinar dengan cerah. Memberikan udara yang cukup segar di pagi hari. Embun embun mulai menguap meninggalkan dedaunan dan rerumputan.


Tania sudah duduk di sofanya. Wajahnya terlihat segar setelah mandi. Ia bermain main dengan hpnya sesekali melirik ke tempat tidur. Noah masih terlelap dengan sangat nyenyak. Tania meletakkan hpnya di sofa dan kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur.


Tania menatap Noah. Memperhatikan setiap inci dari wajah tampan milik suamianya itu. Sesaat ia benar benar terpesona. Pria itu kini telah resmi jadi suaminya. Walaupun tak ada cinta di antara mereka tapi pernikahan adalah hal sakral yang harus di jaga.


"Sedang apa kau." Suara Noah setengah berteriak membuyarkan lamunan Tania. Sejak kapan pria itu bangun gumam Tania. Ia jadi salah tingkah kebingungan. Gelagapan seperti sedang kepergok selingkuh saja.


"Sedang apa kau." Nada suara Noah sudah naik satu oktaf. Dia sudah duduk di sisi tempat tidur. Pandangan matanya tajam menatap Tania. Tania masih diam. Bingung mau menjawab apa.


Noah berdiri dan mendekati Tania. Tania refkeks mundur menjauhi Noah. Noah terus mendekati Tania sampai akhirnya Taniah jatuh di sofa tempat ia tidur semalam. Noah membungkukan badanya, tanganya berpegangan di sandaran sofa. Mata tania membulat sempurna saat Noah mendekatkan wajanya ke wajah Tania sehingga hanya tersisa ruang beberapa senti saja.

__ADS_1


"Kau berani melotitiku." Nada suara Noah masih terdengar tinggi. Tania menggelengkan kepalanya. Rambut basahnya yang terurai menebarkan wangi sampo yang di gunakannya untuk keramas tadi. Tangannya mencengkram sofa. Seringai tipis muncul di bibir Noah ketika melihat tubuh tania yang mulai gemetar ketakutan.


"Buatkan aku teh." Noah berdiri meninggalkan Tania yang masih gemetar menuju kamar mandi.


Kenapa ini. Wajah tampannya membuat dadaku berdebar. argghhhh. Kenapa juga dia dekat dekat. Tania menggeleng gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiranya yang sudah menghayal kemana mana.


Masih dengan hati yang berdebar Tania menuruni setiap anak tangga menuju dapur. Di dapur sudah ada pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.


"Ahh iya aku ingin membuatkan teh untuk tuan Noah." Tania menjawab sambil mencari cari cangkir dan sendok.


"Biar saya buatkan Nona."Ucap pelayan itu menawarkan diri.

__ADS_1


"Ah tidak saya saja." Tania sudah menemukan cangkir dan sendok. Mengambil satu buah teh celup meletakkannya dalam cangkir. Tania sedang memanaskan air. Sekelebat wajah tampan Noah kembali memenuhi kepalanya. Arrggg. Tania kesal sendiri. Tania sudah selesai membuat teh dan membawanya ke meja makan. Di susul dengan pelayan yang membawa nampan di atas nya ada beberapa potong roti. Pelayan itu menatanya di atas meja.


"Hmm pak." Panggilan Tania menghentikan langkah kaki pelayan yang ingin kembali ke dapur. Tania masih belum tau nama pelayan itu.


"Panggli saja pak jumi non." Pelayan itu memperkenalkan diri seakan bisa membaca kebingungan Tania. "Saya kepala pelayan di rumah ini. Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Ah tidak. Lanjutkan pekerjaan bapak." Tania memanggil pelayan itu memang hanya ingin menanyakan namanya. Tapi pria itu sudah menjawab secara lengkap bahkan sebelum ia bertanya.


Tania duduk di meja makan menunggu Noah untuk sarapan. Sambil menunggu Tania mengolesi roti dengan selai dan menumpuknya menjadi dua lapis. Meletakkan dalam piring milik Noah. Mengolesi satu lagi untuknya.


"Tania." Noah berteriak dari dalam kamar. Membuat Tania jantungan saja hingga ia menjatuhkan sendok yang ia pakai untuk mengolesi selai.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2