Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Coklat dan bunga (part 2)


__ADS_3

Tania melempar tasnya asal ke atas tempat tidur milik suaminya itu. Ikut menjatuhkan dirinya juga. Semua anggota tubuhnya merasa sangat lelah akibat pekerjaanya yang begitu banyak. Bahkan lidahnyapun terasa lelah walau hanya untuk bergumam.


Tangannya meraba raba sesuatu dibawah selimut. Apa ini gumamnya sambil berdiri dan menarik selimut hingga jatuh di lantai.


Matanya bulat sempurna mulutnya menganga tapi tidak mengeluarkan suara. Ada puluhan keping coklat bertaburan dari merek terkenal. Ini adalah kesukaan Tania. Dari ukuran kantong anak yatim piatu yang bersandar hidup pada orang asing harga coklat ini cukup mahal. Tania hanya bisa membelinya dua buah keping coklat dalam sebulan atau kadang tidak sama sekali.


Biasanya Tania selalu makan coklat jika dia sedang gusar. Kata orang coklat bisa memperbaiki suasana hati. Namun bagi Tania itu bukannya hanya sekedar omongan. Melainkan kenyataan.


Apa ini sebuah kejutan untukku, Tadi ditoko ada yang memberiku bunga dan sekarang coklat. Apa ini dari Noah ya. Pikiran Tania menerka nerka. Lalu ia mengambil satu coklat dan berjalan keluar kamar.


Sepanjang menuruni tangga ia terus tersenyum. Hatinya berdetak lebih cepat. Giginya tampak rapi dan putih. Ia begitu cantik dengan senyumnya sekarang. Mengetuk pintu ruang kerja Noah. Dari dalam ia mendengar seseoarng sedang membaca. Tidak terlalu keras tapi bisa didengar Tania.


"Masuk."


Noah meletakkan buku yang ia baca dirak bukunya yang besar setelah Tania muncul dari balik pintu. Senyumnya yang begitu manis masih siaga dibibirnya. Noah terpersona dengan senyum itu.

__ADS_1


"Ada apa?" Pura pura tidak tahu apa yang membuat gadis itu bisa sesenang ini.


"Ini." Menggoyang goyangkan coklatnya.


"Kenapa dengan itu." Menunjuk dengan ekor matanya. Masih pura pura tidak tahu.


"Aaah jangan pura pura. Aku tau ini semua anda yang melakukannya."


Tentu aku yang melakukannya untukmu. Memangnya siapa lagi. Dasar bodoh. Kenapa harus sampai bertanya dulu sih.


"Tidak bukan aku." Masih mengelak.


"Kau berani ya." Menuding kening Tania. Membuat gadis itu dengan cepat melepaskan pelukannya.


" Maafkan saya, maafkan saya tuan." Tania mengulang ucapannya sambil menundukkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Sana keluar."


"Iya baik." Tania sedikit kecewa. Dia berharap tadi pria itu akan membiarkanya bersandar pada dada bidang itu sedikit lebih lama. Tapi sudahlah ia harus sadar diri.


"Eh sekertaris Lee." Laki laki itu sudah berdiri di depan pintu hendak masuk. Tania menyapanya sembari tersenyum saat keluar dari ruangan itu.


Sekertatis Lee hanya menunduk tapi raut mukanya tidak sebaik seperti biasanya. Kenapa laki laki itu gumam Tania.


"Tuan." Sekertaris Lee mengahampiri Noah yang sudah kembali duduk dimeja kerjanya. Mata Lee bisa membaca rona bahagia yang terpancar dari wajah Noah. Meskipun begitu ia tetap bertanya untuk memastikan.


"Apa yang membuat anda seaenang ini tuan." Meletakkan sebuah berkas di atas meja.


"Hahaha." Noah tertawa. Membuat Lee merinding. Kapan laki laki ini terakhir kali tertawa bahagia seperti ini.


"Carilah istri Lee. Supaya kau tau bahagianya punya pasangan." Ucap Noah diujung tawanya. "Aku sangat bahagia tadi saat melihatnya sesenang itu." Noah bersandar dikursinya. Memejamkan matanya membayangkan bagaimana gadis itu memeluknya tadi.

__ADS_1


Sementara laki laki dihadapannya hanya tersenyum getir. Ada rasa sesak didadanya.


Bersambung


__ADS_2