Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Menitipkan sesuatu yang berharga


__ADS_3

"Mba kenapa?" Tanya kedua wanita itu hampir bersamaan.


"Tidak apa apa. Tadi ada tikus hehe."


Kedua wanita itu saling pandang. Jelas jelas mereka mendengar dengan jelas kata yang di teriakan Putri Tadi. Apa lagi kata bertelanjang dada itu dengan jelas mereka tangkap. Pikiran kedua wanita itu berkelana kemana mana.


Putri sudah duduk dimeja kasir. Sambil menundukkan kepala dia menatap dua wanita itu sehingga terlihat seperti orang melotot. Dia sebenarnya tau dua wanita itu pasti mendengar ucapannya tadi. Mereka pasti tidak percaya dengan jawabanku tadi. Ucap Putri dalam hati seakan bisa membaca apa yang dipikirkan dua wanita dihadapannya itu.


Sesaat kemudian Noah turun dari lantai dua. Ketampanannya membuat dua wanita tadi benar benar terpesona. Seperti baru mendapat riski dari langit. Bisa melihat secara langsung wajah presdir dari perusahaan Arindra Group itu adalah suatu keberuntungan yang besar dan juga akan membuat iri seluruh wanita dipenjuru kota ini. Dua wanita itu saling berpegangan tangan seakan mereka memikirkan hal yang sama.


Noah melewati dua wanita itu tanpa menoleh sedikitpun. Tidak peduli bagaimana mereka berusaha agar terlihat mempesona dihadapan Noah. Mereka lupa dengan tujuan datang ketoko ini. Sementara Putri sudah merasa takut. Ia hanya menunduk sedikitpun dia tak berani menatap Noah.


Noah sudah memegang handle pintu toko. Tapi sesuatu membuatnya membalikan badan dan berjalan kearah Putri. Langkah kakinya mengintimidasi dan tatapannya seakan membunuh.


"Angkat kepalamu." Noah sudah berdiri persis dihadapan putri.

__ADS_1


"Kau tidak dengar." Nada suara Noah naik satu oktaf saat melihat Putri semakin menunduk dalam. Sementara dua wanita yang tadi sudah ciut. Mereka sudah sembunyi dibalik rak bunga.


Akhirnya setelah ketiga kalinya Noah berteriak Putri mengangkat kepalanya juga. Tatapanya langsung bertemu dengan tatapan tajam milik Noah. Membuat bulu kudunya merinding.


Apa dia akan mencekik leherku sekarang. Tapi salahnya juga yang tidak menutup pintu kamar. Lagiankan ini toko milikku aku yang berkuasa disini. Hei kemana keberanianmu Putri.


Cihh. Noah mendengus kesal saat melihat tangan Putri mulai gemetaran. Apa aku semenakutkan itu sampai kau tidak berani menatapku dan tanganmu gemetaran.


"Aku titipkan sesuatu milikku yang paling berharga disini. Kau jaga dia baik baik. Kalau sampai dia terluka walau seujung kukupun kau berurusan denganku." Ultimatum tegas Noah. Kemudian dia berlalu pergi begitu saja.


"Maaf mba tokonya harus tutup sekarang. Maaf saya tidak bisa melayani anda." Putri sudah memutar lagi tanda CLOSEnya dan membukakan pintu untuk keduanya. Mereka pergi dengan wajah masam.


"Tania." Berteriak sambil mengepalkan kedua tangannya.


**

__ADS_1


"Apa yang membuat anda sesenang ini tuan?" Lee langsung bertanya saat melihat wajah tuan mudanya berseri seri.


"Rahasia." Lee memutar bola matanya mendengar jawaban Noah.


Sementara Noah masih tersenyum senyum sambil membaca buku ditangannya. Buku itu tidak berisi hal hal lucu tapi dia sedang membayangkan hal yang dilewatinya bersama Tania sore tadi.


Cihh.Dia memanggilku keruang kerjanya. Tapi malah sibuk sendiri begitu. Sepulangnya tadi dia tidak berhenti tersenyum.


"Kau kesal." Senyum Noah hilang. Matanya menatap tajam saat mendengar hembusan nafas Lee labih kencang dari biasanya.


"Tidak tuan. Mana mungkin saya berani kesal dengan anda." Kalau dalam hati sih berani.


Noah sudah meletakkan bukunya. Dia berdiri dekat jendela. Pandangannyaenerawang jauh kelangit yang masih gelap karna faktor hujan sore tadi.


"Kau sudah mengurusnya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2