
Sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Sekertaris Lee memarkirkan mobilnya dihalaman yang cukup luas. Pembicaraan panjang semalam di toko bunga membuat Noah harus sampai ditempat ini.
Seseoarang yang sepertinya memang bekerja sebagai pelayan dirumah ini datang menghampiri mereka saat turun dari mobil.
"Permisi tuan." Bibi pelayan mengangguk sopan.
"Saya mau bertemu dengan pak Broto." Lee yang bicara.
"Baik silahkan ikut saya." Noah dan Lee mengikuti langkah bibi pelayani. Saat memasuki rumah bibi pelayan bicara lagi.
"Bapak sedang tidak sehat. Beliau ada dikamarnya." Sambil terus melangkah menaiki tangga lantai dua menuju kamar.
"Silahkan masuk tuan." Bibi membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Tampak diatas tempat tidur seorang laki laki tua terbaring lemah sambil terbatuk. Laki laki ini yang bekerja dikeluarga Noah sebagai pengacara sebelum digantikan pengacara baru tiga tahun lalu. Wajahnya terlihat terkejut saat melihat tamu yang datang.
"Kalau anda tidak sehat berbaring saja tuan." Lee bicara saat pak Broto bangun dan bersandar di kepala tempat tidur.
"Saya tidak apa apa. Ada apa?" Lee duduk di samping sisi tempat tidur. Sementara Noah duduk di kursi yang diambil pelayan tadi sebelum dia keluar dari kamar.
"Pak Broto. Bapak sudah lama bekerja dengan ayah saya. Bapak pasti tahukan tentang ayah." Kening pak Broto berkerut. Dia belum bisa menduga arah pembicaraan Noah.
"Iya..." Pak Broto mengangguk.
Merasa bahwa mungkin ini waktu yang tepat, pak Brotopun menceritakan semuanya. Sama persis dengan cerita nyonya Madani. Hingga sampailah kepada pewaris perusahaan.
"Jadi kenapa bisa perusahaan itu di wariskan kepada Jesi?" Bagaimana mungkin aanak tidak sah yang mewarisi semua kekayaan ayahnya. Noah semakin penasaran. Sementara Lee menyimak dan menghafal pembicaraan itu dikepalanya.
__ADS_1
"Tidak. Anak itu tidak punya hak apapun dalam perusahaan."
"Tapi surat wasiat itu menyatakan...." Noah memotong kalimat pak Broto.
Pak Broto menggeleng.
"Perusahaan itu hanya memiliki pewaris tunggal yaitu kamu. Tuan muda dari keluarga Arindra. Anak itu tidak memiliki hak apa apa." Pak Broto beringsut dari duduknya. Lee cepat tanggap mendorong kursi roda yang coba di raih Pak Broto. Setelah duduk di kursi roda beliau meminta Lee untuk mengantarnya keruang kerja. Tempat dimana dulu dia sering menghabiskan waktunya ketika malam tiba. Berkutat dengan masalah pekerjaanya.
"Ini dia." Pak Broto menyerahkan sebuah berkas yang sudah tampak kusam dan lusuh. "Itu surat wasiat yang di tulis tangan oleh ayahmu. Itu bisa menjadi bukti bahwa hanya kamu satu satunya pewaris."
Noah tampak menarik nafas panjang. Merasa ada angin segar. Baiklah dia akan membalas perbuatan Jessi. Tanpa diminta Lee yang tau apa yang dipikirkan majikannya menghubungi semua staf dan orang orang kepercayaannya di perusahaan. Dia akan membiarkan jessi menikmati kemenangannya yang sesaat.
Adakan orang yang merasa pintar tetapi kenyataannya bodoh. Itulah jessi. Dia tertawa puas berhasil menyogok pengacara dan memalsukan surat wasiat. Dia merasa sudah menang bahkan membuat rencana perayaan untuk penyambutannya sebagai pimpinan tertinggi baru diperusahaan.
__ADS_1
Setidaknya jika aku tidak bisa mendapatkan Noah, hartanya juga lebih dari cukup.