
Mobil yang di kemudikan oleh Putri melaju kencang menyusuri jalan kota. Sudah hampir setengah jam mereka berada dalam mobil. Tania yang tak tau dengan tujuan sudah mulai tidak sabaran.
"Kita mau kemana sih Put. Badan ku udah pegal nih kelamaan duduk." Keluh Tania dengan wajah cemberut. Tapi Putri hanya diam. Selang Sepuluh menit Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah ruko.
Ruko yang tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Tempat apa ini. Tania Tampak bingung.
"Ayo." Putri menarik tangan Tania membawanya masuk ke dalam ruko. Ruko ini terdapat dua lantai. "Kejutaaan." Putri merentangkan kedua tanhannya. Ayahku yang membelikannya Tan." Jelas Putri saat sudah berada di dalam ruko. Tania pun mengedarkan pandangannya keberbagai sudut ruangan yang sudah terdapat berbagai macam bunga. Tania masuh belum mengerti dengan maksud Putri membawanya kemari.
"Bukankah kamu ingin bekerja Tania? Jadi kamu bisa bekerja di sini. Kita akan buka toko bunga bersama. Bagaimana?" Putri begitu antusias.
"Hah. Kamu tidak sedang bercandakan put." Tania masih belum percaya.
"ngga Tan." Jawab Putri seraya duduk di kursi yang ada di dalam ruko itu. Tania pun ikut duduk di sampingnya. Putri menggenggam tangan Tania.
" Aku tau Tania. Kamu ingin terbebas dari keluarga Sarah. Jadi aku berfikir kalau kamu cepat mendapat pekerjan kamu pun bisa lebih cepat keluar dari rumah itu."
Tania begitu terharu dengan ucapan Putri. Matanya sudah berkaca kaca menahan bendungan tangisnya, namun akhirnya jatuh juga. Tania pun memeluk Putri dengan erat.
" Terimakasih Put. Kamu memang sahabat yang baik. Seharus nya keluargakulah yang memberiku perhatian seperti ini. Tapi mereka sama sekali tidak peduli. Hubunganku seakan terputus dengan mereka."
__ADS_1
"Tania. Masih ada aku. Aku keluarga kamu sekarang."
Tania benar benar merasa beruntung punya sahabat yang sangat baik seperti Putri.
Setelah selesai di Ruko mereka pun menghabiskan waktu mereka untuk jalan jalan. Mereka terlihat sangat bahagia. Apa lagi Tania. Ia seakan bisa melupakan derita yang di rasakannya selama ini.
*
Malampun menjelang. Tania dan Putripun sudah ada di rumah masing masing. Mungkin Putri pun sudah terlelap di atas kasur empuknya. Tapi berbeda dengan Tania yang masih ada di ruang keluarga setelah Pak Edi mengatakan ingin bicara dengannya. Pak Edi ingin membicarakan perihal beberapa hari yang lalu tentang persyaratan dari presdir Arindra Group.
Saat itu....
Perkataan Sarah di setujui oleh Pak Edi. Karna memang itulah rencananya yang sebenarnya. Dan hari ini ia harus menyampaikannya pada Tania karna waktu yang di berikan oleh Noah untuk memenuhi syaratnya hanya satu bulan dari awal pertemuan mereka. Dan sekarang waktunya hanya tersisa dua puluh satu hari lagi.
"Tania." Pak Edi membuka pembicaraan. Sementara di sampingnya Sarah dan Bu tanti sedang tersenyum penuh kemenangan."Om mau kamu menikah dengan presdir dari arindra group."
Deg...
Jutaan anak panah seakan menancap tepat di ulu hatinya. Apa apaan ini. Batinnya.
__ADS_1
Wajah Tania berubah pias. Kenapa seenaknya saja Pak Edi mau menikahkannya dengan orang yang sama sekali belum di kenalnya.
"Benar Tania. Ini demi kebaikan kita semua" Bu Tanti menimpali dengan ringan sambil tersenyum. Senyum tulus yang di buat buat.
"Bukankah beberapa hari yang lalu kamu mengatakan jika ada sesuatu yang bisa kamu lakukan untuk membalas kebaikan kami maka kamu akan melakukannya. Dan ini lah caranya Tania." Sambung Bu Tanti mengingatkannya pada janji yang ia ucapkan.
Aaa iya iya. Janji. Aku memang mengucapkannya. Tapi aku tidak tau kalian akan menagihnya dengan cara seperti ini .
Tania ingin menolak. Tapi jangankan untuk bicara rasanya untuk bernafas saja ia tak sanggup lagi. Menggelengpun tidak akan ada artinya.
" Tania, om mohon kamu jangan menolaknya. Perusahaan om sedang di ambang kebangkrutan dan hanya perusahaan mereka yang bisa membantu kita Tania. " Pak Edi memandang nya dengan sorot mata memohon.
Oh ini demi perusahaan kalian. jadi aku di jual begitu. Memilukan sekali hidup ku.
"Baik." Hanya itu kata yang terlontar dari bibir Tania. Ahh seharusnya ia menolaknya kan. Tapi ia benar benar tak punya keberanian.
Baru saja tadi siang ia merasakan ada angin surga menerpanya saat ia menemukan cara untuk keluar dari rumah ini. Namun ternyata ia semakin tak bisa bebas dari kelurga ini. Seakan sebuah rantai pengikat kini sudah tergantung di lehernya. Kebaikan yang di dapatnya hanya selama tiga tahun ini harus di bayarnya dengan seluruh hidup dan tubuhnya. Bukankah ini tidak adil untuk Tania.
Di kamarnya Tania terisak. Hari ulang tahun yang seharus nya membuatnya bahagia tapi malah ia mendapat kado terburuk dari orang yang selama ini ia anggap malaikat. Ya. Bagi Tania dulu Pak edi adalah malaikat penolongnya. Karna berkat Pak edi ia bisa hidup layak selama tiga tahun ini.
__ADS_1
Bersambung.