
Noah sudah masuk kekamarnya tanpa mempedulikan Jessi yang berusaha menghentikan langkahnya. Dia seperti makhluk halus sekarang. Tak ada satupun yang peduli bahwa ia masih berada dirumah itu.
Lee memanggil para pelayan termasuk Pak Jumi. Dialah inti dari kekacauan ini. Pada hal Lee sudah memberi ultimatum agar tidak menerima tamu sembarangan.
"Siapa yang mengizinkannya masuk?" Tatapan Lee sudah mengintimidasi semua pelayan.
"Sa.. sa.. saya tuan." Pak Jumi maju satu langkah mewakili para anak buahnya.
Plak!!! Tqmparan dipipi kanan. Hukuman pertama yang harus diterima Pak Jumi. Tamparan itu adalah hukuman paling terkecil yang ada dirumah ini."
"Kau sudah bosan bekerja disini." Lee menepukan tangannya seperti orang yang sedang membersihkan talapak tangan dari debu debu yang menempel.
Jessi sudah berada persis dihadapan Lee. Dia merasa bersalah karna dirinya orang orang tidak bersalah harus terlibat dan mendapat masalah.
"Lee aku yang salah jangan hukum dia." Jessi menatap iba Pak Jumi. Tapi Lee tidak peduli.
__ADS_1
"Aku sudah pernah tegaskan pada kalian agar tidak menerima tamu sembarangan."
Lee menunjuk Pak Jumi dengan tangan kirinya. Sebagai kepala pelayan dia tidak hanya mengurus masalah dapur tapi juga dia bertanggung jawab dengan keamanan rumah ini.
"Maaf tuan tapi nona Jessi mengatakan kalau dia adalah teman tuan muda." Mencoba membela diri tapi apa yang diterimanya.
Plak!! Sebuah tamparan lagi dipipi kiri.
"Apa aku menyuruhmu untuk menjawab. Seharusnya kau berpikir dulu sebelum bicara."
"Satu bulan ini bekerjalah dengan baik. Kau Pak Jumi tidak ada gaji untukmu bulan ini."
Para pelayan terlihat bernafas lega. Terutama pak Jumi. Dia masih beruntung tidak dikeluarkan dari rumah ini. Karna kalau sampai itu terjadi sudah dipastikan dia akan jadi gembel diluar sana.
"Maafkan saya ya Pak Jum." Jessi menepuk nepuk bahu pak Jumi.
__ADS_1
Ini semua karna anda nona. Hanya bisa mendelik tajam. Dia tau bahwa dirinya hanyalah pelayan.
Lee membuka pintu kamar Noah dengan sangat hati hati. Benar saja kejadian yang sama beberapa tahun lalu itu terulang lagi. Noah terlihat begitu kacau. Dia duduk disudut tempat tidurnya berulang kali memperhatikan layar ponselnya. Lee mendekat memperhatikan majikannya itu. Sesaat kemudian hp yang ada di genggaman Noah melayang persis didepan wajah Lee menghantam cermin yang ada disudut kamar hingga pecah berantakan. Satu langkah lagi mungkin keningnya Lee yang akan pecah terkena benda keras itu.
"Aku menelfonya tapi tidak terhubung. Mungkin hp ku rusak. Hahaha." Noah tertawa.
Lee dibuat merinding oleh tawanya. Itu bukan tawa lucu tapi tawa yang berasal dari alam bawah sadar Noah. Benar benar miris. Siapapun akan kasihan melihat keadaan Noah saat ini hingga membuat orang orang akan lupa dengan rumor bahwa Noah laki laki kejam yang berdarah dingin.
Sekali lagi dia tertawa dan sedetik kemudian berubah dengan kesedihan. Lee mengguncang tubuh Noah agar kesadarannya kembali. Tapi tidak berhasil Noah semakin tidak bisa menguasai dirinya. Semakin lama tubuhnya semakin melemah. Dan akhirnya ambruk tidak sadarkan diri.
Epilog
Ditoko buga Tania menepuk nepuk pelan dadanya yang terasa sesak. Ada perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya. Kepalanya hanya dipenuhi pikiran tentang Noah.
Bersambung
__ADS_1