
Noah seperti anak yang sedang beemanja pada ibunya setelah mendapat masalah besar. Sedari tadi dia terus meminta Tania memeluknya sambil membelai lembut kepalanya. Saat Tania bertanya ada apa Noah hanya diam. Tania bersandar di atas tempat tidur. Dia mengikuti permintaan Noah. Sebelum masuk kamar tidak lupa dia memutar tanda CLOSE.
"Ada apa?" Tania bertanya lagi. Tapi masih tidak ada jawaban.
drrrt drrt drrt.
Sebuah pesan masuk dari sekertaris Lee menyakan Noah sedang bersamanya atau tidak. Sebelumnya Lee juga menelpon kekantor dan juga rumah tapi tentu saja Noah tidak ada. Tania membalas pesan itu. Memberitahukan bahwa Noah memang ada bersamanya.
*****
Hari sudah mulai gelap. Noah dan Tania sudah selesai mandi. Mereka duduk ditangga. Noah masih belum bicara juga banyak juga pada Tania. Tania bingung sendiri memikirkan apa yang terjadi pada suaminya itu. Dalam kebingungan tiba tiba mobil berwarna hitam berhenti dihalaman ruko. Tania yakin itu Lee.
Dinding ruko yang terbuat dari kaca bening dengan jelas terlihat dari luar dua orang yang duduk ditangga. Lee langsung masuk disusul Nyonya Madani.
"Tuan muda saya....."
"Kau mengecewakan aku Lee. Tiga hari tanpa kabar kembali membawa wanita ini." Noah menuruni beberapa anak tangga lagi. Meraih vas bunga dan melemparnya pada Lee tepat mengenai kening Lee sampai mengucurkan darah.
"Sayang ada apa ini." Tania memeluk Noah. Dia sendiri yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi disini.
"Maafkan saya tuan. Tapi saya harap anda mendengarkan dulu apa yang ingin disampaikan Nyonya."
__ADS_1
"Saya tidak perlu dia. Saya tidak perlu dia." Berteriak lebih keras pada kalimat keduanya.
"Noah mama minta maaf." Mata Nyonya sudah mulai menganak. Dia tau tidak mudah bicara yang sebenarnya pada Noah setelah semua yang terjadi.
Mama? Tania. Dia menatap Lee meminta penjelasan. Tapi bagaimana menjelaskan saat situasi seperti ini.
"Sayang apa ini mama?
"Masuk kekamarmu." Noah tidak mengalihkan pandangan tajamnya dari Mamanya itu.
"Tidak." Tania mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu."
Tania menarik nafas dalam. Memeikirkan kata yang akan ia ucapkan agar tidak mengundang amarah Noah.
"Tuan muda anda akan sangat menyesal jika tidak mendengarkan penjelasan nyonya." Darah masih mengalir dikening Lee tapi dia tidak menyekanya sama sekali. Dia menganggap setiap tetsan darahnya adalah hukuman atas kesalahannya.
*******
Dilantai dua terdapat ruangan untuk menonton tivi. Ada sofa disana sebagai tempat duduk. Keempat orang itu sudah duduk disofa itu. Walaupun susah payah akhirnya Tania bisa membujuk Noah agar memberi mama kesempatan untuk menjelaskan.
"Baik. Atas permintaan istriku aku akan mendengarkan."
__ADS_1
Nyonya Madani menelan ludahnya getir. Lalu dengan lembut dia mulai bicara.
"Nak.... Mama tidak pergi meninggalkan kamu dan papa karna laki laki lain."
Cihh. Noah tidak percaya itu tapi dia tidak membantah.
"Kamu mungkin tidak akan percaya tapi papa yang memiliki perempuan lain."
Noah menatap tidak suka.
"Jangan menjelek jelekkan papa."
"Jessi."
Barulah saat nama Jessi disebut ada sedikit ingin tahu yang mucul dihati Noah.
"Hubungan yang sangat rumit." Mama mengambil nafas kuat kemudian menghembuskannya lagi. "Papa baru merintis usahanya dibantu oleh sekertarisnya bernama Diani itu Ibunya Jessi. Dulu dia teman semasa mama SMU. Karna itu mama percaya saat
papa menunjuknya sebagai sekertaris. Mereka sering keluar kota bersama untuk urusan bisnis."
Semua yang ada diruangan itu mendengarkan dengan antusias. Tania masih menggenggam erat Noah takut kalau amarahnya muncul lagi.
__ADS_1
"Tdak ada kecurigaan. Tapi suatu hari seorang teman melihat mereka saat diluar kota pergi kesebuah club malam. Keesokan pagi mama menghubungi staf sekertaris perusahaan tapi mereka bilang papa tidak ada urusan bisnis apapun Papa hanya izin cuti selama tiga hari dengan alasan sakit."
Ini sebuah guncangan yang sangat untuk Noah. Selama ini dia tau bagaimana ayah merawatnya hingga tumbuh besar. Atau mungkin ini alasannya kenapa ayah tidak pernah menasehatinya tentang bencinya pada mama?