
Seminggu menikah Tania merasa bosan hanya berdiam di rumah saja. Hari harinya hanya di temani tv dan ponselnya. Guling gulingan di sofa tempat tidurnya setelah merasa lelah menonton tv. Tubuh nya yang memang biasa bekerja merasa lelah ketika tidak melakukan aktivitas apapun.
Akhir pekan Noah tidak bekerja. Ia sedang sibuk dengan ponselnya sambil setengah berbaring di tempat tidur. Sementara Tania duduk di sofa. Ia bingung mau berbuat apa. Takut jika melakukan kesalahan lagi.
"Tuan mau saya buatkan teh" Tania mencoba mencairkan suasana yang kaku itu.
"Mau meracuniku lagi." Noah menatap tajam.
"Tidak tuan." Tania semakin kikuk.
"Ambilkan aku air dingin." Nada suara Noah terdengar datar.
"Hah." Mata Tania membulat. Ia sedang benar benar kikuk sekarang.
"Kenapa kau melotot. Kau benar benar mau aku congkel matamu itu."
"Tidak tuan. Saya ambilkan sekarang."
__ADS_1
Secepat kilat Tania kembali dari dapur mengambil air di kulkas. Tania menyerahkan gelas yang sudah di isinya dengan air dingin. Noah meminum airnya sampai habis. Gelas kosong itu di letakannya di atas meja samping tempat tidur.
Apa aku bicara sekarang saja ya. Tania mengigit bibirnya.
"Tuan apa boleh saja bekerja." Suara Tania bergetar. Noah meliriknya sekilas.
"Bekerja di mana"
"Toko bunga milik sahabat saya. Putri."
"Terserah kau saja. Asal pulang tepat waktu." Noah tak begitu peduli.
"Ada apa?" Noah duduk di sofa di ruang kerjanya. Sementara Lee di hadapannya duduk dengan raut muka seriusnya.
"Saya sudah mendapat informasi tentang Nona Tania." Noah menatapnya meminta penjelasan lebih lanjut. "Nona Tania adala gadis yang baik tuan. Orang tuanya meninggal tiga tahun lalu. Dan semenjak itu nona tinggal di rumah Pak Edi. Tapi di sana kehidupan nona juga tidak baik baik saja dia di perlakukan seperti pelayan oleh Bu Tanti dan juga Sarah putri mereka. Dan nona juga di paksa menikah tuan. Sepertinya keluarga itu sesang merencanakan sesuatu." Lee menghentikan kata katanya dan menyerahkan sebuah map pada Noah.
"Apa ini." Noah menerima map itu dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan." Suara Lee tersengar getir. Noah mengernyitkan alisnya.
"Itu data data perusahaan milik pak Edi. Di sana di jelaskan bahwa perusahaan itu baik baik saja. Tidak pernah terjadi kebangkrukatan. itu adalah bagian dari rencana pak Edi."
Brukkkk. Noah menggebrak meja di hadapannya. Penjelasan Lee sudah membuatnya mengerti dengan apa yang terjadi.
"Jadi dia benar benar menipuku? Dan dia memanfaatkan Tania agar bisa masuk kekeluargaku begitu. Aku tidak mau terkait hubungan keluarga dengannya. Tentang oerusahaan biarkan saja. Aku akan memikirkannya lagi nanti."
Lee mengangguk. Mengiyakan apa yang di sampaikan tuannya.
Noah menyandarkan kepalanya di sofa. Raut mukanya menunujukkan penyesalan sudah bersikap kasar pada Tania. Noah kembali teringat dengan kata katanya pada Tania dua hari yang lalu. Saat Tania tak sengaja menumpahkan air di atas berkas berkas kerjanya.
"Dasar wanita tidak berguna. Pekerjaan sepele begini saja tidak becus. Apa di otak mu itu isinya cuma uang eh. Sampai kau berani beraninya menipuku agar aku menikahimu. Dengar ya wanita murahan bahkan menatapmu aku jijik." Noah mencaci dengan perkataan menusuk. Noah masih terbayang bagaimana kristal kristal bening itu berjatuhan dipipi Tania.
Aku sudah keterlaluan padanya. Seharusnya aku bersabar sedikit saja untuk mengetahui kebenaran ini. Tapi dia benar benar wanita yang tegar. Meski aku telah menghinanya tapi dia masih bisa bersikap baik padaku.
Noah mendesah panjang. Ia sedang berpikir apa harus minta maaf pada Tania. Tapi untuk apa toh dia juga tidak mencintai Tania.
__ADS_1
Bersambung