
"Kemarilah." Noah menjentikkan jarinya agar Tania mendekat.
"Kau patuh sekali ya." Seringai tipis muncul disudut bibir Noah saat Tania sudah berdiri persis dihadapannya. Hanya tersisa ruang beberapa senti saja antara mereka.
"Lihat baik baik!" Menyerahkan figura itu pada Tania. "Dia sangat tampankan?" Menutup mulutnya sendiri menyembunyikan tawanya. Membayangkan bagaimana dirinya bisa seperti itu dulu. Alasan yang konyol untuk berpenampilan seperti itu. Agar tak ada orang yang tahu siapa dia sebenarnya.
"Tampan apanya. Lihat rambutnya yang keriting itu. Saya juga jelek begini punya selera bagus tuan." Terus bicara tanpa melihat Noah yang matanya sudah melotot kesal. "Dia tidak buruk tapi...." Menggantung ucapannya saat menoleh pada Noah.
"Tapi kenapa?" Noah mendekatkan wajahnya kewajah Tania. Membuat gadis itu memiringkan tubuhnya kebelakang.
"Kau lebih tampan tuan." Tania memalingkan wajahnya yang tiba tiba bersemu merah agar Noah tak melihatnya.
"Benarkah aku yang lebih tampan." Hatinya sudah membaik sekarang. Noah benar benar merasa senang gadis itu memujinya.
Tania mengangguk.
"Baiklah kalau memang aku yang lebih tampan akan kuberi tahu siapa pria itu."
Tania sudah antusias.
__ADS_1
"Itu aku." Datar.
"Hah benarkah?" Tania tertawa tak percaya. Bahkan ia memandang Noah dan pria difoto itu secara bergantian. Mencari tau dimana kemiripan kedua pria itu. Tapi ia belum menemukannya juga.
"Benar ini anda tuan?" Tania kembali tertawa. Bahkan ia sampai memegang perutnya yang terasa sakit karna tertawa. Ia sedang membayangkan bagaimana jika laki laki dihadapannya masih berpenampilan kucel dengan rambut keritingnya. Kali ini ia benar benar tertawa dari hatinya. Tanpa sadar Tania mengundang senyum dibibir Noah.
Mata Tania menangkap senyum itu. Senyum tulus yang baru pertama kali ia lihat semenjak pertama kali menikah dan tinggal bersama. Kembali memperhatikan potret masa remaja Noah.
Ternyata senyumnya ini yang membuat mirip. Kenapa dia bisa setampan ini sekarang. Gumam gumam sambil curi pandang. Senyum diwajah Noah sudah menghilang berganti dengan wajah dingin dan datarnya.
"Kau tidak mau minta maaf padaku?"Ketus bertanya setelah sekian menit sama sama terdiam.
"Kau menertawaiku tadi."
"Maaf tuan saya menertawakan anda tadi. Saya benar benar tidak tahu kalu itu anda." Patuh minta maaf.
Kenapa dia langsung minta maaf. Aku harus bicara apa lagi coba. aaa aku jadi kesal.
Sebenarnya saat ini Noah ingan bicara banyak dengan Tania. Tapi keinginannya berbanding terbalik dengan dengan gadis itu. Tania malah ingin cepat cepat tidur sekarang.
__ADS_1
"Besok pergi kesalon dan buat rambutmu bergelombang." Seringai tipis itu muncul lagi.
"Hah apa?"
Aku bahkan seumur hidupku tidak pernah berpikir merubah bentuk rambutku. Tapi dia menyuruhku seenaknya begini. Aku suka rambut ku yang lurus. hiks hiks. Menangis dalam hati.
"Itu hukumanmu." Menuding kening Tania dengan telunjuk kirinya. "Minggir. Aku mau tidur." Langsung hilang di telan selimutnya. Di balik selimut Noah tertawa tanpa suara. Ia juga membayangkan bagaimana Tania dengan rambut ikalnya.
Lihat! Pasti dia juga sedang menertawakanku. Tania melihat selimut yang bergerak akibat tawa Noah. uuugghhh. Tania mengeretakan giginya sambil melayangkan kedua tangannya yang terkepal diudara seoerti orang sedang memukul persis dekat kepala Noah.
"Kau sedang apa." Noah tiba tiba membuka selimutnya membuat Tania gelagapan.
"Banyak nyamuk tuan." Akhirnya kepelan tangannya berubah menjadi tepukan seperti benar benar sedang memburu nyamuk.
"Matikan lampu." Perintah yang menghentikan tangan Tania.
"Baik tuan. Selamat malam." Mematikan lampu dan langsung menuju sofanya.
Hiii untung aku tidak ketahuan. Tania tertawa dalam hati sebelum dia benar benar lenyap dalam tidurnya.
__ADS_1
Bersambung