
Noah kembali kekantor dan sudah berada di ruangannya. Kemarahannya meluap luap. Emosinya tak terkendali. Segala barang yang ada di atas meja kerjanya sudah berhamburan ke lantai. Tak peduli dengan barang dan berkas berkas penting.
Sementara tak jauh dari Noah, Lee berdiri sambil tertunduk lesu. Ini adalah kesalahannya. Seharusnya dia bisa memastikan apa yang di inginkan tuannya berjalan dengan semestinya namun kali ini ia gagal.
Noah berjalan mendekati Lee. Wajahnya memerah karna amarah persis seperti kepiting rebus.
Plak..
Sebuah tamparan keras menghantam pipi Lee. Membuat ia terhuyung kebelakang. Pipinya terasa penas tapi ia tak berani untuk mengusapnya.
"Apa kau sudah bosan bekerja denganku eh" Noah mencengkram kerah kemeja Lee. Nafasnya memburu.
"Maafkan saya tuan. " Suara Lee terdengar gemetar. Noah melepaskan Lee mendorongnya hingga membentur dinding. Jika benar Lee di pecat maka jangan harap dia mendapat tempat yg layak di luar sana.
__ADS_1
"Apa mereka mau menipuku begitu? " Noah sudah duduk di sofa. Nafasnya sudah mulai teratur. "Apa mereka belum tau siapa aku sebenarnya. Dan gadis itu aku benci sekali wajah polosnya. " Sekelebat bayangan wajah Tania memenuhi pikirannya. Lalu kemudian dia tersenyum sinis. "Rupanya anak pungut itu juga ingin bermain main denganku Lee." Noah menatap Lee yang sama sekali tak bergeming.
"Duduk lah. " Perintahnya pada Lee sembari menunjuk sofa di depannya dengan ekor matanya. Lee pun duduk. "Apa sakit? " Lee meraba pipinya dan kemudian menggeleng. Pipi ku sakit tuaan sakit sekali. Tapi mana berani Lee mengatakannya.
"Maaf." Sambung Noah.
"Tidak tuan seharusnya saya yang minta maaf. Ini kesalahan saya. Dan saya pantas menerima hukuman ini. "
"Baik Tuan. "
Kalian mau mempermainkanku. Bagaimana kalian bisa seberani itu untuk menikahkan aku dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya. Dan kau gadis bodoh aku juga akan bermain main denganmu. Noah.
**
__ADS_1
Sementara di tempat lain Tania masih belum bisa meredam kesedihannya. Tania sesengukan di balik bantal. Putri terus mencoba menghiburnya. Membelai rambut Tania seperti seorang ibu yang menidurkan putri kecilnya.
"Sudah Put kamu pulang saja. "
"Tidak Tania bagaimana mungkin aku meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini."
"Aku tidak apa apa." Tania mengusap air matanya menggunakan tissu. "Lihat aku baik baik saja kan. " Tania mencoba tersenyum secerah mungkin meyakinkan Putri akan keadaannya. Terutama meyakinkan hatinya sendiri bahwa ia baik baik saja, bahwa ia gadis kuat yang setegar karang.
Setelah Tania benar benar bisa menguasai dirinya. Putri pun akhirnya pamit pulang dengan hati yang tenang. Setelah berpamitan dengan Pak Edi dan Bu Tanti, Putripun pergi meninggalkan rumah itu.
Tania memang harus sekuat karang. Jika Noah benar benar pria yang kasar maka ia akan menghadapi dengan kelembutan hatinya. Karna api hanya bisa di padamkan dengan air. Meski ia sendiri tak tahu apakah nanti ia mampu melewati semua dengan baik. Tapi itulah yang ada dalam rencananya. Jika ia menikah dengan terpaksa. Tapi pernikahan tetaplah pernikahan. Dan impian semua orang adalah menikah hanya sekali seumur hidup. Begitu juga dengan Tania. Ia akan menjalani pernikahan itu. Seperti nasi yang sudah jadi bubur ia akan membuat bubur itu bisa di nikmati dengan baik.
bersambung...
__ADS_1