
Masih dalam suasana yang cukup canggung semua yang ada diruangan itu masih mendengarkan nyonya Madani untuk bicara.
Noah menatap wanita paruh baya dihadapannya ini dengan tatapan menyelidik. Apa benar semua yang di katakannya? Rasa benci yang tumbuh dihatinya selama ini benar benar membuat dia tidak percaya. Bagaimana ayah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, ayah yang selalu dibanggakannya sudah membohonginya sampai sebesar ini.
Keberadaan Tania disampingnya masih menggenggam erat tangannya membawa dampak yang besar. Noah merasa ada kekuatan yang dialirkan wanita disampingnya. Gadis yang ia cintai dengan sepenuh hatinya.
"Mama menunggu kehadiran kamu dalam hidup mama selama empat tahun nak. Sampai akhirnya Tuhan memberikan kamu sebagai anugrahnya untuk penguat hari hari mama. Saat kamu umur dua bulan saat itulah mama mendengar tentang ayah kamu di club malam itu." Ada butiran bening di sudut mata nyonya Madani yang coba di tahannya. Kerinduan dari tatapan matanya pada Noah. Dia ingin memeluk putra semata wayangnya ini tapi dia tau tidak akan semudah itu untuk melakukannya. Dia melanjutkan lagi ceritanya walau diiringi desahan tidak suka dari Noah.
"Ya mama menahan semua kelakuan ayah kamu selama tiga tahun dengan wanita itu. Saat mereka berhubungan Diani ternyata sedang mengandung Jessi. Saat anak itu berumur dua tahun, dan kamu nerumur tiga tahun ayah memutuskan hubungannya dengan Diani entah karena apa mama tidak tahu. Mama pikir ayah berubah tapi tidak dia mengulanginya lagi dan kamu masih terlalu kecih untuk memahami semua itu. Mama hanya bertahan demi melihat kamu tumbuh besar dan sehat sampai akhirnya mama benar benar tidak bisa menahan lagi." Nyonya Madani sudah terisak. Tubuhnya terasa lunglai. Kenangan pahit yang sudah dikuburnya dari bertahun tahun lalu harus kembali melintas dibenaknya.
"Jadi aku dan Jessi bersaudara." Keingin tahuan Noah sepertinya sudah mulai meredakan amarahnya.
__ADS_1
"Tidak." Nyonya Madani menjawab cepat. Terlihat jelas kebingungan diwajah Noah Tania dan juga sekertaris Lee. "Dia ternyata punya laki laki lain. Dia hanya memanfaatkan ayah untuk kesenangannya dengan pria itu."
Cihh. Noah menggeram kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya. Jadi sifat materialistis itu diturunkan dari ibunya.
"Mama hanya mau hubungan kita membaik saja. Jangan membenci ayah bagaimanapun juga dia sangat menyayangi kamu."
"Tidak. Kalau dia menyayangiku dia tidak akan memberikan perusahaannya pada Jessi."
"Tidak nak. Mama tidak yakin Ayah melakukan itu. Pasti perempuan itu. Dia licik."
Noah sudah memberikan tatapan kerinduan pada nyonya Madani.
__ADS_1
"Maafkan aku ma. Dengan ketidak tahuan ku membenci dirimu." Kalimat yang diucapkan Noah dengan penuh ketulusan. Tania di sampingnya tersenyum tipis dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia tau suaminya ini pemaaf dan berhati hangat.
***
Di tempat lain disebuah apartemen. Seorang gadis duduk dengan bangga dan penuh percaya diri. Dihadapannya juga duduk seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang elegan.
"Aku puas ma. Wajahnya itu..." Jesi menyeringai penuh kemenangan. Membayangkan bagaimana terkejutnya Noah.
"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah pengacara itu. Syarat lima persen saham kita harus memberinya." Diani mengingatkan anaknya tentang janjinya pada pengacara keluarga Noah.
"Ternyata mengajaknya kerja sama bukan hal yang sulit. Uang memang bisa melakukan segalanya."
__ADS_1
Mereka mengangkat gelas minuman mereka. Sebagai perayaan kemenangan. Tapi mereka terlalu percaya diri sampai lupa bahwa Noah bukanlah pria sembarangan. Kemenangan sesaat yang akan menghancurkan mereka selamanya.