
Waktu dua minggu begitu cepat berlalu. Tapi juga begitu mengesankan bagi keduanya. Rasanya baru kemarin mereka bertemu dan hari ini Putri juga telah resmi dipersunting oleh seorang dokter muda spesialis kandungan.
Tania duduk sendirian. Dia terlihat menghindar dari keramaian. Menikmati minuman yang disuguhkan padanya oleh pelayan tadi. Pikirannya menerawang. Seharus dia benar benar bahagia melihat sahabatnya bahagia. Tapi ada kesedihan yang lebih besar. Rasa kehilangan yang menyelimuti hatinya.
Hari ini adalah hari Tania kehilangan semuanya. Kasih sayang, cinta. Dia kehilangan orang yg selama beberapa tahun belakangan menjadi ibu dan ayah. Yang menjadi kakak dan teman. Mulai hari ini dia benar benar harus berdiri sendiri. Berdiri dengan kedua kakinya.
Eh kok jadi hening begini. Kenapa juga mereka melihatku. Eh bukan tapi.....
Saat tersadar dari lamunan dia baru menyadari bahwa suasana sudah begitu hening entah sejak beberapa menit lalu dia tidak tahu. Dia menoleh kebelakang tempat dimana menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
"Noah." Tania gagap berdiri sampai pinggangnya membentur meja. Matanya bertemu dengan tatapan tajam Noah.
"Kenapa? Kau tidak senang aku ada disini."
Mata bulat Noah semakin tajam menatap Tania. Suara Noah seakan menyapu telinga setiap orang disana.
"Tidak bukan begitu tuan." Tania sedang memikirkan cara untuk mengusir pria aneh ini dari acara pernikahan. Lihatkan keadaan yang tadi menyenangkan jadi tegang begini.
__ADS_1
"Sayang panggil aku sayang." Berbisik ditelinga Tania. Bahkan nafasnya terasa berhembus didaun telinga Tania. Walau berbisik tapi itu sebuah ancaman. Seperti mengatakan habis kau kalau membantah.
"Sayang mari duduk." Akhirnya menyerah. Tania tidak menemukan cara untuk mengusir pria dihadapannya ini. Menarik tangan Noah agar duduk disampingnya.
Setelah Noah duduk para tamu undangan yang tadi seperti patung sudah bisa bernafas lega. Musik juga sudah kembali menghibur. Putri juga sudah bisa tenang sekarang. Tapi urusan dua orang ini belum selesai.
"Hei mau kemana." Noah menarik tangan Tania yang sudah berdiri hendak meninggalkannya.
"Mau mengambil minum tuan... eh sayang." Mengganti panggilannya saat melihat tatapan tajam Noah lagi.
"Cepat sana." Berbicara pada Tania yang sudah melangkah pergi.
"Tidak apa apa." Kata kata yang selalu jadi andalan Tania supaya tidak membuat orang sekitarnya kuatir.
Noah menarik nafasnya dalam. Tania bahkan bisa mendengar hembusannya. Noah paling tidak suka ada orang yang menutupi sesuatu darinya.
"Aku hanya terharu." Berbicara tanpa melihat Noah.
__ADS_1
"Hei kau mau kemana lagi." Tania tidak menghiraukan Noah. Dia terus melangkah menuju pelaminan. Sejak datang tadi bahkan dia belum menemui Putri sama sekali.
"Tania."
"Putri."
Mereka berpelukan erat dan lama sekali. Seakan mereka benar benar akan berpisah untuk selamanya. Bahkan Tania sampai mengeluarkan air matanya.
"Ehemm kalian melupakanku." Ini dia lelaki yang menjadi suami Putri. Berperawakan sedang dengan kulit putihnya. Namanya Tio. Beberapa hari lalu Putri membawanya ketoko bunga.
"Eh iya selamat ya."Mengulurkan tangan " Jaga temanku ok."
"Ok." Menerima jabatan Tangan Tania. Lalu kemudian mereka bertiga tertawa. Tapi beberapa saat kemudian tawa mereka berhenti. Suasana kembali hening. Janya suara hentakan sepatu saat menaiki pelamianan. Noah.
"Selamat ya." Noah tersenyum bahkan dia mengulurkan tanganya mengucapkan selamat. Putri menerimanya dengan tatapan tidak percaya begitu pula dengan Tio.
Tio juga mengenal siapa Noah, bahkan beberapa waktu lalu mereka sempat bertemu.
__ADS_1
"Kau tidak lupa dengan janjimukan?" Seringai licik muncul bersamaan dengan kalimatnya. Dia meninggalkan kedua pengantin itu menyusul Tania yang sudah pergi duluan.
Disudut ruangan yang lain terlihat seorang wanita sedang geram. Dia mengepalkan kedua tangannya. Mungkin sudah saatnya dia memakai kartu andalanya.