Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Ini siapa? (part 1)


__ADS_3

Tania sedang mencuci alat masak di dapur bekas dia memasak untuk sarapan pagi. Tapi Noah tidak mau memakan masakan Tania. Sepertinya Noah masih trauma dengan teh asin hari itu.


Hukuman Tania harus membereskan rumah hari ini. Makanya semua pelayan hari ini di liburkan. Tapi bagi Tania ini hal kecil. Bahkan dulu saat ia tinggal di rumah pak Edi yang di alaminya lebih dari pada ini. Ingatannya kembali pada masa msas sulit ia tinggal di rumah itu.


Flashback


"Enak yah kamu tidur tiduran santai. Kamu lihat pekerjaan rumah banyak. Jangan pikir kamu bisa tinggal dengan gratis di rumah ini setelah apa yang kami berikan padamu." Bu Tanti menyeretnya dari kamar hingga ia terjatuh di tangga. Kamar Tania berada di lantai dua. Kamar dengan ukuran kecil.


"Aww sakit." Tania meringis. Rupanya tanganya terkilir karna menahan berat tubuhnya agar tidak membentur lantai.


"Ahh jangan banyak alasan." Tanpa perasaan Sarah menyeretnya lagi ke dapur. Dengan tangan yang sakit Tania kala itu tetap membantu para pelayan di dapur. Hidupnya kala itu sudah seperti dalam cerita legenda bawang putih dan bawang merah


Pranggggg...


Tania tersadar dari lamunanya karna tanpa sengaja ia menjatuhkan piring hingga pecah berantakkan.


Ahh kenapa hidupku seperti ini. Aku seperti bebas dari kandang harimau lalu masuk ke kandang serigala.


Tania membersihkan pecahan piring memungutnya satu persatu dengan tangannya. Tanpa sengaja tangannya terluka hingga mengeluarkan darah.

__ADS_1


Tania mengambil kotak P3K di laci lemari dekat ruang TV setelah tadi bertanya pada pak Jumi yang kebetulan kedapur untuk memeriksa apa yang terjadi.


"Ahh ini dia." Tania langsung mengobati lukanya membalutnya dengan perban. Lukanya tidak terlalu dalam tapi kalo di biarkan bisa infeksi juga.


Tania memasukkan kembali kotak P3Knya ke dalam laci tapi ia menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran. Foto seorang laki laki dengan seragam SMA memakai kacamata bening tersenyum ke arah kamera.


"Ini foto siapa? Aku seperti sudah pernah lihat orangnya tapi di mana yah." Tania memperhatikan lekat lekat foto yang sedang ada di genggamannya itu. Tapi ia tak ingat di mana melihat pria itu tapi wajahnya benar benar tidak asing. "Ahh nanti aku tanya Noah saja."


Trrrrrtt


Ponsel Tania berdering. Panggilan masuk dari Putri. Tania memajang foto tadi diatas lemari dan menjawab panggilan Putri sambil melangkah kedapur.


"Halo Put." Tania langsung menjauhkan Ponsel dari telinganya.


"Apaansih Put teriak teriak. Aku belum tuli kali." Tania merajuk.


"Hehe iya maaf maaf. Jadi kenapa ngga ke toko?"


"Hmmm iya Put maaf, aku lupa ngasih kabar. Aku lagi ngga enak badan...."

__ADS_1


"Apa???" Teriakan Putri memotong perkataan Tania. "Aku langsung kesana sama kak Jesi ya."


Tut tut. Panggilan terputus.


Ahh kebiasaan anak ini selalu aja main tutup telfon sendiri. Gumam Tania.


Tania kembali bergegas untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ia harus menyelesaikan semuanya sebelum Putri datang.


Kreeek. Langkah Tania terhenti saat melewati ruang kerja Noah. Seseorang keluar dari ruangan itu.


"Sekertaris Lee kok bisa ada di rumah." Tania bertanya heran karna setahunya sekertaris itu sudah pergi ke kantor bersama Noah tadi pagi. Tapi kapan dia masuk ke rumah ini kok aku ngga tau. Tania bergumam dalam hati.


"Ia saya sedang mengambil berkas yang ketinggalan." Sekertaris Lee menjawab dengan gelagapan.


"Oooh.." Menjawaab singkat. Lagian apa peduli Tania.


"Nona kenapa." Sekertaris Lee tiba tiba memegang tangan Tania yang terluka tadi. Tania terperanjat dan langsung menarik tangannya. Wajah sang sekertaris langsung ciut.


"Saya tidak apa apa permisi." Pergi meninggalkan sekrtaris Lee yang masih mematung di tempatnya tadi. Sekilas Tania melengong melihat sekertaris itu yang masih memperhatikannya sebelum ia benar benar menghilang dari pandangan sekertaris itu.

__ADS_1


Aku merasa tatapannya kali ini agak berberda ya. Badan Tania menggeliat merasakan bulu kudu nya berdiri.


Bersambung


__ADS_2