Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Sayang


__ADS_3

Tania sedang memasak untuk makan malam. Meski dia tahu Noah akan ragu memakannya. Tania memasak ikan bakar pedas dan ayam goreng serta sayur bening.


Noah baru saja pulang. Langkahnya terhenti saat hendak manaiki tangga ketika mencium aroma masakan dari dapur. Penasaran. Ia pun melangkah kedapur. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Tania yang sibuk memasak.


"Kenapa dia manis sekali." Eh mikir apa aku. Noah mnggoyangkan kepalanya berusaha mengusir pikirannya.


Noah naik kelantai dua menuju kamarnya. Ia pun segera mandi untuk menyegarkan diri setelah seharian bekerja.


Beberapa menit kemudian Noah sudah menyelesaikan mandinya. Memakai pakain santai. Menyisir rambutnya yang menambah ketampanannya.


Ia turun kelantai satu dan menghampiri Tania yang masih sibuk memasak. Noah tampak terpesona dengan cara istrinya memasak. Di matanya Tania terlihat begitu manis sekarang. Tapi dengan cepat ia membuang pikiran itu.


"Kau sedang apa." Membuat Tania terperanjak kaget.


Bisa tidak jangan membuat orang jantungan. Dan kemana matamu kau tidak lihat akau sedang memasak. Memaki dalam hati sambil mengelus dadanya sendiri mengatur nafas.


"Saya masak tuan untuk makan malam." Sedikit jengkel.


Tania sudah menyelesaikan masakannya dan mulai menghidangkan makanannya di meja makan.


Pandangan mata Noah menatap tajam disetiap gerak gerik Tania. Seperti mengatakan awas saja kalau masakanmu asin lagi habis kau. Begitu Tania menterjemahkan sorot mata Noah.

__ADS_1


"Silahkan tuan." Tania menarik kursi dan mempersilahkan Noah duduk. Dia sendiri duduk di samping Noah.


Tania mengambil sedikit nasi dan ikan bakar dan meletakkannya di atas piring milik Noah.


"Silahkan tuan." Ucapnya sekali lagi. Tania menunggu Noah mencicipi masakannya. Ia merasa takut sendiri jika makanan itu tidak enak mungkin Noah akan menyemburkan makanan itu lagi ke wajahnya.


"Enak sayang." Cicipan pertama. Tania kaget. Tapi bukan karna makanannya melainkan Noah memanggilnya dengan sebutan sayang. Noah juga tidak sadar mengatakan kata itu tadi.


"Heh jangan besar kepala, aku tidak sengaja mengatakannya." Mengusir canggung yang menyelimuti perasaannya.


Air muka Tania berubah pias. Ia sudah berharap tadi. Tapi dengan cepat ia tersenyum mengusir kekecewaannya.


Mereka kemudian menikmati makan malam bersama tanpa sepatah katapun. Tapi kemudian Tania ingat sesuatu.


***


Noah duduk bersandar di kasurnya. Sementara Tania duduk di sofa sambil melihat lihat ponselnya.


"Kau mau bertanya apa."


Eh kenapa tiba tiba bertanya. Tadi diam saja.

__ADS_1


"Anu itu hmm sebentar." Tania berjalan keluar kamar meninggalkan Noah.


"Hei mau kemana kau?" Teriakan Noah menggema kesekeliling ruangan. Namun tidak menghentikan langkah Tania. Ia menuju ruang tivi mengambil figura foto dan kembali kekamarnya.


"Ini." Menyerahkannya langsung pada Noah. Noah menerimanya dengan tangan kirinya. "Siapa?"


"Kau dapat darimana." Wajah Noah berubah jengkel bercampur rasa malu. Matanya menatap tajam.


"Dari laci lemari diruang tivi." Menjawab takut takut.


aku menyimpannya di sana ya. Noah.


"Kau baru sehari aku mengurungmu kau sudah berani mengacak acak rumahku ya." Nada suara Noah sudah naik satu oktaf. Tania yang duduk di sampingnya langsung di buat berdiri.


"Tidak! Bukan begitu." Tania menggeleng cepat.


Kenapa dia sampai sekesal itu ya. Aku kan cuma bertanya. Salahnya di mana coba.


"Kau benar benar tidak tahu siapa dia?" Suara Noah sudah kembali datar.


Tania menggeleng.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2