
Tania dengan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Nafasnya terengah engah. Sesampai di depan kamar ia membuka pintu dan langsung menutupnya kembali dari luar. Ia berdiri di belakang pintu dengan dada berdebar debar. Jantungnya seakan hendak melompat keluar. Apa yang di lihatnya di dalam kamar sungguh membuat ia tak bisa menguasai diri.
"Apa yang kau lakukan." Noah kesal sendiri melihat tingkah Tania. Ada apa apa dengan gadis itu. Tania masih berdiri di tempatnya semula. Ia mengatur nafasnya.
"Hei bocah cepat masuk" Noah sudah berteriak. Pintu langsung terbuka. Tania berjalan sambil menunduk. Ia tak berani menatap Noah. Kenapa dia bertelanjang begitu sih gumam Tania dalam hati.
"Sini." Noah menjentikkan jarinya. Tania pun mendekat. "Angkat kepalamu."
Aku tidak mau tuan. Pakai baju mu dulu sana.
"Kau tidak dengar aku bilang apa." Noah makin kesal. Tania mendongakkan kepalanya. Matanya langsung bertemu dengan mata Noah. Membuat wajahnya makin bersemu.
"Maaf tuan." Ucap tania dengan terbata.
"Siapkan pakaianku." Perintah Noah sambil berkacak pinggang. Tania langsung masuk ke ruang ganti. Memilih sebentar pakaian yang di rasanya cocok. Lalu ia keluar dan menyerahkannya pada Noah. Noah menerimanya masih dengan raut muka masam.
"Kau tampak lebih tua dengan wajahmu itu tuan." Tania langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Bagaimana ia berani mengeluarkan kata kata seperti itu. Ia semakin merinding melihat tatapan Noah yang seakan melahapnya hidup hidup. Tanpa berkata kata ia langsung berlari keluar kamar meninggalkan Noah yang tampak semakin kesal mendengar kata kata Tania.
__ADS_1
---------
Noah sudah duduk di meja makan. Tania duduk di sampingnya. Menyerahkan piring yang berisi roti milik Noah. Sekaligus meletakan secangkir teh yang ia minta tadi. Tak lupa Tania juga menuangkan segelas air putih untuk Noah.
"Ini teh buatanmu?" Noah bertanya sambil matanya melirik teh buatan Tania. Tania mengangguk.
"Benar ini buatanmu."Noah mengulang pertanyaannya.
" i iya tuan."
"Awas kau kalau bohong." Noah meraih teh nya dan meminumnnya.
Noah tiba tiba menyemburkan teh itu dari mulutnya tak sengaja mengenai wajah Tania. Tania reflek berdiri karna kaget. Ia langsung membersihkan wajahnya menggunakan tanganya.
"Kau ingin meracuniku ya." Nada suara Noah langsung meninggi. Ia meminum air putihnya sampai habis. Membersihkan sisa teh dari mulutnya.
Tania masih kebingungan apa yang terjadi. Apa yang salah dengan tehnya. Biasanya ia membuat teh selalu enak. Apa dia sengaja. Kenapa tidak sekalian saja menyiramkan teh itu ke muka ku.
__ADS_1
"Kau minum tehnya." Tania tak bergeming ia seperti manekin saja. Masih bingung.
"Minum tehnya." Noah memukul meja membuat Tania terperanjat.
"Tania mengambil teh di hadapan Noah dan meminumnya." Matanya membulat sempurna. Asin. Tehnya asin.
"Habiskan." Tania menggantung tangannya yang hendak meletakkan teh ke atas meja.
Apa? Aku harus menghabiskannya.
"Itu hukuman atas kesalahanmu." Tania masih memegang tehnya. Ia tidak meminumnya. Bagaimana ia bisa menghabiskan teh dengan dua sendok garam yang ia masukkan tadi. Pasti karna aku tadi melamun gumam Tania.
"Cepat." Noah kembali berteriak. Tania langsung menelan semua teh yang masuk ke mulutnya. Pipinya serasa kembang kempis. Menahan rasa asin teh buatanya.
"Pak jum." Pelayan itu mendekat. " Aku berangkat. Selera makan ku hilang." Tania masih mematung. Sementara Noah melangkah keluar rumah di susul pak Jumi di belakangnya sambil membawakan tas milik Noah. Tania mengikuti langkah kaki Noah dengan matanya sampai pria itu menghilang dari pandangannya.
Tania beranjak kedapur. Ahhh bagaimana aku seceroboh ini gumamnya setelah melihat botol berisi garam di tempat ia membuat teh tadi.
__ADS_1
Bersambung